JAKARTA, PROJO.or.id – Sejarah Reformasi 1998 terus bergerak mencari muara terbaik bagi kemajuan bangsa. Dalam diskusi mendalam di kanal YouTube Podcast Total Politik, Ketua Umum PROJO yang juga pelaku sejarah Reformasi 98, Budi Arie Setiadi, membedah dinamika politik nasional dan alasan mengapa banyak aktivis 98 kini melabuhkan dukungan serta harapan kepada Prabowo Subianto.
Menakar Konsistensi Tokoh Reformasi
Budi Arie mengenang kembali era perjuangan mahasiswa di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1990-an. Menurutnya, dari empat tokoh sentral reformasi—Gus Dur, Megawati, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan Amien Rais—kelompok aktivis 98 saat itu lebih memilih berkiblat pada tiga nama pertama karena konsistensi nilai-nilai perjuangannya.
“Dengan segala hormat, kita enggak pernah berkiblat ke Amien Rais ketika reformasi 98. Kenapa? Karena Gus Dur, Bu Mega, dan Sultan konsisten nilai-nilai perjuangannya. Pak Amien? Ah, kebanyakan manuver politiknya,” tegas Budi Arie.
Mengapa Prabowo Jadi Muara Aktivis 98?
Fenomena banyaknya eksponen 98 yang kini merapat ke barisan Prabowo Subianto dinilai Budi Arie sebagai hal yang logis. Ia menyebutkan bahwa Prabowo memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk memimpin bangsa yang besar: kemampuan merangkul.
“Pak Prabowo itu memiliki kemampuan dan keinginan untuk merangkul semua pihak. Di mata aktivis 98, Pak Prabowo ini bisa dianggap elit yang bisa bekerja sama untuk mewujudkan demokrasi dan membangun bangsa dan negara ini,” ungkapnya.
Budi Arie juga menyoroti visi ekonomi Prabowo yang sangat dekat dengan cita-cita ekonomi kerakyatan. Ia menyebut Prabowo mewarisi semangat kakeknya, Margono Djojohadikusumo (pendiri BNI), dalam mengelola demokrasi ekonomi yang inklusif dan tidak monopolistik.
Kritik Amien Rais: Pola yang Justru “Menyinarkan”
Terkait serangan-serangan tajam yang dilontarkan Amien Rais kepada Prabowo Subianto dan LetkolTeddy belakangan ini, Budi Arie menanggapinya dengan santai namun penuh makna. Ia melihat ada pola historis yang unik dari kritik-kritik Amien Rais.
“Sepanjang fakta yang saya dapat, semua orang yang dihantam dan dikritik Pak Amien Rais itu bersinar. Pak Jokowi 10 tahun dikritik, 10 tahun pula Pak Jokowi bersinar dengan approval rating tinggi. Saya berharap Pak Prabowo dan Pak Teddy juga begitu, dikritik malah makin bersinar,” ujarnya sembari tersenyum.
Fokus pada Solusi Konkret: Desa dan Koperasi
Sebagai sosok yang konsisten di “Garis Rakyat”, Budi Arie menekankan bahwa demokrasi harus berujung pada kesejahteraan rakyat, khususnya di pedesaan. Ia menegaskan pentingnya intervensi negara melalui koperasi untuk mengurai tiga masalah utama petani: akses produksi, akses modal, dan akses pemasaran.
“Negara harus bantu urai itu. Itulah semangat demokrasi ekonomi yang dibawa Pak Prabowo. Transformasi dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang terorganisir secara ekonomi adalah kunci kemajuan kita ke depan,” pungkas Ketua Umum PROJO tersebut.
Bagi Budi Arie Setiadi, dukungan eksponen 98 ke Prabowo Subianto bukanlah sekadar langkah politik, melainkan keyakinan pada pemimpin patriot yang berjiwa besar dan mampu menyatukan potensi seluruh anak bangsa demi Indonesia Maju.***











