KETIKA persepsi lebih dipercaya daripada fakta, masyarakat bisa kehilangan kemampuan membedakan mana kebenaran dan mana sekadar narasi.
Ribuan tahun lalu, di sebuah kota bernama Athena, Yunani, hiduplah seorang filsuf bernama Socrates. Ia dikenal bukan karena kekayaan, jabatan, atau kekuasaan politiknya, melainkan karena kebiasaannya mengajukan pertanyaan.
Socrates punya cara sederhana untuk menguji pemikiran seseorang. Ia tidak langsung menerima sebuah pernyataan sebagai kebenaran. Ia bertanya, menguji alasan, mencari bukti, dan menggali apakah sesuatu yang diyakini orang banyak benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Baginya, manusia sering kali merasa paling tahu justru ketika belum benar-benar memahami persoalan.
Socrates pernah mengingatkan bahwa kehidupan yang tidak diperiksa tidak layak dijalani. Gagasan ini mengajarkan bahwa manusia harus berani menguji keyakinannya sendiri, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai dipercakapkan.
Namun, sejarah juga mencatat bahwa Socrates akhirnya diadili di Athena pada 399 SM. Ia dituduh merusak kaum muda dan tidak menghormati dewa-dewa yang diakui negara. Ia dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun hemlock.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa suara yang berbeda, pertanyaan kritis, dan pemikiran yang tidak sejalan dengan pandangan mayoritas dapat menghadapi tekanan sosial maupun politik.
Plato dan kisah manusia dalam gua
Murid Socrates, Plato, kemudian menuliskan sebuah alegori terkenal dalam karyanya Republic, yang dikenal sebagai Alegori Gua.
Ceritanya tentang sekelompok manusia yang sejak kecil hidup terbelenggu di dalam sebuah gua. Mereka hanya bisa melihat dinding di hadapan mereka.
Di belakang mereka terdapat api, sementara orang-orang dan benda-benda bergerak melintas sehingga menghasilkan bayangan di dinding.
Karena tidak pernah melihat dunia di luar gua, para tawanan menganggap bayangan itulah kenyataan.
Suatu hari, salah seorang tawanan berhasil keluar. Ia melihat matahari, pepohonan, manusia, dan dunia yang sesungguhnya. Ketika kembali ke gua untuk menceritakan apa yang dilihatnya, orang-orang di dalam gua justru sulit mempercayainya.
Mereka lebih nyaman dengan bayangan yang selama ini dikenal daripada menerima kenyataan yang belum pernah mereka lihat.
Di sinilah letak pelajaran besar Plato.
Manusia bisa menganggap sesuatu sebagai kebenaran bukan karena telah membuktikannya, melainkan karena terlalu lama melihat dan mendengar hal yang sama.
Ketika bayangan berubah menjadi framing politik
Jika kisah Plato dibawa ke zaman sekarang, kita akan menemukan kemiripan dalam kehidupan media sosial dan komunikasi politik.
Bayangan di dinding gua bisa diibaratkan sebagai potongan video, judul berita yang provokatif, informasi tanpa konteks, opini yang dikemas seperti fakta, hingga narasi politik yang terus diulang.
Satu peristiwa bisa memiliki banyak sudut pandang. Namun, ketika hanya satu potongan yang terus ditampilkan, masyarakat berisiko kehilangan gambaran utuh.
Seseorang bisa dibangun citra negatifnya melalui pengulangan isu. Sebuah persoalan hukum bisa dipersepsikan sebagai kesimpulan kesalahan sebelum prosesnya selesai. Perbedaan pandangan bisa dibingkai sebagai permusuhan.
Padahal, fakta, dugaan, opini, dan kesimpulan hukum merupakan hal yang berbeda.
Di tengah situasi seperti ini, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak menjadi bagian dari arus pembentukan opini yang belum tentu didukung informasi lengkap.
Jangan sampai emosi menjadi alat orang lain
Ada satu pelajaran penting lainnya dari filsafat Stoik yang berkembang di Yunani kuno.
Epictetus, seorang filsuf Stoik, mengajarkan bahwa manusia tidak selalu dapat mengendalikan peristiwa di luar dirinya, tetapi dapat melatih cara merespons peristiwa tersebut.
Dalam Enchiridion, ia menjelaskan bahwa manusia sering terganggu bukan semata-mata oleh peristiwa, melainkan oleh penilaian terhadap peristiwa itu.
Prinsip ini sangat relevan dengan kehidupan politik hari ini.
Ketika muncul isu kontroversial, jangan buru-buru marah. Ketika ada pernyataan provokatif, jangan langsung membalas. Ketika sebuah narasi viral, jangan otomatis menganggapnya sebagai kebenaran.
Sebab, respons emosional yang tidak didasari pemahaman justru dapat memperbesar kegaduhan.
Kita mungkin tidak mengetahui siapa yang pertama kali membangun sebuah narasi, apa kepentingannya, atau bagaimana informasi tersebut dipotong dan disebarkan. Karena itu, jangan terburu-buru menuduh adanya skenario. Periksa dahulu fakta dan konteksnya.
Belajar berpikir, bukan sekadar bereaksi
Demokrasi membutuhkan masyarakat yang kritis. Kritik terhadap pemerintah, pejabat, maupun tokoh publik merupakan bagian dari kehidupan demokratis.
Namun, kritik harus bertumpu pada fakta. Begitu pula dukungan politik harus tetap memberi ruang bagi pertanyaan dan evaluasi.
Tidak semua kritik adalah serangan. Tidak semua pembelaan adalah kebenaran. Tidak semua yang viral layak dipercaya.
Belajar dari Socrates, kita harus berani bertanya. Belajar dari Plato, kita harus berani keluar dari bayangan. Belajar dari Epictetus, kita harus mampu mengendalikan respons terhadap keadaan.
Pada akhirnya, kedewasaan politik bukan diukur dari seberapa cepat seseorang membalas narasi pihak lain, melainkan dari kemampuannya menjaga akal sehat di tengah derasnya informasi.
Jangan mudah terpancing. Jangan mudah diadu domba. Jangan biarkan emosi kita menjadi alat pembentuk opini orang lain.
Periksa faktanya, pahami konteksnya, dengarkan berbagai sudut pandang, lalu ambil kesimpulan dengan pikiran jernih.
Sebab, dalam politik, orang yang paling mudah terpancing belum tentu sedang memperjuangkan kebenaran. Bisa jadi, ia hanya sedang bereaksi terhadap bayangan yang belum pernah diperiksanya.
Jangan hidup hanya dengan melihat bayangan di dinding gua. Beranilah mencari cahaya kebenaran.***











