KEBUMEN, PROJO.or.id — Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan masyarakat agar tidak menghabiskan energi untuk persoalan-persoalan yang tidak perlu di tengah dunia yang semakin menghadapi tantangan kompleks.
Menurut Jokowi, ada sedikitnya tiga ancaman besar yang saat ini perlu menjadi perhatian bersama, yakni perubahan iklim, konflik geopolitik, dan disrupsi teknologi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pesan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).
“Dunia sekarang ini serba sulit. Banyak tantangan. Kalau kita menambahi urusan dengan hal-hal yang tidak perlu, rugi semua kita,” kata Jokowi.
Pesan itu dinilai relevan dengan kondisi dunia yang semakin tidak mudah diprediksi. Berbagai persoalan global kini memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia.
Ancaman Bukan Lagi Persoalan Jauh
Jokowi menjelaskan, perubahan iklim telah mengubah pola cuaca di berbagai belahan dunia. Fenomena panas ekstrem, hujan yang tidak menentu hingga banjir menjadi persoalan yang semakin sering terjadi.
Ia mencontohkan kondisi Eropa yang selama ini identik dengan cuaca dingin, tetapi kini menghadapi suhu panas ekstrem.
“Di Eropa yang biasanya dingin, sekarang panas. Hujan tidak jelas waktunya, sehingga yang terjadi banjir bandang,” ujar Jokowi.
Jokowi juga menyinggung bencana banjir di Nepal yang menurutnya menunjukkan bagaimana perubahan lingkungan dapat memunculkan risiko bencana yang sulit diprediksi.
“Yang baru-baru ini di Nepal baru saja banjir, yang tidak bisa diprediksi. Karena es mencair masuk ke lembah dan menerjang kampung-kampung di bawahnya,” katanya.
Karena itu, Jokowi mengajak masyarakat mengambil langkah konkret dari lingkungan terdekat, salah satunya melalui gerakan menanam pohon.
“Kita ini kan di Indonesia. Menanam pohon itu mudah, tumbuhnya mudah. Satu orang menanam satu, dua, tiga, empat,” kata Jokowi.
Konflik Negara Lain Bisa Berdampak ke Rakyat Indonesia
Ancaman kedua adalah konflik geopolitik. Jokowi mencontohkan perang Rusia-Ukraina yang berdampak terhadap harga komoditas pangan dunia.
Indonesia, meski tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, tetap dapat merasakan konsekuensinya.
“Kita yang tidak tahu-menahu, dulu waktu Rusia sama Ukraina perang, tahu-tahu harga gandum naik. Karena gandum itu berasal dari Rusia dan Ukraina yang banyak,” ujar Jokowi.
Hal serupa juga dapat terjadi akibat konflik di Timur Tengah yang berpengaruh terhadap harga minyak dunia.
Bagi Jokowi, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dunia saat ini saling terhubung. Konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia tetap dapat memengaruhi harga pangan, energi, perdagangan dan kehidupan masyarakat.
Karena itu, Indonesia membutuhkan stabilitas, ketahanan ekonomi dan politik serta kemampuan untuk menghadapi perubahan global.
AI dan Ancaman Disinformasi
Persoalan ketiga yang menjadi perhatian Jokowi adalah perkembangan teknologi AI.
Kemampuan AI berkembang sangat cepat dan telah mampu menghasilkan maupun meniru suara, gambar serta identitas seseorang.
“Sekarang ini yang namanya media sosial sudah ramai, kita mengendalikan sulit. Kita hadapi yang namanya artificial intelligence, namanya AI, yang bisa meniru suara, meniru gambar, meniru semuanya dari kita,” kata Jokowi.
Persoalannya, perkembangan teknologi tersebut bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kesiapan regulasi.
“Padahal aturannya belum ada. Inilah yang sangat akan menyulitkan hampir semua negara,” ujarnya.
Tantangan ini membutuhkan kecerdasan masyarakat dalam memilah informasi sekaligus kesiapan pemerintah dalam membangun tata kelola teknologi yang mampu melindungi masyarakat tanpa menghambat inovasi.
Jangan Habiskan Energi untuk Konflik yang Tidak Perlu
Di tengah tiga ancaman besar tersebut, pesan Jokowi agar masyarakat tidak menambah persoalan menjadi penting.
Bangsa Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertajam perbedaan dan mempertentangkan kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Ancaman perubahan iklim membutuhkan kerja bersama. Ketidakpastian geopolitik membutuhkan ketahanan nasional. Sementara perkembangan AI membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, regulasi dan literasi digital.
Semua itu membutuhkan energi bangsa yang besar.
Karena itu, perbedaan pandangan dalam kehidupan demokrasi seharusnya tidak berkembang menjadi konflik yang menguras perhatian publik dan menghambat kerja bersama.
Pesan Jokowi dari Kebumen pada akhirnya adalah ajakan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Indonesia tidak boleh kehilangan fokus.
Ketika dunia menghadapi perubahan iklim, perang dan disrupsi teknologi, bangsa Indonesia membutuhkan persatuan, ketenangan dan kerja nyata.
Jangan sampai energi bangsa justru habis untuk mempertajam konflik internal dan memperbesar persoalan yang sebenarnya tidak perlu.
Sebagaimana pesan Jokowi, “Kalau kita menambahi urusan dengan hal-hal yang tidak perlu, rugi semua kita.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menghadapi dunia yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan lebih banyak kerja sama dan lebih sedikit kegaduhan.***












