YOGYAKARTA, PROJO.or.id – Bagi sebagian orang, masa kuliah adalah lembaran tentang tumpukan buku di perpustakaan dan hiruk-pikuk ruang seminar.
Namun bagi Joko Widodo, mahasiswa angkatan 1980 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), separuh jiwanya saat itu tertinggal di rimba raya dan puncak-puncak gunung yang menantang langit.
Sebelum dikenal sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia, pria kurus yang akrab disapa Jokowi ini adalah sosok petualang tangguh yang lincah menembus lebatnya hutan tropis.
Secara resmi, ketertarikan Jokowi pada alam bebas tertuang lewat lembar komitmen tanggal 26 Maret 1981. Hari itu, ia tercatat sah bergabung menjadi anggota Silvagama, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam khusus di lingkungan Fakultas Kehutanan UGM. Di sinilah, karakter kepemimpinan, ketekunan, dan fisiknya yang prima ditempa oleh alam liar.
Dari sekian banyak catatan perjalanannya, salah satu episoda paling ikonik dan mellegenda di kalangan alumni Silvagama adalah “Ekspedisi Kerinci 1983”. Pada Februari tahun itu, Jokowi bersama 13 rekannya sesama rimbawan muda bertolak menuju Jambi. Misi mereka tidak main-main: menaklukkan Gunung Kerinci, gunung berapi tertinggi di Indonesia dan Asia Tenggara yang menjulang tegak setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl).
View this post on Instagram
Perjalanan Berat di Zaman yang Belum Instan
Mendaki gunung pada dekade 1980-an sangat jauh berbeda dengan tren pendakian modern saat ini. Fasilitas serba terbatas. Jangan bayangkan jaket waterproof ultra-light atau tenda modern yang ringkas. Tim Ekspedisi Kerinci 1983 harus saling meminjam peralatan ke sesama mahasiswa di kampus.
Mereka memanggul keranjang punggung yang berat dan membawa tenda jenis bivak berukuran raksasa. Urusan logistik pun dikelola secara swadaya; kompor minyak tanah yang rawan bocor dan piring-piring seng beradu di dalam tas sepanjang jalur pendakian. Belum ada pos-pos pendakian resmi atau jalur rapi seperti sekarang.
Jalur pendakian saat itu didominasi vegetasi hutan rasamala yang rapat dengan kemiringan ekstrem yang menuntut pendaki merangkak, ditambah bayang-bayang ancaman Harimau Sumatra yang kala itu masih sering melintasi jalur rimba Kerinci.
Namun di sinilah kelebihan fisik Jokowi muda terlihat. Rekan seangkatan sekaligus sahabat pendakiannya, Totok Suripto, mengenang bahwa di balik perawakannya yang kurus, Jokowi memiliki stamina yang luar biasa.
“Saat naik Gunung Kerinci itu, memang yang sampai puncak pertama kali itu Jokowi, saya nomor dua,” cerita Totok dalam sebuah reuni alumni UGM.
Jokowi digambarkan sebagai pendaki yang sangat lincah. Kendati jalannya cepat dan selalu berada di depan, ia tak pernah egois; Jokowi selalu berhenti di batas vegetasi aman untuk menunggu rekan-rekannya yang tertinggal di belakang.
Bukan Sekadar Pendakian, Tapi Awal Mula Paradigma
Kehadiran Jokowi dalam tim ternyata bukan sekadar sebagai pelengkap fisik. Rekan pendaki lainnya, Ucok, menuturkan bahwa Jokowi adalah sosok mahasiswa yang sangat rajin dan tertib mencatat.
Karena sifat telitinya itulah, ia didelegasikan oleh tim untuk menyusun laporan observasi ilmiah pasca-pendakian guna dilaporkan ke Dinas Kehutanan yang mendanai sebagian ekspedisi tersebut.
Menariknya, perjalanan jauh dari Yogyakarta menuju Sumatra ini menyisakan impresi mendalam yang kelak mengubah jalannya sejarah Indonesia. Buku “Jokowi Travelling Story: Kerinci 1983” karya Rifqi Hasibuan dan Iqbal Aji Daryono mengupas bagaimana perjalanan ini membentuk visi kepemimpinannya.
Ketika rombongan Silvagama harus memutar jalan akibat insiden bus yang mereka tumpangi mengalami kendala di daerah Indarung, Sumatra Barat, Jokowi muda disuguhi pemandangan elok daerah Solok sekaligus realita pahit: infrastruktur jalan yang rusak parah dan kesenjangan pembangunan yang timpang jika dibandingkan dengan Pulau Jawa.
Momen kontemplasi di atas bus tua dan dinginnya Puncak Kerinci itu diyakini para sahabatnya menjadi pemantik awal lahirnya kebijakan-kebijakan besar puluhan tahun kemudian.
Dari sanalah paradigma “Indonesia Sentris”—bukan lagi Jawa Sentris—mulai mengkristal di kepala sang insinyur muda. Ambisinya membangun infrastruktur pinggiran, membuka akses listrik desa, hingga program revitalisasi budaya seperti “Seribu Rumah Gadang” di Sumatra Barat lahir dari memori perjalanan masa mudanya sebagai seorang anggota Mapala Silvagama.
Kini, puluhan tahun telah berlalu sejak bendera Silvagama dikibarkan Jokowi muda di puncak tertinggi Sumatra.
Saat ini langkah kakinya mungkin tidak lagi menapaki tanah becek jalur hutan. Namun bagi alam dan rimba raya, ia akan selalu diingat sebagai rimbawan lincah angkatan ’80 yang berani bermimpi dari puncak gunung.***












