JAKARTA, PROJO.or.id — Polemik mengenai latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan. Pengamat pendidikan dan karier Inna Liem menyampaikan pandangannya mengenai isu tersebut dalam podcast yang ditayangkan Cumicumi.com.
Dalam pernyataannya, Inna Liem menyinggung narasi mengenai ijazah pendidikan menengah Gibran serta sayembara yang dikaitkan dengan gugatan terhadap Wakil Presiden.
“Memang jelaslah Mas Gibran enggak punya ijazah SMA di Indonesia dan itu disayembarakan,” ujar Inna Liem dalam podcast tersebut.
Menurut Inna, persoalan tersebut berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat apabila informasi mengenai sistem pendidikan tidak dijelaskan secara utuh.
Ia menilai masyarakat yang tidak memahami persoalan pendidikan dapat menarik kesimpulan keliru apabila seseorang disebut tidak memiliki ijazah SMA di Indonesia.
“Sehingga mereka tahunya kalau wapres tak lulus SMA, langsung berasumsi artinya pendidikan terakhirnya SMP,” katanya.
Pernyataan itu kemudian dikaitkan dengan sayembara yang dilakukan Denny Indrayana. Ketika ditanya mengenai letak persoalan dalam sayembara tersebut, Inna menyebut persoalannya terletak pada tujuan yang menurutnya bukan semata-mata memperjuangkan isu pendidikan.
“Ya karena kan sudah pasti bodong karena enggak ada,” kata Inna.
Ia kemudian mengaitkan polemik tersebut dengan kepentingan politik. Menurutnya, isu pendidikan dalam perkara Gibran tidak dapat dilepaskan dari posisi Gibran sebagai Wakil Presiden.
“Hanya karena Anda mau merebut kekuasaan dengan menurunkan, eh, wapres yang sekarang, Anda membodohi masyarakat kita,” ujar Inna.
Inna juga menyebut sejumlah nama yang menurutnya berada dalam pusaran polemik tersebut, yakni Roy Suryo, Tifa, Denny, dan Mercy. Ia mengatakan orang-orang dengan pola seperti itu akan selalu ada ketika kepentingan politik dan upaya mempertahankan posisi bertemu.
“Kalau orang-orang kepepet untuk survive, bertahan hidup, kadang orang menghalalkan segala cara dengan cara-cara tak berintegritas,” katanya.
Ia mempertanyakan apakah yang sesungguhnya diperjuangkan dalam polemik tersebut adalah persoalan pendidikan.
“Bukan pendidikan yang mereka perjuangkan, kan?” ujar Inna.
Menurut Inna, ketika objek yang dipersoalkan adalah Wakil Presiden, maka persoalan tersebut pada akhirnya bersinggungan dengan kepentingan politik.
“Jadi yang diperjuangkan ini kan wakil presiden, berarti kan politik,” katanya.
Polemik mengenai latar belakang pendidikan Gibran sendiri terus menjadi bagian dari perdebatan publik. Cumicumi.com sebelumnya juga mengunggah potongan pernyataan Inna Liem mengenai pendidikan Gibran dan menyebut isu tersebut kembali menjadi sorotan publik.
Dalam konteks tersebut, pernyataan Inna Liem menyoroti pentingnya melihat persoalan pendidikan secara utuh agar perdebatan publik tidak berhenti pada kesimpulan bahwa ketiadaan ijazah SMA dari sistem pendidikan Indonesia otomatis berarti seseorang hanya memiliki pendidikan terakhir SMP.***










