• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
No Result
View All Result

“Aku Juga Nggak Punya Ijazah SMA,” Monic Christian dan Anthony Norman Lianto Buka Fakta Jalur Pendidikan Luar Negeri

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
11 Oktober 2026
in Kabar Rakyat
Waktu Baca: 3 menit
A A
1
“Aku Juga Nggak Punya Ijazah SMA,” Monic Christian dan Anthony Norman Lianto Buka Fakta Jalur Pendidikan Luar Negeri

JAKARTA, PROJO.or.id — Polemik persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memunculkan perdebatan tentang sistem pendidikan internasional. Sejumlah orang yang pernah menempuh pendidikan melalui jalur luar negeri turut angkat bicara, menjelaskan bahwa perjalanan menuju gelar sarjana tidak selalu harus melalui jalur sekolah menengah seperti yang umum dikenal di Indonesia.

Founder Tes Bakat Indonesia, Monic Christian, secara terbuka mengaku tidak memiliki ijazah SMA. Ia menjelaskan bahwa dirinya menempuh jalur pathway sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana.

“Makanya aku umur 20 tahun udah lulus,” kata Monic dalam video yang diunggah di media sosial.

Menurut Monic, sejumlah sistem pendidikan internasional menyediakan jalur alternatif yang memungkinkan peserta didik melanjutkan pendidikan melalui program sertifikat dan diploma sebelum memasuki perguruan tinggi.

Ia mencontohkan jalur pendidikan berbasis kurikulum Cambridge, termasuk program Certificate IV dan diploma, yang dalam skema tertentu dapat menjadi tahapan menuju pendidikan tinggi.

“Dari diploma kalau kuliah ke Australia bisa langsung masuk tingkat dua, dan lulus S1 dalam waktu dua tahun aja,” ujarnya.

Monic juga menjelaskan bahwa mahasiswa dapat menjalani program pendidikan di suatu negara, tetapi memperoleh gelar dari universitas di negara lain melalui kerja sama antarlembaga pendidikan.

KabarLainnya

Jokowi dan Gibran Terus Diserang, Pendukung yang Selama Ini Diam Mulai Angkat Suara

Air Mata Haru di Rumah Jokowi, Warga Ungkap Perasaan yang Selama Ini Terpendam

Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo

“Jangankan seperti itu, Universitas Indonesia aja ada kerja sama loh sama Australia,” katanya.

Anthony Norman Lianto Jelaskan Jalur Pathway

Pengalaman serupa disampaikan kader PSI Anthony Norman Lianto. Ia mengaku menyelesaikan pendidikan dasar hingga SMP di Indonesia sebelum melanjutkan pendidikan melalui jalur internasional di Australia.

Anthony menyebut dirinya menempuh Certificate IV dan diploma di Melbourne, kemudian mengambil Diploma of Arts di Monash College sebelum melanjutkan pendidikan hingga jenjang Bachelor dan Master Degree.

Menurut Anthony, jalur pathway memiliki mekanisme dan tujuan yang berbeda dari kursus biasa maupun bimbingan belajar.

“Pathway itu bukan kursus dan juga bukan bimbel, juga bukan sekolah bahasa,” kata Anthony.

Jalur tersebut, jelasnya, merupakan salah satu skema yang memungkinkan peserta didik memenuhi persyaratan akademik tertentu sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Namun, penerimaan dan pengakuan setiap kualifikasi bergantung pada program, institusi, serta ketentuan universitas yang dituju.

Anthony juga menyinggung persyaratan pendidikan bagi calon kepala daerah. Menurut dia, ketentuan tersebut telah ada sebelum Gibran mengikuti kontestasi politik, sehingga tidak tepat jika seluruh aturan pendidikan untuk jabatan publik dianggap muncul khusus untuk mengakomodasi satu orang.

“Jadi bukan karena ada Mas Gibran lalu aturan ini muncul,” ujarnya.

Ia turut menyebut adanya kepala daerah di Pulau Jawa yang pernah menempuh jalur pathway sebelum melanjutkan pendidikan ke universitas di Australia. Pengalaman tersebut, menurut Anthony, memperlihatkan bahwa jalur pendidikan internasional telah menjadi pilihan bagi sebagian warga Indonesia.

Polemik Gibran dan Pengakuan Pendidikan Internasional

Pernyataan Monic dan Anthony muncul di tengah perdebatan mengenai pendidikan Gibran setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait permohonan yang mempersoalkan persyaratan pendidikannya.

Dalam pertimbangan yang dibacakan pada perkara tersebut, hakim konstitusi menyinggung dokumen pendidikan yang diajukan dalam persidangan. Namun, persoalan itu perlu dibedakan dari kesimpulan umum bahwa seluruh jalur pendidikan luar negeri tidak dapat diakui atau bahwa semua lulusan luar negeri wajib mengikuti ujian Paket C.

Pengalaman Monic dan Anthony menegaskan adanya keragaman jalur pendidikan internasional. Meski demikian, pengalaman individual mereka tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap jalur pathway memiliki tingkat kesetaraan yang sama dengan pendidikan menengah Indonesia atau otomatis memenuhi persyaratan untuk jabatan publik.

Penentuan kesetaraan pendidikan harus mengacu pada dokumen akademik, kualifikasi yang diperoleh, mekanisme penyetaraan yang berlaku, dan peraturan mengenai jabatan yang bersangkutan.

