JAKARTA, PROJO.or.id – Tujuh tahun lalu, tepatnya pada 17 September 2019, Presiden Ke-7 Joko Widodo turun langsung ke lapangan untuk meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Langkah cepat ini diambil guna memimpin penanganan krisis asap secara langsung serta mengevaluasi efektivitas pemadaman titik api yang membakar kawasan lahan gambut.
Dengan menumpangi helikopter Super Puma milik TNI AU, Presiden Ke-7 Jokowi mendarat di Desa Merbau, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan.
Di lokasi tersebut, Jokowi menyaksikan secara dekat hamparan lahan gambut yang hangus terbakar, tempat ratusan personel gabungan TNI, Polri, dan BPBD berjibaku menaklukkan si jago merah yang telah membara lebih dari satu bulan.
Rangkaian kunjungan kerja ini melingkupi dua lokasi terdampak parah, yakni Desa Merbau di Kabupaten Pelalawan serta Desa Rimbo Panjang di Kabupaten Kampar. Di tengah kepulan asap, Presiden menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri, Panglima TNI, Kapolri, dan pemerintah daerah setempat.
Dari hasil peninjauan dan evaluasi di lapangan, ditemukan fakta memprihatinkan bahwa sebagian besar karhutla yang terjadi merupakan aksi yang disengaja dan terorganisasi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
View this post on Instagram
Dalam arahannya, Presiden Ke-7 Jokowi waktu itu menekankan pentingnya pergeseran fokus strategi nasional menuju penguatan pencegahan sejak dini.
Penanganan karhutla yang terlambat bukan hanya menguras anggaran dan energi secara luar biasa, tetapi juga membawa dampak buruk bagi kesehatan dan perekonomian masyarakat luas.
“Pencegahan itu lebih efektif. Tidak membutuhkan biaya banyak. Tapi kalau sudah kejadian seperti kita lihat sekarang ini, ini sudah kerja luar biasa,” tegas Presiden Ke-7 Jokowi saat memberikan arahan di lokasi.
Momen historis ini menjadi cermin nyata dari kepemimpinan Presiden Ke-7 Jokowi yang selalu mengedepankan aksi nyata di lapangan. Kunjungan tersebut sekaligus melandasi komitmen kuat pemerintah dalam membangun sistem penanggulangan karhutla yang lebih responsif, terintegrasi, dan berfokus penuh pada upaya pencegahan di masa-masa selanjutnya.***











