BAGI sebagian orang, politik barangkali adalah urusan podium, setelan jas kaku, dan barikade paspampres yang kokoh. Namun, bagi Joko Widodo, politik adalah tentang seberapa dekat ia bisa berdiri di sebelah warganya.
Ketika hari ini kita melihat approval rating Jokowi tetap kokoh berada di angka yang tinggi—bahkan setelah beliau purnatugas—rahasianya bukan sekadar angka-angka pertumbuhan ekonomi di atas kertas.
Rahasia itu sering kali tersimpan di dalam galeri ponsel ratusan ribu rakyat Indonesia: sebuah foto selfie bersama sang mantan presiden.
Tradisi swafoto ini tidak lahir begitu saja di ruang hampa. Ia adalah anak kandung dari sebuah fenomena yang jauh lebih dulu lahir dan diakui dunia: blusukan.
Jauh sebelum era ponsel pintar berkamera depan canggih merajai keseharian kita, Jokowi sudah berjalan kaki membelah pasar-pasar tradisional di Solo, menembus gang-gang sempit di Jakarta, hingga menginjakkan kaki di tanah berlumpur pelosok Nusantara.
Gaya kepemimpinan yang turun langsung ke dasar rumput ini begitu unik, hingga media-media internasional melirik dan memperkenalkan istilah “blusukan” ke panggung global sebagai antitesis dari gaya kepemimpinan feodal yang kaku.
Seiring berjalannya waktu, blusukan itu bertransformasi secara organik. Di era digital, lembar kertas catatan keluhan warga bermutasi menjadi layar gawai.
Ketika Jokowi blusukan dan langkahnya dihadang oleh kerumunan orang yang menyodorkan ponsel, ia tidak menghindar. Beliau justru akan berhenti, mengambil alih ponsel tersebut dengan tangannya sendiri, lalu melempar senyum ke arah kamera.
Momen singkat itu sesungguhnya adalah sebuah “jabat tangan digital”. Ada pesan psikologis yang sangat kuat di sana; bahwa seorang kepala negara bersedia menurunkan pandangannya, berdiri sejajar, dan menjadi bagian dari memori visual rakyatnya.
Kedekatan emosional yang konsisten dirawat lewat ribuan swafoto inilah yang kemudian mengkristal menjadi kecintaan publik yang awet.
Di panggung dunia, Jokowi tentu tidak sendirian dalam hal keluwesan ini. Kita bisa melihat bagaimana Barack Obama kerap menembus barikade agen rahasia demi menyalami warga di kedai kopi, atau bagaimana Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, yang dengan santai memakai kaus olahraga dan melayani swafoto warga saat sedang jogging pagi.
Ada pula mantan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, yang merangkul warganya lewat empati tanpa sekat protokoler, hingga José Mujica, mantan Presiden Uruguay yang hidup begitu sederhana di ladangnya dan selalu membuka pintu bagi siapa saja yang ingin menyapa dan berfoto.
Namun, yang membedakan Jokowi dari para pemimpin dunia lainnya adalah intensitas dan akarnya. Bagi pemimpin lain, swafoto mungkin adalah bagian dari diplomasi publik atau keramahan yang spontan. Bagi Jokowi, swafoto adalah kelanjutan dari ritual blusukan yang sudah mendarah daging.
Pada akhirnya, tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap Jokowi hingga hari ini adalah bukti nyata dari keberhasilan modernisasi blusukan itu.
Beliau berhasil mengubah wajah kekuasaan yang awalnya feodal dan berjarak, menjadi sesuatu yang inklusif, hangat, dan bisa disimpan rapat-rapat di dalam saku setiap warga.***











