BANDUNG, PROJO.or.id – Suasana area kafe dan restoran samping kolam renang Hotel Horison Ultima Kota Bandung pada Jumat malam, 29 Mei 2026, terasa berbeda.
Di sela-sela momentum Konferensi Daerah (Konferda) DPD PROJO Jawa Barat yang berlangsung pada 29-30 Mei 2026, sekitar seratusan peserta dan peninjau Konferda Projo Jabar 2026 dari 27 kabupaten/kota berkumpul.
Tidak ada sekat protokoler yang kaku, yang ada justru kehangatan sebuah keluarga besar yang sedang merawat idealisme.
Momen santai ini dimanfaatkan betul oleh para kader grassroot untuk duduk satu meja, sharing, dan berdialog langsung dengan Ketua Umum PROJO, Budi Arie Setiadi, serta Sekretaris Jenderal, Freddy Alex Damanik, beserta jajaran pengurus DPP PROJO lainnya.

Dari Meja Kafe, Menyuarakan Suara Rakyat
Bukan sekadar obrolan kopi biasa, diskusi malam itu membedah berbagai persoalan riil yang dihadapi masyarakat bawah. Mulai dari implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN), program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga masa depan Koperasi Desa dan Kelurahan (Kopdeskel).
Bergantian, para pimpinan DPC Projo menyampaikan dinamika di daerah mereka masing-masing. Isu pertanian, geliat pariwisata pasca-pandemi, penguatan ekonomi lokal, hingga tantangan lingkungan hidup yang dihadapi warga Jawa Barat dikupas tuntas.
Dialog terbuka dan santai seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Bagi Budi Arie Setiadi, mendengar langsung keluhan dari bawah adalah “menu wajib” yang konsisten ia lakukan sejak menjabat sebagai Wakil Menteri Desa PDTT, Menteri Komunikasi dan Informatika, hingga saat mengemban amanah sebagai Menteri Koperasi.
“Kenapa ini harus terus dilakukan? Karena PROJO selalu setia di garis rakyat. Ukuran keberhasilan pembangunan itu sederhana: rakyat bahagia. Oleh karena itu, setiap standar keputusan PROJO di berbagai tingkatan harus selalu senapas dengan keinginan rakyat,” tegas Budi Arie di sela-sela diskusi.

Inspirasi dari Desa: Catatan Prestasi Sumedang
Kedekatan emosional antara DPP dan pengurus daerah begitu terasa dalam diskusi tersebut. Budi Arie dikenal sebagai sosok yang sangat aspiratif, tekun mendengar setiap keluhan, menyerap usulan, dan responsif menanggapi dinamika politik yang dijalankan para kader di daerah sejak PROJO pertama kali berdiri.
Dampak kepemimpinan yang turun ke bawah ini dirasakan langsung oleh para kader di lapangan. Salah satunya diungkapkan oleh Awandi Nopyan Sugiarta, Ketua DPC PROJO Kabupaten Sumedang sekaligus Kepala Desa Mekarjaya.
Awandi mengungkapkan rasa bangganya melihat rekam jejak dan kinerja Ketua Umum di jajaran kabinet. Prestasi dan totalitas Budi Arie dalam bekerja di pemerintahan diakui menjadi bahan bakar motivasi bagi dirinya untuk memimpin desa secara lebih profesional.
“Kinerja baik Budi Arie saat menjadi Menteri di era Jokowi sampai Prabowo itu menular ke daerah. Motivasi itu terbukti membawa Desa Mekarjaya meraih berbagai prestasi. Kami di bawah tertantang untuk bekerja lebih profesional demi rakyat,” ujar Awandi bangga.
Hingga larut malam, ruang diskusi lebih banyak dipenuhi oleh adu gagasan tentang bagaimana PROJO bisa berkontribusi lebih nyata bagi kemajuan bangsa ke depan.
Konferda PROJO Jabar 2026 bukan sekadar agenda konsolidasi organisasi di atas kertas. Lewat obrolan santai di sudut hotel Horison Ultima Bandung ini, PROJO kembali menegaskan khitahnya: bahwa kekuatan terbesar organisasi ini tidak berada di ruang-ruang rapat yang megah, melainkan pada kepekaan mendengar detak jantung rakyat di tingkat grassroot.***













Mohon untuk diperhatikan mengenai isu. Lingkungan dan ketahan pangan. Di lapangan banyak sekali alih fungsi lahan pertanian produktif di jadikan industri maulun perumahan. Di siai lain pemerintah prabowo gibran memaksimalkan peningkatan pangan/swasembada pangam di sisi lain lahan pesawahan yang ada di alihfungsikan. Kab. Bandung Jawabarat