• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
No Result
View All Result

Ketika Tersangka Mendadak Menjadi “Whistle Blower”

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
14 Juni 2026
in Opini
Waktu Baca: 2 menit
A A
0

Karl Sibarani, Ketua Bidang Sosial dan Budaya DPP PROJO

DALAM setiap kasus korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan, kehadiran whistle blower memang penting. Dalam banyak negara, whistle blower adalah orang yang berani mengambil risiko untuk membongkar kejahatan yang sedang atau akan terjadi, bahkan ketika dirinya bisa kehilangan jabatan, pekerjaan, atau keselamatannya.

Namun persoalannya, apakah semua orang yang bernyanyi setelah tertangkap otomatis layak disebut whistle blower?

Di sinilah publik harus berhati-hati.

Dalam kasus yang menyeret SS terkait pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul narasi bahwa dirinya adalah whistle blower yang sedang membuka tabir berbagai dugaan penyimpangan.

Pertanyaannya sederhana: Jika sejak awal mengetahui ada persoalan, mengapa tidak melapor ketika masih menikmati posisi, fasilitas, dan keuntungan dari sistem tersebut?

Mengapa suara kebenaran baru muncul ketika status tersangka sudah melekat?

KabarLainnya

Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

IHSG Rontok, Kepercayaan Jangan Ikut Ambruk

Jokowi, Sun Tzu, dan Seni Membaca Medan Politik

Ini yang dalam budaya masyarakat sering disebut sebagai “tertangkap dulu, lalu mengaku pejuang kebenaran.”

Whistle blower sejati biasanya berbicara sebelum rumah terbakar. Bukan menunggu api melahap dirinya lebih dulu.

Secara sosial, fenomena seperti ini memperlihatkan gejala yang semakin sering muncul di kalangan elite Indonesia: budaya tanpa rasa malu.

Dulu rasa malu merupakan benteng moral masyarakat. Dalam budaya Nusantara, seseorang yang melakukan kesalahan akan menundukkan kepala, meminta maaf, dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hari ini yang terjadi justru sebaliknya.

Ketika tertangkap, bukan rasa malu yang muncul, melainkan konferensi pers.

Bukan introspeksi, melainkan mencari panggung.

Bukan pertanggungjawaban, melainkan membangun citra sebagai korban.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu orang atau satu kasus. Kita menyaksikan berulang kali bagaimana tersangka korupsi, pejabat bermasalah, hingga pelaku penyalahgunaan kewenangan berlomba-lomba menjadi “pahlawan” setelah pintu penjara mulai dihadapan mereka.

Mereka seolah ingin mengatakan: “Memang saya salah, tetapi lihatlah ada orang lain yang lebih salah.”

Padahal hukum tidak mengenal diskon dosa karena berhasil menunjuk dosa orang lain.

Kalau benar ada penyimpangan yang lebih besar dalam tata kelola MBG, tentu informasi tersebut harus dibuka dan diusut. Negara wajib menindak siapa pun yang terlibat tanpa pandang bulu. Tidak boleh ada yang kebal hukum. Namun pengungkapan fakta itu tidak otomatis menghapus pertanyaan mendasar:

Apa peran SS selama semua itu berlangsung?

Apakah ia bagian dari pihak yang berusaha menghentikan penyimpangan, atau justru bagian dari pihak yang menikmati hasilnya?

Masyarakat tentu berhak bertanya.

Dalam perspektif sosial budaya, yang sedang dipertontonkan bukan sekadar drama hukum, melainkan krisis keteladanan. Kita sedang menyaksikan lahirnya generasi elite yang tidak lagi takut kehilangan kehormatan, karena kehormatan telah digantikan oleh kemampuan mengelola opini.

Akibatnya, ruang publik dipenuhi paradoks.

Yang seharusnya menjelaskan perbuatannya justru sibuk membuat narasi.

Yang seharusnya meminta maaf justru meminta simpati.

Yang seharusnya diperiksa justru berusaha menjadi pemeriksa.

Karena itu publik perlu membedakan antara whistle blower dan survivor politik yang sedang mencari pelampung.

Whistle blower membongkar kejahatan demi menyelamatkan kepentingan publik.

Sedangkan mereka yang baru bernyanyi setelah tertangkap sering kali sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

Jika informasi yang disampaikan SS benar, negara wajib menindaklanjutinya. Tetapi jika pengakuan itu hanya muncul setelah semua kenikmatan diperoleh dan setelah status tersangka disandang, maka publik berhak menilai bahwa ini bukan keberanian moral, melainkan strategi bertahan hidup.

