• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO
No Result
View All Result

Ketika Tanah Direbut, Air Dirusak, dan Manusia Dipotong: Jika Benar Terjadi, Ini Bukan Sekadar Kriminalitas. Ini Alarm Peradaban.

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
17 Mei 2026
in Opini
Waktu Baca: 2 menit
A A
0
Ketika Tanah Direbut, Air Dirusak, dan Manusia Dipotong: Jika Benar Terjadi, Ini Bukan Sekadar Kriminalitas. Ini Alarm Peradaban.

(Kasus Biadab menimpa Ahmad Syamsuri yang dikeroyok dan dihajar 40 orang, tangan dan kaki digerjaji. Lokasi kejadian : Desa Tumbang Naan, Kecamatan Mahuning. Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah).

DI REPUBLIK yang mengaku beradab, hukum seharusnya berdiri sebagai pagar terakhir ketika kekuasaan berubah rakus. Tetapi ketika konflik sumber daya dibalas dengan teror brutal, masyarakat tak lagi sekadar menyaksikan dugaan tindak pidana mereka melihat retaknya fondasi sosial budaya itu sendiri.

Jika narasi seperti ini benar dan terbukti, maka persoalannya melampaui pasal penganiayaan atau pembunuhan berencana.

Ini menyentuh wajah paling gelap dari benturan antara modal, kekuasaan, dan masyarakat adat atau warga lokal: ketika tanah tak lagi dipandang sebagai ruang hidup, melainkan sekadar komoditas; ketika warga yang bertahan dianggap hambatan; dan ketika intimidasi menjadi bahasa kekuasaan paling purba.

Ahmad Syamsuri yang dikeroyok dan dihajar 40 orang, tangan dan kaki digerjaji. Lokasi kejadian : Desa Tumbang Naan, Kecamatan Mahuning. Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah

Dari Perspektif Sosial: Kekerasan Kolektif Adalah Teror Komunal

Empat puluh orang melawan satu warga, bila terbukti ini bukan sekadar pengeroyokan, melainkan simbol penghancuran pesan sosial: “Lawan kami, habis.”

Ini adalah pola ketakutan yang dalam sejarah banyak komunitas dipakai untuk memecah solidaritas warga. Tujuannya bukan hanya melukai tubuh korban, tetapi melumpuhkan keberanian sosial seluruh kampung.

Akibatnya jauh lebih berbahaya daripada luka fisik:

  • Warga hidup dalam trauma kolektif;
  • Tokoh masyarakat bungkam karena takut;
  • Anak-anak tumbuh dengan pelajaran bahwa kekuatan lebih berkuasa daripada hukum;
  • Kepercayaan terhadap negara runtuh;

Ketika masyarakat mulai percaya bahwa mempertahankan sawah dan air bisa berujung maut, maka negara sedang kehilangan legitimasi moralnya.

Dari Perspektif Budaya: Tanah Bukan Sekadar Lahan

Di banyak wilayah Indonesia, tanah bukan hanya aset ekonomi. Tanah adalah identitas, warisan leluhur, sumber pangan, dan harga diri.

Merusak tanah berarti mengganggu kebudayaan.

Merebut sumber air berarti menyerang keberlangsungan generasi.

Karena itu, konflik agraria sering meledak bukan semata soal izin tambang, tetapi soal benturan nilai: logika investasi versus logika kehidupan.

Jika masyarakat dipaksa memilih antara tunduk atau dihancurkan, maka yang terjadi bukan pembangunan melainkan kolonialisme gaya baru dengan wajah lokal.

Perspektif Hukum: Negara Diuji, Bukan Sekadar Polisi

Kasus seberat ini jika faktanya sahih, menuntut lebih dari sekadar penangkapan pelaku lapangan.

Hukum tidak boleh berhenti pada tangan yang memukul, tetapi harus menelusuri kepala yang memerintah, pihak yang membiayai, dan struktur yang membiarkan.

Karena kejahatan terorganisir lahir bukan dari kebetulan, melainkan dari impunitas.
Pertanyaan besarnya: Apakah negara hadir melindungi warga, atau baru datang setelah darah tumpah?

Bahaya Terbesar: Normalisasi Kebiadaban

Bangsa bisa hancur bukan hanya karena perang, tetapi karena terbiasa melihat kekejaman lalu menganggapnya biasa.
Ketika publik hanya marah sehari, lalu lupa, maka kekerasan akan menemukan pasar barunya: rasa takut.

