JAKARTA, PROJO.or.id — Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi menegaskan pentingnya menjaga persatuan nasional dan kerukunan antarpemimpin bangsa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat bersyukur atas hubungan baik antara Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden ke-8 Prabowo Subianto.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi Arie saat peringatan Harlah ke-12 PROJO di Kantor DPP PROJO, Pancoran, Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Menurut Budi Arie, hubungan baik antara Jokowi dan Prabowo merupakan modal penting untuk menjaga stabilitas nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia.
“Pak Jokowi dengan Pak Prabowo ini kan bagaimana sih, Presiden ketujuh dan Presiden kedelapan. Kalian harus bersyukur, berterima kasih bahwa pemimpin-pemimpin Indonesia ini akur,” ujar Budi Arie.
Ia menilai persatuan nasional tidak boleh dikorbankan akibat perbedaan kepentingan politik. Sebaliknya, seluruh elemen bangsa harus bersatu untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Persatuan nasional ini penting. Sesama anak bangsa sama-sama kita bersatu untuk menyelesaikan berbagai problematika dan permasalahan bangsa dan rakyat,” katanya.
Budi Arie juga mengingatkan bahwa tantangan kebangsaan dan kenegaraan saat ini tidak ringan. Karena itu, menurut dia, stabilitas dan persatuan menjadi kebutuhan penting.
PROJO Diminta Tetap Setia di Garis Rakyat
Dalam kesempatan tersebut, Budi Arie meminta seluruh jajaran PROJO, termasuk kader di Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap solid dan berada di tengah kepentingan rakyat.
Ia juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada masyarakat NTT yang terdampak bencana gempa tektonik.
“Untuk korban NTT kami sampaikan belasungkawa dan kesedihan yang mendalam karena memang bencana alam tektonik ini betul-betul membuat nasib rakyat, terutama di daerah bencana, sangat memprihatinkan,” ujar Budi Arie.
PROJO, lanjut dia, mendukung berbagai langkah pemerintah dan masyarakat dalam menangani dampak bencana, termasuk proses penyelamatan serta pemulihan masyarakat terdampak.
Ia juga menyinggung persoalan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Soroti Tata Kelola Program Makan Bergizi
Budi Arie turut memberikan pandangan mengenai pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran.
Menurutnya, peningkatan gizi masyarakat merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, pelaksanaan program harus disertai tata kelola yang baik.
“Makan bergizi itu penting, terutama peningkatan gizi, karena peningkatan gizi adalah peningkatan sumber daya manusia,” katanya.
Budi Arie menilai evaluasi perlu dilakukan apabila dalam pelaksanaan di lapangan ditemukan berbagai persoalan.
Ia menekankan bahwa program MBG harus benar-benar menyasar masyarakat yang membutuhkan, terutama wilayah dengan tingkat stunting dan kemiskinan tinggi.
“Perlu ada tata kelola yang baik yang tidak menyebabkan merosotnya kredibilitas program yang awalnya dan rencananya memang berguna untuk pemerataan gizi dan peningkatan gizi buat masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, kredibilitas menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan program pemerintah.
“Programnya harus kredibel. Kalau ada permasalahan di bawah, kita beresin,” tegasnya.
Hal serupa, kata Budi Arie, juga berlaku terhadap program-program pemerintah lainnya, termasuk pengembangan koperasi.
Ia berharap berbagai persoalan yang muncul dalam implementasi program dapat dicarikan solusi terbaik.
Tunggu Arahan Jokowi
Ditanya mengenai aktivitas politik PROJO ke depan, Budi Arie mengatakan organisasinya masih menunggu arahan dari Jokowi.
“Kita menunggu arahan dan perintah Pak Jokowi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa apabila Jokowi mengambil posisi sebagai ketua umum, PROJO akan mendukung arah politik yang ditetapkan mantan Presiden tersebut.
“Kalau Pak Jokowi jadi ketua umum, kita akan mendukung arah politik Pak Jokowi,” kata Budi Arie.
Budi Arie kembali menekankan bahwa kedekatan Jokowi dan Prabowo merupakan sesuatu yang seharusnya disambut positif, bukan dicurigai sebagai sumber konflik.
Menurut dia, jika para elite politik mampu menjaga kerukunan, masyarakat juga akan merasa lebih nyaman.
“Kalau elitnya rukun, rakyat suka. Rakyat itu suka kalau elitnya rukun. Jangan elitnya diadu domba,” tegasnya.
Ia pun mengajak masyarakat melihat kepemimpinan setiap presiden dalam konteks zamannya.
“Semua presiden itu pasti orang baik pada masanya. Tantangan bangsa ke depan memerlukan kepemimpinan. Karena itu kita harus dukung pemerintahan Prabowo-Gibran,” ujar Budi Arie.
Pemilu 2029 Masih Panjang
Terkait dinamika politik menuju Pemilu 2029, termasuk kemungkinan pasangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dengan Gibran Rakabuming Raka, Budi Arie meminta publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Menurutnya, perjalanan politik masih panjang sehingga berbagai kemungkinan masih dapat berubah.
“Waktunya nanti, jangan sekarang-sekarang. Politik masih jauh. Dinamikanya masih bisa terjadi,” katanya.
Budi Arie menegaskan PROJO terbuka berkomunikasi dengan seluruh kekuatan politik.
“Kalau PROJO kan berkomunikasi dengan semua pihak tanpa terkecuali. Kita tidak ada, tidak mau bergaul sama yang ini atau yang itu,” ujarnya.
Ia mengatakan prinsip PROJO adalah bekerja sama dengan siapa pun selama memiliki komitmen terhadap kepentingan rakyat.
“Selama setia di garis rakyat, kita akan bisa bekerja sama dengan siapa pun, kecuali mereka tidak setia terhadap rakyat. Pasti akan kita lawan,” tegas Budi Arie.
Dalam konteks itu, ia kembali mengajak seluruh kader PROJO menjaga soliditas organisasi sekaligus tetap menempatkan kepentingan rakyat sebagai garis perjuangan utama.***











