BANDUNG, PROJO.or.id – Siang itu, aroma kopi menyelinap di antara bising knalpot dan kepulan asap kendaraan di kawasan Buah Batu, Bandung.
Di sebuah kedai kecil yang bersahaja, saya duduk melingkar bersama Abdi—begitu ia akrab disapa—seorang driver ojek online yang sedang melepas penat di sela orderan yang masuk.
Di meja kayu yang mulai kusam, dua cangkir kopi hitam mengepul. Abdi menyesap kopinya perlahan.
“Ini kopi Arabika Bandung, Kang. Rasanya ada asam-asamnya tapi ada manisnya, padahal saya enggak pakai gula. Inilah kelebihannya,” ujar Abdi dengan senyum tipis, seolah kopi itu adalah kemewahan sederhana di tengah hari yang terik.
Obrolan di Balik Kemudi: Iran, Israel, dan Harga Minyak
Meski kesehariannya dihabiskan di atas aspal, wawasan Abdi melampaui rute jalan tikus di Kota Kembang. Obrolan kami mengalir dari rasa kopi ke krisis energi dunia yang kian mencekam akibat eskalasi konflik antara Iran, Israel, hingga keterlibatan Amerika Serikat.
Abdi mengaku sering menyimak berita di sela menunggu penumpang. Ia tahu betul bahwa di negara tetangga seperti Singapura, Thailand, hingga Filipina, harga BBM sudah melambung tinggi, mencekik rakyatnya.
“Saya bersyukur, Kang. Hari ini Indonesia masih bisa bertahan. Padahal dunia lagi kacau soal energi,” tuturnya dengan nada lega.
Kepastian dari Istana: Harga BBM Tetap Stabil
Keresahan Abdi dan jutaan rekan seprofesinya terjawab sudah. Menjawab spekulasi yang sempat beredar, Pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memberikan pernyataan tegas bahwa harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, tidak akan mengalami kenaikan.
Keputusan ini menjadi oase bagi para pekerja sektor transportasi yang menggantungkan hidupnya pada stabilitas harga energi. Harapan Presiden Prabowo Subianto jelas: keputusan harus selalu berpihak pada kepentingan rakyat kecil.
Indonesia Sebagai “Lighthouse” Asia Tenggara
Optimisme Abdi bukan tanpa alasan. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia kini tengah agresif melakukan hilirisasi energi dan penguatan program biodiesel, seperti rencana B50 yang baru saja dicanangkan.
Langkah ini dipandang mampu menjadikan Indonesia sebagai “Lighthouse” atau mercusuar ketahanan energi di Asia Tenggara.
Di saat negara-negara lain mungkin mulai “gelap” karena harga minyak yang tak terjangkau, Indonesia punya cukup cahaya untuk tetap menyala.
“Asal dikelola dengan transparan dan benar-benar buat rakyat, saya yakin kita aman,” tambah Abdi sebelum menghabiskan sisa kopi terakhirnya.
Sinar matahari sore di Buah Batu tampak lebih bersahabat hari itu. Di balik setang motornya, ada harapan yang ikut menyala—bahwa dapur akan tetap mengepul karena mesin-mesin transportasi tetap bisa berputar dengan harga yang terjaga.***












