JAKARTA, PROJO.or.id — Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi mengingatkan seluruh elemen bangsa agar tidak terjebak dalam pertikaian elite politik yang berpotensi memecah belah persatuan. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kekeringan, perhatian para pemimpin seharusnya dipusatkan pada kepentingan rakyat.
Budi Arie menilai, kegaduhan politik yang terus dipelihara hanya akan menguras energi bangsa dan mengalihkan perhatian dari persoalan yang membutuhkan penanganan nyata.
“Yang menikmati orang-orang yang kurang memahami betapa pentingnya persatuan bagi bangsa ini,” kata Budi Arie dalam Podcast Total Politik, saat menjawab pertanyaan mengenai pihak yang diuntungkan ketika situasi politik nasional menjadi keruh.
Menurut Budi Arie, persatuan merupakan modal sosial sekaligus modal politik yang sangat berharga bagi Indonesia. Menyatukan masyarakat dengan latar belakang dan pandangan politik yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, persatuan yang telah dibangun tidak boleh dirusak oleh kepentingan politik sesaat.
“Orang yang sudah susah kita satuin, dipecah belah. Padahal persatuan ini dibutuhkan. Ini energi positif buat bangsa ini, modal sosial kita, modal politik kita,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang mempertajam perbedaan, termasuk di antara kelompok-kelompok yang mendukung pemerintahan.
Menurutnya, dinamika politik semestinya menjadi bagian dari demokrasi yang sehat, bukan alasan untuk terus-menerus mempertajam konflik dan menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.
Soroti Framing Hubungan Prabowo-Jokowi
Dalam perbincangan tersebut, Budi Arie juga menyoroti narasi mengenai hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) setelah keduanya menghadiri peringatan HUT ke-80 TNI pada 5 Oktober 2026.
Ia menyinggung bagaimana momen dalam acara tersebut menjadi bahan perbincangan politik, terutama narasi yang mempermasalahkan Prabowo tidak menyalami Jokowi.
“Tanggal 5 digoreng-goreng, Pak Prabowo tidak menyalami Pak Jokowi di acara TNI. Eh, tanggal 6 mereka ketemu berdua,” kata Budi Arie.
Menurutnya, peristiwa politik tidak semestinya ditafsirkan secara terburu-buru sebagai pertanda perselisihan antartokoh. Informasi perlu dilihat secara utuh dengan mempertimbangkan konteks dan fakta yang menyertainya.
Budi Arie memahami bahwa framing merupakan bagian dari dinamika politik. Namun, ia meyakini masyarakat memiliki kemampuan untuk menilai informasi yang beredar dan membedakan fakta dari narasi yang belum jelas kebenarannya.
“Jangan sesuatu yang enggak clear digoreng-goreng,” tegasnya.
View this post on Instagram
Jangan Habiskan Energi untuk Pertikaian Elite
Budi Arie menegaskan, para elite politik seharusnya tidak menghabiskan waktu dan energi untuk mempertajam perselisihan yang tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi bangsa membutuhkan perhatian dan kerja nyata, mulai dari penanganan bencana, pemenuhan kebutuhan masyarakat, hingga peningkatan kesejahteraan rakyat.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu menjaga agar agenda pelayanan publik tidak tersisih oleh kegaduhan politik.
“Menurut saya, waktu yang sekarang ini dipakai dulu untuk fokus mengurusin rakyat. Jangan kita bertikai, elite ini bertikai hal-hal yang tidak memberi manfaat,” ujarnya.
Pesan Budi Arie menjadi pengingat bahwa kepentingan rakyat harus ditempatkan di atas persaingan politik. Perbedaan pandangan merupakan hal wajar dalam demokrasi, tetapi jangan sampai berkembang menjadi pertikaian yang mengikis persatuan nasional.
Bagi PROJO, menjaga persatuan bukan berarti meniadakan kritik atau perbedaan pendapat. Persatuan justru perlu menjadi landasan agar seluruh elemen bangsa dapat bekerja bersama menghadapi persoalan rakyat.
Ketika masyarakat membutuhkan perhatian dan solusi, energi bangsa seharusnya diarahkan untuk bekerja, melayani, dan menyelesaikan masalah, bukan memperkeruh suasana dengan pertikaian elite yang tidak produktif.***













