DALAM panggung politik Indonesia, Jokowi barangkali adalah salah satu figur yang paling kontradiktif jika dilihat dari rasio antara jumlah serangan dan ketahanan politiknya.
Lini masa media sosialnya selama bertahun-tahun dipenuhi oleh narasi PKI, anti-Islam, presiden boneka, hingga isu ijazah palsu. Di era disinformasi yang masif, serangan semacam ini jamak menumbangkan reputasi banyak politisi dunia karena memicu kepanikan atau reaksi defensif yang keliru.
Namun, daya pikat politik Jokowi justru terletak pada reaksi yang tidak ada. Ketika diserang, ia kerap memilih untuk “diam”, tersenyum, atau merespons dengan guyonan ringan.
Bagi musuh politiknya, diamnya Jokowi sering dicap sebagai bentuk kelemahan atau ketidakmampuan berdebat.
Namun, sejarah mencatat strategi ini justru mematikan. Dengan tidak memberikan panggung atau reaksi emosional, serangan-serangan tersebut sering kali menguap dengan sendirinya, atau bahkan berbalik menciptakan rasa simpati dari masyarakat.
Tingkat kepuasan publik (approval rating) yang tetap tinggi di akhir masa jabatannya menjadi bukti empiris bahwa masyarakat lebih menghargai “ketenangan” dibanding “ledakan emosi”.
Apakah Jokowi Kaum Stoa?
Untuk menjawab apakah Jokowi adalah seorang “Stoik”, kita perlu membedah prinsip utama Stoikisme—filosofi Yunani-Romawi kuno tentang bagaimana menjaga kedamaian mental di tengah kekacauan.
Prinsip paling mendasar dari Stoikisme adalah Dikotomi Kendali (Dichotomy of Control):
- Ada hal-hal yang di bawah kendali kita (pikiran, persepsi, tindakan, dan respons kita sendiri).
- Ada hal-hal yang di luar kendali kita (opini orang lain, reputasi, cuaca, tindakan musuh, dan hasil akhir).
Jika kita mengandalkan kriteria ini, manifestasi perilaku Jokowi sangat mencerminkan seorang Stoik.
1. Fokus pada Apa yang Bisa Dikerjakan (Kendali Diri)
Seorang Stoik tidak akan membuang energi untuk menghentikan orang lain membencinya, karena itu di luar kendalinya.
Di tengah makian, Jokowi tetap fokus mengejar proyek infrastruktur: jalan tol, bendungan, pelabuhan, hingga hilirisasi industri.
Ini adalah sikap Stoik yang sangat murni: Fokus pada kerja nyata (tindakan sendiri) dan biarkan kebisingan di luar berjalan sebagaimana mestinya.
2. Menolak Menjadi Korban Persepsi (Amor Fati)
Filsuf Stoik Marcus Aurelius pernah menulis: “Hapus persepsimu, maka keluhanmu akan hilang.”
Jokowi tampaknya memiliki tameng mental yang serupa. Serangan yang menyerang kehormatan pribadinya tidak ia masukkan ke dalam hati sebagai penderitaan, melainkan sebagai “realitas politik” yang memang harus dihadapi. Ia tidak membiarkan emosinya didikte oleh para pengkritiknya.
Namun, Apakah Ini Stoikisme atau Javanese Stoicism?
Meskipun perilakunya sangat Stoik, akar dari kesabaran Jokowi kemungkinan besar bukan berasal dari membaca buku Epictetus atau Seneca, melainkan dari internalisasi budaya Falsafah Jawa.
Dalam budaya Jawa, ada konsep yang sangat mirip dengan Stoikisme:
- ”Sabar narima“: Menerima kenyataan dengan lapang dada tanpa kehilangan arah.
- ”Memayu hayuning bawana“: Menjaga kedamaian diri dan keselarasan dunia.
- ”Wong sabar rejekine jembar“: Keyakinan bahwa ketenangan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik pada akhirnya.
- ”Menang tanpa ngasorake“: Menang tanpa harus merendahkan atau mengamuk pada lawan.
Ada juga prinsip komunikasi “Semu”, di mana seorang pemimpin Jawa pantang menunjukkan emosi meledak-ledak di depan publik (perbawa). Kemarahan atau kepanikan dianggap sebagai tanda runtuhnya kewibawaan dan kontrol diri.
***
Jadi, apakah Jokowi kaum Stoa? Secara praktis, ya.
Respons emosional Jokowi yang stabil—sebagaimana yang mulai disadari oleh mantan pengkritiknya melalui pendekatan emotional intelligence—adalah bentuk nyata dari Stoikisme yang hidup dalam realitas politik modern.Baik itu bersumber dari Stoikisme Barat atau laku priyayi Jawa, hasilnya sama: Ketenangan adalah senjata politik terbaik.
Di era media sosial yang bising, di mana politisi lain mudah terprovokasi, mengamuk, dan kehilangan kendali, Jokowi membuktikan bahwa kekuatan tertinggi seorang pemimpin sering kali bukan terletak pada seberapa keras ia bisa memukul balik, melainkan pada seberapa kuat ia bisa berdiri tegak, tetap tenang, dan terus berjalan di tengah badai.***












