JAKARTA, PROJO.or.id — Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah mengungkapkan kecurigaannya terhadap pihak-pihak yang bergabung dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan motif yang menurutnya perlu diwaspadai.
Fahri menilai ada kemungkinan sebagian pihak bergabung bukan semata-mata untuk memperkuat persatuan, tetapi justru membawa agenda yang berpotensi mengganggu hubungan politik antara Prabowo dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Saya ada kecurigaan, kami ada kecurigaan terus terang. Banyak yang sekarang ini bergabung motifnya bukan untuk bersatu,” kata Fahri dalam pernyataannya.
Menurut Fahri, setidaknya terdapat dua motif yang perlu dihindari. Salah satunya adalah upaya memecah persatuan yang telah terbentuk antara Prabowo dan Jokowi.
“Yang pertama adalah motif untuk memecah persatuan yang sudah muncul di antara Pak Prabowo dan Pak Jokowi,” ujarnya.
Fahri menegaskan, menurut pandangannya, koalisi pemerintahan tidak semestinya diisi oleh kelompok yang memiliki agenda untuk merusak soliditas hubungan tersebut.
“Menurut saya, kita tidak bisa berkoalisi dengan kelompok yang ingin memecah apa yang sudah solid,” kata dia.
Soroti Posisi Gibran
Fahri juga mengungkapkan kekhawatiran adanya pihak yang berupaya mengganggu kepemimpinan Prabowo dengan terlebih dahulu menyingkirkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Ada yang ingin mengganggu kepemimpinan Pak Prabowo dengan menyingkirkan Mas Gibran terlebih dahulu misalnya di tengah jalan,” ujar Fahri.
Ia menyebut pola tersebut sebagai indikasi bahwa ada pihak yang ingin bergabung ke dalam pemerintahan dengan niat yang tidak sepenuhnya tulus.
“Ini adalah niat-niat berkoalisi yang tidak ikhlas,” katanya.
Fahri kemudian menekankan pentingnya menerima hasil Pemilu 2024 sebagai dasar dalam membangun pemerintahan.
Menurut dia, pihak yang ingin bergabung seharusnya menerima hasil pemilu dan menghargai proses politik yang telah menghasilkan pasangan Prabowo-Gibran sebagai pemenang Pilpres 2024.
“Kalau mau ikhlas, terima hasil pemilu,” ujarnya.
Fahri juga mengajak pihak-pihak yang bergabung untuk mengakui peran Prabowo dan Jokowi dalam proses politik yang disebutnya telah mempersatukan kekuatan nasional.
“Nyatakan hasil pemilu, ungkapkan terima kasih kepada Pak Prabowo dan Pak Jokowi yang telah mempersatukan kita,” kata Fahri.
Pernyataan Fahri tersebut kembali menempatkan isu soliditas hubungan Prabowo-Jokowi dan posisi Gibran dalam pemerintahan sebagai bagian dari dinamika politik nasional.
Bagi Fahri, persatuan yang telah terbentuk perlu dijaga agar pemerintahan dapat berjalan tanpa agenda politik yang justru memicu perpecahan di tengah perjalanan.***









