JAKARTA, PROJO.or.id – Di tengah riuhnya klakson kendaraan di kawasan Pancoran Timur, aroma harum bawang putih goreng menyeruak dari sebuah gerobak sederhana namun bersih yang terparkir di halaman depan kantor DPP PROJO.
Di saat banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengeluhkan daya beli masyarakat yang merosot akibat kondisi ekonomi yang lesu, tiga pemuda Jakarta—Teguh, Aldi, dan Ade—justru memilih untuk tancap gas.
Mereka baru saja meluncurkan “Super Ayam Bawang”, sebuah inisiatif kuliner yang mengandalkan menu Ayam Goreng Bawang Putih. Dengan harga Rp16.000 per porsi—lengkap dengan nasi, ayam, dan sambal—bisnis ini menjadi oase bagi kantong warga ibu kota yang kian tipis karena kenaikan bahan baku.
Dukungan dari Rumah Rakyat
Kehadiran gerobak UMKM ini bukan tanpa dukungan. Lokasi strategis di depan kantor DPP PROJO, Jalan Pancoran Timur No. 37, menjadi tempat mereka memulai peruntungan.
Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP Projo, Jarot Trisunuwarso, memberikan apresiasinya terhadap semangat ketiga pemuda ini.
“Kami di DPP Projo berkomitmen untuk selalu memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, inisiatif seperti yang dilakukan Teguh, Aldi, dan Ade ini patut didukung. Ini adalah bentuk nyata ekonomi kerakyatan yang harus terus kita dorong agar UMKM kita bisa naik kelas dan tetap bertahan,” ujar Jarot.
Aldi pun merasa sangat terbantu dengan kesempatan ini. “Alhamdulillah diberikan kesempatan untuk menempati lokasi berdagang di depan kantor DPP Projo, terima kasih,” ungkapnya.
Strategi Jitu di Tengah Tantangan
Pengalaman bertahun-tahun di dunia food and beverage (F&B) membuat mereka paham bahwa harga dan kualitas adalah kunci. Sehingga banyak pembeli mengantre meski di bawah payung, menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap menu yang terjangkau namun menggugah selera.
“Satu porsi makan dengan ayam hanya 16 ribu memang jarang ada di Jakarta, sehingga itu menjadi salah satu strategi kami,” jelas Aldi. Selain mengandalkan pembeli yang datang langsung (offline), mereka juga aktif melakukan pemasaran online melalui media sosial dan WhatsApp. Strategi ini terbukti ampuh membuat dagangan mereka laris manis setiap harinya.
Optimisme demi Keluarga
Meski saat ini baru memiliki satu cabang, mimpi mereka tidaklah kecil. Ade Surahman berharap bisnis ini bisa terus berkembang di masa depan. Baginya, tantangan ekonomi seberat apa pun harus dihadapi dengan kepala tegak.
“Walau banyak tantangan karena kondisi ekonomi, optimisme dan semangat harus tetap tinggi demi anak istri di rumah,” pungkas Ade sambil tersenyum.
Di sudut Jakarta Selatan ini, ketiga pemuda tersebut membuktikan bahwa dengan strategi yang jitu, dukungan lingkungan, dan semangat yang tak padam, UMKM tetap bisa menjadi tulang punggung ekonomi yang tangguh.***











