JAKARTA, PROJO.or.id — Di dunia politik yang serba terukur oleh angka, tabel, dan metodologi survei, sebuah firasat atau vision kerap dipandang sebelah mata. Namun, dalam kontestasi Pemilu 2024, Ketua Umum Relawan PROJO, Budi Arie Setiadi, memegang teguh keyakinan yang justru melangkahi kalkulasi para pakar riset politik tanah air.
Kisah di balik keyakinan itu terungkap dalam perbincangan santai namun penuh gelak tawa di podcast Total Politik. Budi Arie menceritakan momentum-momentum penting saat ia menyampaikan prediksinya terkait perolehan suara kemenangan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Perjalanan keyakinan Budi Arie bermula pada akhir tahun lalu, tepatnya 28 Desember 2023. Di atas udara, dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado untuk agenda peresmian proyek BTS, Budi Arie berbincang empat mata dengan Presiden Joko Widodo.
“Pak, mohon maaf Pak, ini nggak ilmiah. Tapi saya dapat vision, saya dapat mimpi ini di atas 57%. Kalau salah mohon maaf, Pak,” kenang Budi Arie menirukan ucapannya saat itu.
Mendengar angka tersebut, Presiden Jokowi sempat menyangsikannya. Bagi Jokowi, angka tersebut terlalu tinggi. “Ah, setinggi itu? Paling 52%-53%, yang penting satu putaran, Mas,” respon Jokowi saat itu.
Tidak berhenti di situ, pada 13 Januari 2024 di Batam, Budi Arie kembali menyampaikan angka yang sama langsung kepada Prabowo Subianto. Reaksi Prabowo pun tak jauh beda. Prabowo merasa perolehan 53% sudah sangat bersyukur untuk mengamankan kemenangan satu putaran.
Lihat postingan ini di Instagram
Bahkan hingga mendekati masa akhir kampanye, yaitu 9 Februari 2024 di Bandung, Gibran Rakabuming Raka masih sempat mencolek dan menanyakan keyakinan Budi Arie. Lagi-lagi, Budi Arie menegaskan bahwa angka kemenangan akan menyentuh di atas 57%, sementara Gibran sendiri hanya mematok target di kisaran 53%.
Kisah prediksi ini sempat menjadi bahan kelakar di internal tim pemenangan. Host Total Politik menceritakan celotehan salah satu anggota tim sukses Prabowo yang berseloroh: “Untung Pak Jokowi enggak percaya sama omongan Bang Budi Arie. Kalau dia percaya, kita disuruh target 60%, Bos!” yang disambut gelak tawa riuh di ruang rekaman.
Sebab, sepanjang masa kampanye, jajaran konsultan politik, lembaga survei, hingga analis kawakan seperti Burhanuddin Muhtadi, Hasan Nasbi, Qodari, hingga Djayadi Hanan rata-rata memprediksi angka kemenangan Prabowo-Gibran berada di kisaran 53% hingga mentok di angka 54–55%.
“Termasuk Prof. Burhan ngomong sama saya, terakhir berapa waktu itu, 54%-55%. Saya bilang, ‘Nggak, di atas 57%’,” ujar Budi Arie.
Saat hasil penghitungan suara resmi keluar dan menunjukkan angka kemenangan Prabowo-Gibran berada di kisaran 58% (di atas 57%), Budi Arie hanya bisa tersenyum puas.
Saat kembali bertemu dengan Gibran pascapemilu, Budi Arie pun berseloroh ringan, “Mas, benaran aku toh, Mas?” yang langsung disambut tawa lepas dari Sang Wakil Presiden terpilih.
Fenomena kejelian intuisi Budi Arie yang menembus batas kalkulasi empiris ini seolah membuktikan ajaran filsuf Yunani Kuno, Plato, dalam teorinya tentang pengetahuan (Episteme). Plato pernah menyatakan bahwa intuisi atau penglihatan jiwa (noesis) kerap kali mampu menangkap kebenaran yang jauh lebih tinggi dan hakiki ketimbang sekadar pengamatan inderawi atau kalkulasi rasional yang terbatas.
Dalam riuk-pikuk dinamika politik, ketika data dan angka sains menetapkan batas maksimalnya, ketajaman intuisi dan kepekaan rasa di lapangan rupanya mampu membaca kenyataan yang belum terwujud dengan jauh lebih presisi.***