Perdebatan ini pun membuka ruang pembahasan yang lebih luas: bagaimana Indonesia memberikan kepastian hukum bagi warga negara yang menempuh pendidikan melalui sistem internasional, tanpa mengabaikan standar pendidikan nasional.

Bagi ribuan pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, persoalan pengakuan ijazah bukan sekadar polemik politik. Hal itu menyangkut kepastian mengenai nilai kualifikasi yang mereka peroleh dan kesempatan untuk melanjutkan karier maupun berpartisipasi dalam kehidupan publik di tanah air.

Karena itu, transparansi dalam mekanisme penyetaraan dan konsistensi penerapan persyaratan pendidikan menjadi penting agar setiap warga negara dinilai berdasarkan aturan yang jelas, bukan semata-mata berdasarkan jalur pendidikan yang ditempuh.***

Add as Preferred Source
Share12Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Budi Arie Minta Publik Tak Hakimi Pendidikan Gibran dengan Standar Indonesia

Kabar Selanjutnya

Usai Nonton MotoGP, Jokowi Hadiri Resepsi di Lombok, 50 UMKM Lokal Ikut Meriahkan Acara

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Jokowi dan Gibran Terus Diserang, Pendukung yang Selama Ini Diam Mulai Angkat Suara
Kabar Rakyat

Jokowi dan Gibran Terus Diserang, Pendukung yang Selama Ini Diam Mulai Angkat Suara

3 November 2026
Air Mata Haru di Rumah Jokowi, Warga Ungkap Perasaan yang Selama Ini Terpendam
Kabar Rakyat

Air Mata Haru di Rumah Jokowi, Warga Ungkap Perasaan yang Selama Ini Terpendam

1 November 2026
Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo
Kabar Rakyat

Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo

30 Oktober 2026
Kabar Selanjutnya
Usai Nonton MotoGP, Jokowi Hadiri Resepsi di Lombok, 50 UMKM Lokal Ikut Meriahkan Acara

Usai Nonton MotoGP, Jokowi Hadiri Resepsi di Lombok, 50 UMKM Lokal Ikut Meriahkan Acara

Dikaitkan dengan Dugaan Makar, Budi Arie: Jangan Kriminalisasi Pikiran

Budi Arie Bantah Bertemu Jokowi Bahas Pengunduran Diri Gibran, Itu Hoaks : Ingatkan Elite Jaga Persatuan

Comments 1

  1. Amro says:
    3 minggu ago

    Lha Gibran kan juga diminta menunjukkan sertifikat jalur pathway atau diploma atau sertifikat apapun utk penyetaraan.
    Itu doang! Kenapa ribut kalo ada tunjukinlah! Kalo cuman certificate of attendance?! Anak kecil jualga tahu, itu bukan diploma atau certificate kelulusan?
    Org meributkan org ribet. Ya pasti mumet.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Jokowi dan Gibran Terus Diserang, Pendukung yang Selama Ini Diam Mulai Angkat Suara

Jokowi dan Gibran Terus Diserang, Pendukung yang Selama Ini Diam Mulai Angkat Suara

3 November 2026
Dari Balik Dinding Seng SDN Samak Mamuju, Kunjungan Gibran Membawa Harapan bagi Pendidikan Anak Pelosok

Dari Balik Dinding Seng SDN Samak Mamuju, Kunjungan Gibran Membawa Harapan bagi Pendidikan Anak Pelosok

3 November 2026
Di Tengah Riuh Polemik Jakarta, Sambutan Hangat Warga Sulbar Warnai Kunjungan Wapres Gibran

Di Tengah Riuh Polemik Jakarta, Sambutan Hangat Warga Sulbar Warnai Kunjungan Wapres Gibran

3 November 2026
Dua Pantun Gibran di Tanah Kalumpang: Merawat Perdamaian, Toleransi, dan Warisan Leluhur

Dua Pantun Gibran di Tanah Kalumpang: Merawat Perdamaian, Toleransi, dan Warisan Leluhur

3 November 2026

Di Tengah Polemik Suket dan Dorongan Pemakzulan, Gibran Tetap Turun ke Daerah Serap Aspirasi Warga Sulbar

3 November 2026
Laporan terhadap Budi Arie Dinilai Tak Kuat : Ini Bagian dari Dinamika Demokrasi

Putusan Kilat Mahkamah Agung, Antara Peradilan Cepat Atau Algojo Kekuasaan

2 November 2026

TRENDING

  • Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

    Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

    576 shares
    Share 230 Tweet 144
  • Putusan Kilat Mahkamah Agung, Antara Peradilan Cepat Atau Algojo Kekuasaan

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • PROJO: Putusan MA dan MK Tak Bisa Dijadikan Dasar Pemakzulan Gibran, Freddy Damanik: Beda Rezim Hukum

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Di Tengah Riuh Polemik Jakarta, Sambutan Hangat Warga Sulbar Warnai Kunjungan Wapres Gibran

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Dua Pantun Gibran di Tanah Kalumpang: Merawat Perdamaian, Toleransi, dan Warisan Leluhur

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Jokowi dan Gibran Terus Diserang, Pendukung yang Selama Ini Diam Mulai Angkat Suara

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Di Tengah Polemik Suket dan Dorongan Pemakzulan, Gibran Tetap Turun ke Daerah Serap Aspirasi Warga Sulbar

    15 shares
    Share 6 Tweet 4

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.