JAKARTA, 26 Agustus 2026 – Kami menghormati pernyataan resmi DPP PSI mengenai posisi Saudara Budi Arie Setiadi. Kalau PSI menyatakan bahwa Budi Arie bukan anggota, bukan pengurus, dan bukan bagian dari PSI, itu adalah sikap internal PSI yang tentu kami hormati dan tidak pernah menjadi urusan PROJO.
Namun demikian, kami perlu meluruskan satu hal.
PROJO tidak pernah menyeret-nyeret nama PSI.
PROJO dan PSI adalah dua organisasi yang berbeda, dengan struktur, kewenangan dan ruang perjuangan politik masing-masing. Tetapi kami memiliki satu kedekatan historis dan politik yang tidak perlu disangkal, yaitu sama-sama pernah dan tetap berada dalam barisan pendukung perjuangan politik Pak Joko Widodo.
Karena itu, bagi PROJO, PSI adalah saudara dalam perjuangan, bukan lawan politik.
Ketika PROJO menyampaikan pandangan mengenai masa depan politik Pak Jokowi, termasuk mengusulkan agar Pak Jokowi menjadi Ketua Umum PSI, itu bukan berarti PROJO mencampuri urusan internal PSI. Kami tetap menghormati mekanisme di PSI, kami menghormati Mas Kaesang Ketum PSI dan seluruh jajaran pengurus DPP PSI maupun anggota PSI seluruh Indonesia.
Itu adalah aspirasi politik PROJO sebagai organisasi pendukung Pak Jokowi, dan kami juga melihat dinamika di masyarakat yang menginginkan Pak Jokowi jadi Ketum PSI, termasuk hasil survey survey belakangan ini.
Kami justru sedang memberikan pandangan mengenai figur yang menurut kami memiliki kapasitas, pengalaman, rekam jejak dan basis politik yang kuat untuk membawa PSI menjadi partai politik yang lebih besar.
PROJO juga pernah melakukan hal yang sama ketika mengusulkan dan mendorong PDIP cq Ibu Megawati agar mencalonkan Pak Jokowi menjadi Calon Presiden RI tahun 2014, dan Puji Tuhan Alhamdulillah, perjuangan PROJO dan seluruh pendukung Pak Jokowi kala itu berhasil.
Apakah PSI menerima atau menolak usulan tersebut, sepenuhnya merupakan hak PSI.
Jadi jangan dibalik. Mengusulkan bukan berarti mencampuri. Memberikan pandangan bukan berarti mengambil alih kewenangan.
PROJO tidak pernah mengatakan bahwa PROJO menentukan siapa Ketua Umum PSI. Tidak pernah.
Yang kami katakan adalah: kami mengusulkan Pak Jokowi karena itu yg menjadi aspirasi banyak kalangan di akar rumput.
Kalau PSI punya pandangan berbeda, silakan. Itu hak politik PSI dan kami menghormatinya.
Begitu pula ketika ada pihak yang menyampaikan pandangan mengenai PROJO, kami tidak serta-merta mengatakan bahwa pihak tersebut sedang mencampuri urusan rumah tangga PROJO. Dalam demokrasi, perbedaan pandangan adalah hal biasa.
Kami juga ingin menegaskan bahwa PROJO tidak pernah mengatasnamakan PSI dalam menyampaikan sikap politik PROJO.
Kalau PROJO berbicara, ya atas nama PROJO.
Dan kalau Pak Budi Arie berbicara, tentu itu adalah tanggung jawab Pak Budi Arie sebagai pribadi atau dalam kapasitas organisasi yang memang sedang dijalankannya, kalau Budi Arie berbicara dan menyampaikan sesuatu sebagai Ketua Umum PROJO, seperti pernyataannya yang viral beberapa hari ini, tentu itu sudah melalui kajian dan diskusi internal PROJO yang intens serta melihat dinamika serta peristiwa politik yang terjadi.
Karena itu, kami tidak melihat ada alasan untuk mempertentangkan PROJO dengan PSI.
Mengenai berbagai pernyataan yang diarahkan kepada Pak Budi Arie, termasuk tudingan bahwa beliau sedang memainkan politik tertentu, kami serahkan kepada publik untuk menilai. PROJO tidak ingin masuk ke dalam perang personal.
Kami lebih memilih bicara tentang gagasan daripada menyerang pribadi.
PROJO juga tidak sedang mencari musuh baru.
Musuh politik kita bukan sesama relawan atau sesama pendukung Pak Jokowi.
PROJO tetap menghargai PSI sebagai bagian dari dinamika politik yang berkembang dan berharap hubungan baik antara kelompok-kelompok pendukung Pak Jokowi tetap terjaga.
Kami punya sejarah panjang bersama dalam mendukung Pak Jokowi. Jangan karena perbedaan pandangan politik hari ini, kemudian sejarah itu kita hapus begitu saja.
Dan mengenai pernyataan bahwa PROJO bukan singkatan dari Pro Jokowi, itu juga bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan secara emosional. Nama PROJO adalah PROJO. Tetapi sejarah perjuangan PROJO sebagai organisasi relawan pendukung Joko Widodo juga merupakan fakta yang tidak perlu dihapus dari ingatan publik. Tapi kami cuma mengingatkan PSI juga Pro Jokowi, tapi namanya tidak harus PROJO, relawan lain juga Pro Jokowi, tapi namanya bukan PROJO juga, ada ribuan nama lain sesama pendukung Jokowi, demikian juga PROJO, secara akta (AD/ART), namanya memang hanya “PROJO” bukan Pro Jokowi, tapi apakah PROJO adalah Pro Jokowi, saya rasa kami tidak perlu menjawab, biar jejak sejarah yang menjawab dan membuktikan.
Kami tidak membutuhkan polemik soal nama.
Yang lebih penting adalah apa yang sudah diperjuangkan dan apa yang akan kami perjuangkan ke depan.
Jadi pesan kami sederhana:
PSI adalah saudara. PROJO adalah saudara. Sama-sama punya rumah masing-masing. Jangan jadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
PROJO akan tetap menyampaikan aspirasi politiknya secara terbuka.
Kami mengusulkan Pak Jokowi menjadi Ketua Umum PSI karena kami percaya Pak Jokowi memiliki kapasitas untuk membawa PSI menjadi kekuatan politik yang lebih besar.
Tetapi keputusan akhirnya tetap berada di tangan PSI.
Kami menyampaikan usulan, bukan mengambil keputusan.
Dan bagi PROJO, hubungan baik dengan PSI jauh lebih penting daripada polemik sesaat.
PROJO tetap setia di garis rakyat, tetap menghormati demokrasi, dan tetap menghargai saudara-saudara seperjuangan.***
Freddy Alex Damanik
Sekretaris Jenderal DPP PROJO
Setia di Garis Rakyat


![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-350x250.jpeg)









