LOMBOK, PROJO.or.id — Gemuruh MotoGP Mandalika 2026 kembali membawa perhatian dunia ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di tengah atmosfer balap internasional itu, kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) pada Sabtu (10/10/2026) mengingatkan publik pada perjalanan pembangunan Sirkuit Mandalika yang menjadi salah satu legacy era pemerintahannya.
Jokowi menyaksikan balapan dari tribun Grandstand A bersama putra bungsunya, Kaesang Pangarep. Kehadirannya menjadi momen tersendiri karena lima tahun sebelumnya, tepat pada 12 November 2021, Jokowi meresmikan Pertamina Mandalika International Street Circuit.
Dari sebuah kawasan yang dikembangkan sebagai destinasi pariwisata, Mandalika kini menjadi salah satu panggung olahraga otomotif internasional yang membawa nama Indonesia ke hadapan dunia.
Dari Pembangunan Infrastruktur Menuju Panggung Dunia
Pengembangan Mandalika merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pariwisata nasional. Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika ditetapkan pada 2014, kemudian mendapat dorongan pembangunan infrastruktur dan fasilitas pendukung pada era pemerintahan Jokowi.
Pembangunan sirkuit dimulai pada 2019. Setelah diresmikan pada November 2021, Mandalika menjadi tuan rumah World Superbike pada tahun yang sama. Pada Maret 2022, Indonesia kembali menggelar MotoGP setelah sekitar 25 tahun absen dari kalender kejuaraan tersebut.
Kehadiran ajang balap dunia tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperkenalkan potensi wisata Lombok kepada wisatawan internasional, menarik investasi, serta menggerakkan berbagai sektor usaha lokal.
Bagi Indonesia, Mandalika menjadi contoh bagaimana infrastruktur olahraga dapat terintegrasi dengan pengembangan kawasan pariwisata.
Jokowi Kembali, Legacy Mandalika Menjadi Sorotan
Kehadiran Jokowi di tribun penonton pada MotoGP 2026 memperlihatkan babak lain dalam perjalanan Mandalika. Jika pada 2021 ia hadir sebagai presiden untuk meresmikan sirkuit, kali ini ia datang untuk menyaksikan langsung balapan.
Momen tersebut menghubungkan sejarah pembangunan dengan keberlanjutan penyelenggaraan ajang internasional di Indonesia.
Bagi PROJO, pembangunan nasional perlu dilihat sebagai proses jangka panjang. Infrastruktur yang telah dibangun harus terus dipelihara, dikembangkan, dan dimanfaatkan agar menghasilkan nilai ekonomi serta manfaat sosial bagi masyarakat.
Mandalika karena itu tidak cukup hanya dikenang sebagai sirkuit berstandar internasional. Kawasan ini juga harus mampu memberikan dampak nyata bagi warga Lombok, mulai dari kesempatan kerja, pertumbuhan UMKM, peningkatan kunjungan wisatawan, hingga berkembangnya usaha transportasi dan akomodasi.
Legacy Harus Memberi Manfaat bagi Rakyat
MotoGP menjadi panggung promosi global bagi Mandalika. Namun, ukuran keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada kemegahan sirkuit atau besarnya perhatian dunia terhadap balapan.
Manfaatnya harus dapat dirasakan masyarakat sekitar. Pelaku UMKM perlu memperoleh kesempatan dari meningkatnya arus pengunjung, tenaga kerja lokal perlu mendapatkan akses terhadap lapangan pekerjaan, dan sektor pariwisata daerah harus tumbuh secara berkelanjutan.
Tantangan tersebut menjadi pekerjaan bersama pemerintah, pengelola kawasan, pelaku usaha, dan masyarakat.
Lima tahun setelah peresmian sirkuit, Mandalika kembali bergemuruh oleh MotoGP. Kehadiran Jokowi di antara para penonton menjadi pengingat atas perjalanan pembangunan yang telah dilalui sekaligus pentingnya menjaga keberlanjutan manfaatnya.
Mandalika bukan hanya tentang balapan. Ia adalah bagian dari perjalanan pembangunan Indonesia yang harus terus bergerak, berkembang, dan menghadirkan manfaat bagi rakyat.***













