• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
5 Juni 2026
in Sosok
Waktu Baca: 3 menit
A A
0
Belajar Javanese Stoicism dari Jokowi: Cara Elegan Menghadapi Pembenci

Jokowi Foto: Getty Images

DALAM panggung politik Indonesia, Jokowi barangkali adalah salah satu figur yang paling kontradiktif jika dilihat dari rasio antara jumlah serangan dan ketahanan politiknya.

Lini masa media sosialnya selama bertahun-tahun dipenuhi oleh narasi PKI, anti-Islam, presiden boneka, hingga isu ijazah palsu. Di era disinformasi yang masif, serangan semacam ini jamak menumbangkan reputasi banyak politisi dunia karena memicu kepanikan atau reaksi defensif yang keliru.

​Namun, daya pikat politik Jokowi justru terletak pada reaksi yang tidak ada. Ketika diserang, ia kerap memilih untuk “diam”, tersenyum, atau merespons dengan guyonan ringan.

​Bagi musuh politiknya, diamnya Jokowi sering dicap sebagai bentuk kelemahan atau ketidakmampuan berdebat.

KabarLainnya

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

Budi Arie Setiadi: Dari Ruang Redaksi ke Kabinet Negara

Namun, sejarah mencatat strategi ini justru mematikan. Dengan tidak memberikan panggung atau reaksi emosional, serangan-serangan tersebut sering kali menguap dengan sendirinya, atau bahkan berbalik menciptakan rasa simpati dari masyarakat.

Tingkat kepuasan publik (approval rating) yang tetap tinggi di akhir masa jabatannya menjadi bukti empiris bahwa masyarakat lebih menghargai “ketenangan” dibanding “ledakan emosi”.

​Apakah Jokowi Kaum Stoa?

​Untuk menjawab apakah Jokowi adalah seorang “Stoik”, kita perlu membedah prinsip utama Stoikisme—filosofi Yunani-Romawi kuno tentang bagaimana menjaga kedamaian mental di tengah kekacauan.

​Prinsip paling mendasar dari Stoikisme adalah Dikotomi Kendali (Dichotomy of Control):

  • ​Ada hal-hal yang di bawah kendali kita (pikiran, persepsi, tindakan, dan respons kita sendiri).
  • ​Ada hal-hal yang di luar kendali kita (opini orang lain, reputasi, cuaca, tindakan musuh, dan hasil akhir).

​Jika kita mengandalkan kriteria ini, manifestasi perilaku Jokowi sangat mencerminkan seorang Stoik.

​1. Fokus pada Apa yang Bisa Dikerjakan (Kendali Diri)

​Seorang Stoik tidak akan membuang energi untuk menghentikan orang lain membencinya, karena itu di luar kendalinya.

Di tengah makian, Jokowi tetap fokus mengejar proyek infrastruktur: jalan tol, bendungan, pelabuhan, hingga hilirisasi industri.

Ini adalah sikap Stoik yang sangat murni: Fokus pada kerja nyata (tindakan sendiri) dan biarkan kebisingan di luar berjalan sebagaimana mestinya.

​2. Menolak Menjadi Korban Persepsi (Amor Fati)

​Filsuf Stoik Marcus Aurelius pernah menulis: “Hapus persepsimu, maka keluhanmu akan hilang.”

Jokowi tampaknya memiliki tameng mental yang serupa. Serangan yang menyerang kehormatan pribadinya tidak ia masukkan ke dalam hati sebagai penderitaan, melainkan sebagai “realitas politik” yang memang harus dihadapi. Ia tidak membiarkan emosinya didikte oleh para pengkritiknya.

​Namun, Apakah Ini Stoikisme atau Javanese Stoicism?

​Meskipun perilakunya sangat Stoik, akar dari kesabaran Jokowi kemungkinan besar bukan berasal dari membaca buku Epictetus atau Seneca, melainkan dari internalisasi budaya Falsafah Jawa.

​Dalam budaya Jawa, ada konsep yang sangat mirip dengan Stoikisme:

  • ​”Sabar narima“: Menerima kenyataan dengan lapang dada tanpa kehilangan arah.
  • ​”Memayu hayuning bawana“: Menjaga kedamaian diri dan keselarasan dunia.
  • ​”Wong sabar rejekine jembar“: Keyakinan bahwa ketenangan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik pada akhirnya.
  • ​”Menang tanpa ngasorake“: Menang tanpa harus merendahkan atau mengamuk pada lawan.