Dan di situlah ironi terbesar bangsa ini:

Rasa malu semakin langka, tetapi kemampuan memainkan peran sebagai korban justru semakin sempurna.

Ketika elite tidak lagi malu melakukan kesalahan, maka yang terancam bukan hanya hukum, melainkan budaya. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh ketika kehilangan uang, tetapi ketika kehilangan rasa malu.***

Karl Sibarani, Ketua Bidang Sosial Budaya  DPP PROJO

Add as Preferred Source
Tags: Karl SibaraniKetua Bidang Sosial Budaya  DPP PROJOWhistle Blower
Share11Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Menjinakkan Bom Waktu Ekologis: Menggugat Paradoks Pengelolaan Sampah Kita

Kabar Selanjutnya

​”Saya Orang Kampung”: Cara Elegan Jokowi Menurunkan Nada di Tengah Riuh Klaim Politik

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Ketika Lapas Menjadi Resort, Hukuman Menjadi Liburan
Opini

Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

28 Oktober 2026
Dolar Tembus Rp17.500: Mengapa Rupiah Terus Tertekan Meski Angka Ekonomi Masih Terlihat Bagus?
Opini

IHSG Rontok, Kepercayaan Jangan Ikut Ambruk

19 Oktober 2026
Semua Orang Bicara Jokowi: Antara Benci, Cinta, dan Cari Panggung
Opini

Jokowi, Sun Tzu, dan Seni Membaca Medan Politik

19 Oktober 2026
Kabar Selanjutnya
​”Saya Orang Kampung”: Cara Elegan Jokowi Menurunkan Nada di Tengah Riuh Klaim Politik

​"Saya Orang Kampung": Cara Elegan Jokowi Menurunkan Nada di Tengah Riuh Klaim Politik

Lima Isu yang Mendominasi Perbincangan Publik Nasional pada 7-14 Juni 2026

Lima Isu yang Mendominasi Perbincangan Publik Nasional pada 7-14 Juni 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Budi Arie: Jika Jokowi Pimpin PSI, Arah Politik Relawan Akan Lebih Jelas

Budi Arie: Jika Jokowi Pimpin PSI, Arah Politik Relawan Akan Lebih Jelas

30 Oktober 2026
Budi Arie: Jika Jokowi Menerima Tanggung Jawab Pimpin PSI, Double Digit Bisa Terlampaui

Budi Arie: Jika Jokowi Menerima Tanggung Jawab Pimpin PSI, Double Digit Bisa Terlampaui

30 Oktober 2026
Niat Makzulkan Wapres Gagal, Denny Ajak Prabowo Ikut Konspirasi?

Niat Makzulkan Wapres Gagal, Denny Ajak Prabowo Ikut Konspirasi?

30 Oktober 2026
[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa

PROJO: Putusan MA Tak Otomatis Batalkan Jabatan Gibran, Freddy Alex Damanik Ingatkan Mekanisme Konstitusi

30 Oktober 2026

[ Siaran Pers ] PROJO: Putusan MA soal Suket Penyetaraan Pendidikan Tidak Otomatis Batalkan Jabatan Gibran sebagai Wakil Presiden

30 Oktober 2026
Gibran Siap Buka-bukaan soal Ijazah, Penggugat Mundur Sebelum Pembuktian

Gibran Siap Buka-bukaan soal Ijazah, Penggugat Mundur Sebelum Pembuktian

30 Oktober 2026

TRENDING

  • [SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa

    PROJO: Putusan MA Tak Otomatis Batalkan Jabatan Gibran, Freddy Alex Damanik Ingatkan Mekanisme Konstitusi

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Gibran Siap Buka-bukaan soal Ijazah, Penggugat Mundur Sebelum Pembuktian

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Penuh Senyum, Rombongan Emak-emak Bangkalan Silaturahmi dengan Jokowi di Sumber Solo

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • [ Siaran Pers ] PROJO: Putusan MA soal Suket Penyetaraan Pendidikan Tidak Otomatis Batalkan Jabatan Gibran sebagai Wakil Presiden

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Budi Arie: Jika Jokowi Menerima Tanggung Jawab Pimpin PSI, Double Digit Bisa Terlampaui

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

    29 shares
    Share 12 Tweet 7

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.