MALAM di kawasan Cibiru selalu punya aromanya sendiri: perpaduan antara udara dingin kaki Gunung Manglayang, aroma kopi tubruk, dan riuh knalpot mahasiswa yang baru pulang kuliah.
Di sebuah kedai kopi sederhana dengan lampu temaram, tiga mahasiswa—sebut saja Aris, Bondan, dan Chika—duduk melingkar. Di meja mereka, bukan buku teks yang terbuka, melainkan layar ponsel yang menampilkan linimasa media sosial yang tak pernah berhenti bergulir.
”Lucu ya, lihat dunia konten kita sekarang,” ujar Aris sambil menyandarkan punggung. “Teman kita di DKV bikin animasi sampai begadang berminggu-minggu, yang nonton cuma hitungan jari. Tapi lihat ini…” ia menyodorkan ponselnya, menunjukkan sebuah video pendek yang baru saja diunggah seorang kreator.
Isinya sederhana: hanya sebuah opini pedas yang menyentil sosok Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo. Hasilnya? Puluhan ribu likes dan kolom komentar yang membara.
Perhatian: Mata Uang Baru di Negeri +62
Obrolan mereka malam itu merangkum keresahan banyak anak muda tentang cara kerja jagat digital Indonesia. Di era kepemimpinan nasional yang telah berganti ke Presiden Prabowo Subianto, nama Joko Widodo ternyata tetap menjadi “bahan bakar” utama bagi mesin algoritma.
Bondan, yang mengambil jurusan komunikasi, mengangguk setuju. “Istilahnya attention economy. Siapa yang paling ramai dibahas, dia yang menang di mata algoritma. Masalahnya, jalan pintas paling cepat buat dapat atensi itu ya ‘nyenggol’ tokoh besar. Mau itu presiden yang sedang menjabat atau sosok ikonik seperti Pak Jokowi.”
Fenomena ini bukan sekadar soal politik praktis, melainkan tentang bagaimana netizen, media, hingga podcaster saling berebut panggung. Nama besar seolah menjadi magnet yang kutubnya tak pernah netral—selalu berhasil menarik massa, entah untuk memuji, membela, mengkritik, atau sekadar menyindir.
“Kalau mau cepat terkenal dan tetap eksis… senggol deh Pak Jokowi.”
Candaan satir itu kini menjadi semacam “mantra” tak tertulis di kalangan pemburu viral, membuktikan bahwa daya pikat sang mantan presiden belum pudar di layar kaca ponsel.
Antara Cuan dan Keberkahan
Namun, di balik riuhnya angka penonton, terselip debat moral yang tajam. Chika menunjukkan sebuah tangkapan layar di ponselnya—sebuah komentar yang lewat di beranda, menyasar mereka yang memanfaatkan nama besar Presiden ke-7, Joko Widodo, demi konten yang penuh hinaan dan fitnah:
”Mendapat penghasilan dengan menjelek-jelekkan, menghina, dan mencaci maki Pakde Jokowi. Insya Allah tidak berkah wahai para pembenci.”
”Ini yang ngeri,” sahut Chika dengan nada getir. “Batasan antara kritik konstruktif dan sekadar jualan maki-maki demi engagement itu makin tipis. Kadang isinya tidak penting, tapi karena ramai, akhirnya semua orang merasa wajib ikut bicara. Kita semua terjebak dalam siklus ‘yang penting ramai’.”
Ironi Edukasi yang Sepi
Ketiganya terdiam sejenak. Ada ironi yang terasa pahit ketika konten edukasi yang disusun dengan riset mendalam sering kali kalah telak oleh konten yang hanya mengandalkan sensasi atau kontroversi tokoh politik.
Meskipun estafet kepemimpinan nasional telah berpindah ke tangan Presiden Prabowo Subianto, pola perilaku netizen nyatanya tetap sama: drama masih jauh lebih memikat ketimbang substansi.
Bagi mereka, kedai di Cibiru malam itu bukan sekadar tempat melepas penat. Ia adalah saksi bisu bagaimana generasi mereka menyaksikan pergeseran nilai secara nyata.
Di dunia digital yang hiruk-pikuk ini, kualitas karya sering kali harus bertekuk lutut di hadapan kekuatan nama besar dan algoritma yang haus akan konflik.
Saat kopi mulai mendingin dan obrolan perlahan beralih ke tumpukan tugas kuliah, sebuah tanya besar masih tersisa: apakah kreativitas anak muda Indonesia akan terus bergantung pada bayang-bayang tokoh besar, ataukah suatu saat nanti karya murni akan kembali menemukan “magnet”-nya sendiri tanpa harus memancing keributan?***