​Ada juga prinsip komunikasi “Semu”, di mana seorang pemimpin Jawa pantang menunjukkan emosi meledak-ledak di depan publik (perbawa). Kemarahan atau kepanikan dianggap sebagai tanda runtuhnya kewibawaan dan kontrol diri.

​***

​Jadi, apakah Jokowi kaum Stoa? Secara praktis, ya.

​Respons emosional Jokowi yang stabil—sebagaimana yang mulai disadari oleh mantan pengkritiknya melalui pendekatan emotional intelligence—adalah bentuk nyata dari Stoikisme yang hidup dalam realitas politik modern.Baik itu bersumber dari Stoikisme Barat atau laku priyayi Jawa, hasilnya sama: Ketenangan adalah senjata politik terbaik.

​Di era media sosial yang bising, di mana politisi lain mudah terprovokasi, mengamuk, dan kehilangan kendali, Jokowi membuktikan bahwa kekuatan tertinggi seorang pemimpin sering kali bukan terletak pada seberapa keras ia bisa memukul balik, melainkan pada seberapa kuat ia bisa berdiri tegak, tetap tenang, dan terus berjalan di tengah badai.***

Tags: Javanesse SoicismJoko WidodoJokowiStoicismStoikisme
Share12Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

Kabar Selanjutnya

Dari Pasar Terapung ke Ekonomi Kreatif: Saatnya Banua Menjual Cerita, Bukan Sekadar Produk

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama
Sosok

Langkah Tangguh Sang ‘Insinyur’ Muda: Jejak Jokowi Menaklukkan Atap Sumatra Bersama Mapala Silvagama

5 Juni 2026
Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik
Sosok

Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

13 Maret 2026
Budi Arie Setiadi: Dari Ruang Redaksi ke Kabinet Negara
Sosok

Budi Arie Setiadi: Dari Ruang Redaksi ke Kabinet Negara

13 Maret 2026
Kabar Selanjutnya
Dari Pasar Terapung ke Ekonomi Kreatif: Saatnya Banua Menjual Cerita, Bukan Sekadar Produk

Dari Pasar Terapung ke Ekonomi Kreatif: Saatnya Banua Menjual Cerita, Bukan Sekadar Produk

Pasca Konferda, Ketua Terpilih DPD PROJO Jabar Djoni Suherman Fokus Susun Kepengurusan Baru dan Konsolidasi Daerah

Pasca Konferda, Ketua Terpilih DPD PROJO Jabar Djoni Suherman Fokus Susun Kepengurusan Baru dan Konsolidasi Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

Ketua Umum PROJO Budi Arie Soroti Hubungan Jokowi-Prabowo hingga Evaluasi Program MBG

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Jokowi-Prabowo Akur, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie : Kami Dukung Jokowi Hadapi Sidang Kasus Tudingan Ijazah Palsu

HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

24 Agustus 2026
HUT ke-12 PROJO, Budi Arie Tegaskan Dukungan untuk Prabowo-Gibran dan Perang terhadap Korupsi

12 Tahun PROJO, Budi Arie : Stop Adu Domba Hubungan Jokowi dan Prabowo, Persatuan Nasional Harus Dijaga

24 Agustus 2026
12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

23 Agustus 2026

TRENDING

  • Mengawal HUT ke-12 PROJO: Cerita Yati Nurhayati dan Harapan Persaudaraan Tanpa Batas

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • HUT ke-12 PROJO, Budi Arie Tegaskan Dukungan untuk Prabowo-Gibran dan Perang terhadap Korupsi

    22 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Dua Belas Tahun Menjaga Api—Ketika Relawan Tidak Pulang Setelah Pemilu & Membangun Demokrasi Partisipatoris

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Prabowo dan Jokowi Jadi Saksi Akad Nikah Kasespri Presiden Rizky Irmansyah

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • 12 Tahun PROJO, Budi Arie: Kesulitan Rakyat Harus Disampaikan Apa Adanya

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 12 Tahun PROJO, Budi Arie : Stop Adu Domba Hubungan Jokowi dan Prabowo, Persatuan Nasional Harus Dijaga

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • HUT ke-12 PROJO: Momentum Transformasi dan Konsolidasi Relawan Jokowi

    15 shares
    Share 6 Tweet 4

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.