BANDUNG, PROJO.or.id — Di sebuah sudut pasar tradisional yang riuh di Bandung, Bu Ratna (52) tampak tenang memilah cabai merah. Di genggaman tangannya, layar ponsel pintar sesekali menyala, menampilkan notifikasi grup WhatsApp yang sedang membara.
Isinya seragam: potongan video ketegangan di Timur Tengah, grafik harga minyak mentah yang fluktuatif, dan seruan-seruan bernada panik tentang “kiamat BBM” serta kabar miring harga bakal naik drastis.
Namun, alih-alih ikut mengetikkan komentar penuh kecemasan, Bu Ratna hanya tersenyum tipis dan memasukkan ponselnya ke saku daster. Bagi ibu dua anak ini, suara bising di media sosial hanyalah “interupsi” yang tak boleh mengganggu kestabilan ekonomi rumah tangganya.
Benteng Waras di Tengah Narasi Ketakutan
“Kalau saya ikut panik, terus lari ke SPBU buat antre panjang, yang ada malah kerjaan di rumah terbengkalai,” ujar Bu Ratna mantap.
Sikap Bu Ratna adalah antitesis dari narasi ketakutan yang sengaja disebar oleh para “pengasong drama”. Di saat provokator mencoba membakar sumbu kepanikan dengan prediksi-prediksi suram dan hoaks kenaikan harga, figur emak-emak seperti Bu Ratna justru menjadi penjaga nalar sehat di akar rumput.
Ia paham betul bahwa ada perbedaan mendasar antara fakta dan drama. Dan fakta terbaru, justru membawa angin segar bagi ketenangan masyarakat.
Fakta Kuat Per 1 April 2026: Tidak Ada Kenaikan!
Di tengah keriuhan informasi keliru yang menyebutkan harga BBM nonsubsidi bakal naik drastis, pemerintah memberikan kepastian yang menyejukkan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, merespons langsung ramainya kabar burung tersebut dengan pernyataan resmi pada Selasa (31/03/2026).
“Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga, baik untuk BBM subsidi maupun BBM nonsubsidi,” tegas Mensesneg Prasetyo Hadi.
Pernyataan ini menegaskan bahwa per 1 April 2026, harga Pertalite, Solar subsidi, hingga Pertamax series dan Dex series tetap sama alias tidak naik.
Mensesneg menambahkan, keputusan strategis ini diambil setelah adanya koordinasi intensif antara pemerintah dengan Pertamina.
Terlebih, terdapat petunjuk jelas dari Presiden Prabowo Subianto untuk selalu mengedepankan kepentingan rakyat dalam setiap pengambilan keputusan.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Balik Dapur
Apa yang mungkin tidak banyak dibicarakan di grup WhatsApp Bu Ratna adalah peran besar APBN sebagai shock absorber atau peredam kejut.
Di saat negara-negara tetangga di Asia mulai kelimpungan dan menaikkan harga energi secara drastis, Indonesia masih mampu berdiri tegak mempertahankan harga.
“Ibarat rumah tangga, pemerintah itu sedang menambal lubang supaya atap kita nggak bocor kena badai perang di luar sana,” analogi Bu Ratna sederhana namun tepat sasaran.
Keputusan pemerintah untuk menahan harga BBM—baik subsidi maupun non-subsidi—adalah langkah strategis agar beban fiskal negara dikelola sedemikian rupa tanpa langsung membebani rakyat, sekaligus memastikan bahwa harga pangan di pasar tetap terjangkau.
Waspada Kelangkaan Semu
Risiko terbesar saat ini bukanlah ketiadaan stok, melainkan kelangkaan semu yang diciptakan oleh kepanikan. Para provokator merindukan satu hal: antrean panjang di SPBU yang dipicu oleh panic buying akibat percaya hoaks.
Jika masyarakat terpancing, gesekan di lapangan bisa berubah menjadi ketidakstabilan politik—sebuah skenario yang hanya menguntungkan pihak-pihak yang ingin melihat kekacauan.
Mengapa kita harus tetap tenang?
- Kepastian Harga: Mensesneg sudah mengonfirmasi harga tetap per 1 April 2026.
- Stok BBM Aman: Pertamina telah menjamin pasokan nasional dalam posisi stabil.
- Kejernihan Berpikir: Membeli berlebihan hanya akan mengganggu distribusi dan merugikan tetangga sendiri.
Menolak Jadi “Bahan Bakar” Konflik
Bu Ratna menyelesaikan belanjanya dengan tenang. Baginya, menjaga kejernihan berpikir adalah bentuk patriotisme paling nyata saat ini. Ia menolak menjadi “bahan bakar” bagi kepentingan politik pihak tertentu yang memanfaatkan isu ekonomi untuk memicu kerusuhan.
“Provokasi itu seperti api, kalau kita nggak kasih angin, ya mati sendiri,” pungkasnya sambil berlalu.
Pesan dari pasar pagi ini jelas: isi bensin secukupnya, baca berita dengan kepala dingin, dan pegang teguh pengumuman resmi pemerintah. Indonesia masih bertahan di tengah badai global, dan tugas kita hanyalah menjaga agar “rumah” kita tetap tenang dan stabil.***









![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-120x86.jpeg)


![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-350x250.jpeg)