***

Peradaban diuji bukan saat kota dibangun tinggi, tetapi saat rakyat kecil mempertahankan hak hidupnya tanpa harus kehilangan tubuhnya.

Bila hukum gagal melindungi tanah, air, dan manusia dari teror, maka yang runtuh bukan hanya keadilan, tetapi makna kebangsaan itu sendiri.

Sebab negara yang membiarkan warga diteror demi sumber daya, sedang mengajarkan bahwa nyawa bisa kalah oleh tambang.***

Karl Sibarani – Ketua Bidang Sosial Budaya DPP PROJO.

Via: Karl Sibarani
ShareSend
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Meneladani Jokowi: Saatnya Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Berebut Panggung

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Meneladani Jokowi: Saatnya Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Berebut Panggung
Opini

Meneladani Jokowi: Saatnya Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Berebut Panggung

15 Mei 2026
PSI, Jokowi, dan Politik “Numpang Tenar” : Ketika Partai Kehilangan Kompas, Lalu Menyandar Pada Bayang-bayang
Opini

PSI, Jokowi, dan Politik “Numpang Tenar” : Ketika Partai Kehilangan Kompas, Lalu Menyandar Pada Bayang-bayang

15 Mei 2026
Oase di Tengah Badai: Membaca Peluang UMKM Saat Rupiah Menyentuh Rp17.500
Opini

Oase di Tengah Badai: Membaca Peluang UMKM Saat Rupiah Menyentuh Rp17.500

14 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow Social Media PROJO

TRENDING

  • Ketika Tanah Direbut, Air Dirusak, dan Manusia Dipotong: Jika Benar Terjadi, Ini Bukan Sekadar Kriminalitas. Ini Alarm Peradaban.

    Ketika Tanah Direbut, Air Dirusak, dan Manusia Dipotong: Jika Benar Terjadi, Ini Bukan Sekadar Kriminalitas. Ini Alarm Peradaban.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meneladani Jokowi: Saatnya Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Berebut Panggung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bawa Harapan Warga Bogor, Budiyanto Minta Petunjuk Jokowi Soal SK Kawasan Hutan 2014

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PSI, Jokowi, dan Politik “Numpang Tenar” : Ketika Partai Kehilangan Kompas, Lalu Menyandar Pada Bayang-bayang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halaman Kantor PROJO Jadi Saksi Geliat Ekonomi Kreatif Pemuda Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Transformasi Jadi Gerakan Rakyat, DPD PROJO Sulsel Siap Gelar Konferda di Makassar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oase di Tengah Badai: Membaca Peluang UMKM Saat Rupiah Menyentuh Rp17.500

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Terkini

Ketika Tanah Direbut, Air Dirusak, dan Manusia Dipotong: Jika Benar Terjadi, Ini Bukan Sekadar Kriminalitas. Ini Alarm Peradaban.
Opini

Ketika Tanah Direbut, Air Dirusak, dan Manusia Dipotong: Jika Benar Terjadi, Ini Bukan Sekadar Kriminalitas. Ini Alarm Peradaban.

Oleh Tim Redaksi
17 Mei 2026
0

(Kasus Biadab menimpa Ahmad Syamsuri yang dikeroyok dan dihajar 40 orang, tangan dan kaki digerjaji. Lokasi kejadian : Desa Tumbang...

Selengkapnya
Meneladani Jokowi: Saatnya Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Berebut Panggung

Meneladani Jokowi: Saatnya Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Berebut Panggung

15 Mei 2026
PSI, Jokowi, dan Politik “Numpang Tenar” : Ketika Partai Kehilangan Kompas, Lalu Menyandar Pada Bayang-bayang

PSI, Jokowi, dan Politik “Numpang Tenar” : Ketika Partai Kehilangan Kompas, Lalu Menyandar Pada Bayang-bayang

15 Mei 2026
Projo Tolak Restorative Justice Rismon Sianipar, Freddy Damanik: Ini Kejahatan Serius, Bukan Sekadar Konflik Pribadi!

Sekjen PROJO: Pak Jokowi Milik Rakyat, Bukan Objek Perebutan!

15 Mei 2026
Jokowi Hadiri Puncak Acara Musyawarah Rakyat di Istora

Jokowi Siap Sapa Rakyat Mulai Juni, PROJO: Kami Selalu Setia Mengawal Agenda Bapak!

15 Mei 2026

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.