JAKARTA, PROJO.or.id — Dinamika politik masa lalu kembali menghangat setelah kader senior PDI Perjuangan, F.X. Hadi Rudyatmo (FX Rudy), berbicara blak-blakan dalam kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored. Dalam perbincangan tersebut, FX Rudy mengungkit berbagai cerita lama, termasuk isu sensitif seputar wacana masa jabatan presiden tiga periode.
Alih-alih meradang atau merespons dengan tensi tinggi, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), justru menyikapi cerita-cerita tersebut dengan kepala dingin. Orang dekat yang sempat menemuinya mengungkapkan bahwa Jokowi sudah mengetahui isi podcast itu jauh-jauh hari dan menanggapinya dengan santai (enjoy).
“Silakan saja orang berkomentar,” ujar pihak terdekat menirukan respons Jokowi.
Di balik santainya tanggapan tersebut, Jokowi memberikan bantahan telak terhadap salah satu narasi yang paling disorot, yakni tudingan bahwa dirinya pernah sowan dan meminta dukungan kepada Megawati Soekarnoputri demi melanggengkan kekuasaan hingga tiga periode. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa cerita tersebut sama sekali tidak benar.
@solo.timesReaksi Presiden ke-7 Jokowi usai dibicarakan oleh wakilnya saat menjabat sebagai Walikota Solo, FX Hadi Rudyaton dalam podcast Akbar Faizal. Reaksi Jokowi tersebut diungkapkan oleh Wawanto, kader PSI yang saat itu berkunjung ke kediamannya pada Rabu (29/7/2026) sore. Wawanto menyebutkan jika Jokowi menanggapi dengan santai terkait isi pembicaraan dalam podcast tersebut. #solotimes #kotasolo #jokowi♬ suara asli – Solo Times – Solo Times
Bahkan, Jokowi mempersilakan siapa saja untuk langsung mengonfirmasi kebenaran klaim itu kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, agar duduk perkaranya menjadi terang benderang di hadapan publik.
Menariknya, Jokowi sama sekali tidak merasa risih, terganggu, atau terkejut dengan kemunculan kembali isu tersebut. Ia justru merasa senang dan memilih untuk membiarkan berbagai komentar miring itu beredar di ruang publik. Bagi Jokowi, kritik dan narasi semacam itu justru berpotensi menjadi bumerang bagi pihak penyebarnya, di mana simpati dan dukungan masyarakat justru bisa berbalik semakin kuat kepadanya.
Di tengah era keterbukaan informasi saat ini, Jokowi meyakini bahwa masyarakat sudah jauh lebih cerdas, dewasa, dan paham dalam menyaring setiap informasi yang berseliweran di media sosial. Publik dinilai telah mampu membedakan mana fakta yang sebenarnya dan mana narasi yang sengaja diembuskan untuk kepentingan tertentu.***












