JAKARTA, PROJO.or.id – Pengamat politik Rocky Gerung menilai pernyataan Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi terkait kemungkinan masa pemerintahan Prabowo Subianto tidak berlangsung hingga 2029 bukanlah sebuah pesan politik resmi atau keputusan organisasi. Menurut Rocky, pandangan tersebut merupakan hasil pembacaan akademis terhadap situasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Rocky menjelaskan terdapat perbedaan mendasar antara pesan politik organisasi dan kesan personal berbasis pembacaan situasi. Keputusan atau pesan politik formal suatu organisasi selalu bersumber dari mekanisme resmi seperti rapat, sementara pandangan yang disampaikan Budi Arie lahir dari proses menangkap dinamika dan persepsi publik.
“Kayaknya bukan pesan, itu kesan doang. Kalau pesan itu hasil rapat, tapi ini kan kesan. Di PROJO banyak orang terdidik yang berupaya memanfaatkan metodologi dalam membaca keadaan,” ujar Rocky Gerung.
Lebih lanjut, Rocky menilai Budi Arie memiliki kapasitas metodologis dalam menganalisis arah perkembangan politik. Latar belakangnya sebagai akademisi sekaligus politisi membuatnya mampu melihat momentum serta kondisi riil di lapangan secara objektif.
“Saya lihat Budi Arie mengucapkan sesuatu yang dia baca secara akademis. Walaupun dia akademisi, dia juga politisi. Semua politisi pasti melihat momentumnya apa, kondisinya bagaimana, dan keputusannya ke arah mana,” jelasnya.
Rocky juga menegaskan bahwa apa yang disampaikan Budi Arie tidak bersumber dari imajinasi pribadi, melainkan sintesis dari berbagai arus informasi dan pandangan masyarakat luas, termasuk diskursus yang ramai dibahas di ruang digital.
“Itu bukan sekadar imajinasi sebetulnya, tapi persepsi yang dia kumpulkan dari pandangan publik, termasuk pandangan dari para podcaster,” pungkas Rocky.***









