MAMUJU, PROJO.or.id – Di tengah riuh polemik politik dan hukum yang berkembang di Jakarta, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tetap menjalankan agenda kunjungan kerja ke Sulawesi Barat (Sulbar), Senin (2/11/2026).
Kehadiran Gibran di sejumlah daerah di Sulbar disambut hangat warga. Masyarakat tampak antusias menyambut kedatangannya, mulai dari menyapa, berjabat tangan, hingga mengabadikan momen bersama orang nomor dua di Indonesia tersebut.
Kunjungan ini memperlihatkan sisi lain dari dinamika politik nasional. Ketika perdebatan mengenai dokumen pendidikan dan berbagai dorongan politik terhadap Gibran terus bergulir di Jakarta, ia tetap menjalankan agenda pemerintahan dengan turun langsung menemui masyarakat.
Di Mamasa, Gibran meninjau kondisi SMAN 1 Mamasa yang mengalami kerusakan. Ia juga mengunjungi RSUD Kondosapata dan menyambangi pasar untuk melihat aktivitas masyarakat serta mendengarkan persoalan yang dihadapi warga.
Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Mamuju. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah kunjungan ke SDN Samak. Akses menuju sekolah tersebut cukup sulit sehingga Gibran harus menggunakan sepeda motor trail bersama rombongan pengamanan.
Hujan yang turun tidak menghentikan langkahnya. Gibran tetap berjalan menuju lokasi dan menyapa warga yang menyambut kedatangannya.
Kunjungan ke sekolah tersebut menjadi bagian dari upaya melihat langsung kondisi fasilitas pendidikan di daerah, termasuk tantangan akses dan kebutuhan perbaikan infrastruktur.
Selain pendidikan dan kesehatan, Gibran juga berdialog dengan petani kakao di Mamuju. Dialog tersebut menjadi kesempatan untuk mendengar aspirasi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor perkebunan.
Dalam rangkaian kegiatan itu, Gibran turut menghadiri perayaan 100 tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang (IMTK). Kehadirannya tidak hanya menjadi bagian dari agenda kenegaraan, tetapi juga momentum untuk menghargai perjalanan sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat setempat.
Di hadapan masyarakat, Gibran menyampaikan dua pantun yang mengangkat pesan perdamaian dan toleransi.
“Dari Kalumpang terpancar damai, untuk Indonesia aman sejahtera,” ucapnya.
Ia kemudian melanjutkan dengan pantun, “100 tahun Injil masuk Kalumpang, imannya tumbuh, toleransinya matang.”
Gibran juga mencoba menyapa masyarakat menggunakan bahasa lokal. Ia sempat meminta maaf apabila pengucapannya belum sempurna karena baru pertama kali berkunjung ke wilayah tersebut.
Dalam kesempatan itu, Gibran menyampaikan salam hangat Presiden Prabowo Subianto kepada masyarakat Sulawesi Barat. Ia juga menekankan bahwa perayaan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, melainkan juga menyangkut kebudayaan, tradisi, serta upaya menjaga alam.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, Gibran menandatangani prasasti dan melakukan penanaman bibit pohon mangga.
Sambutan masyarakat sepanjang kunjungan menjadi gambaran interaksi langsung antara pejabat negara dan warga di daerah. Namun, lebih dari sekadar suasana penyambutan, kunjungan kerja tersebut membawa pesan penting mengenai kehadiran pemerintah dalam melihat persoalan masyarakat secara langsung.
Kerusakan sekolah, kebutuhan fasilitas kesehatan, akses wilayah, hingga persoalan petani merupakan isu konkret yang membutuhkan perhatian dan tindak lanjut pemerintah.
Di tengah berbagai polemik politik, agenda seperti ini mengingatkan bahwa pekerjaan pemerintahan tidak boleh berhenti pada perdebatan di ruang publik. Masyarakat di daerah tetap menunggu solusi atas persoalan sehari-hari yang mereka hadapi.
Bagi warga Mamasa dan Mamuju, kunjungan Wakil Presiden menjadi kesempatan menyampaikan aspirasi secara langsung. Sementara bagi pemerintah, momentum tersebut semestinya menjadi pintu masuk untuk memastikan persoalan yang ditemukan di lapangan ditangani melalui kebijakan dan program yang nyata.***











