JAKARTA, PROJO.or.id – Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi optimistis Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berpeluang menjadi salah satu kekuatan politik besar di Indonesia apabila Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menerima tanggung jawab untuk memimpin partai tersebut.
Budi Arie menilai, kepemimpinan Jokowi berpotensi menghadirkan gelombang dukungan besar dari berbagai elemen masyarakat, termasuk relawan dan pendukung yang selama ini berada di luar struktur partai politik.
Hal itu disampaikan Budi Arie dalam wawancara di kanal YouTube Tutur TV. Ia menegaskan, jika Jokowi memutuskan memimpin PSI, arah politik para pendukungnya akan menjadi lebih jelas.
“Kalau Pak Jokowi memutuskan menerima tanggung jawab sebagai ketua umum partai, tentu sikap para pendukung dan relawan Pak Jokowi bisa lebih jelas. Tidak ada abu-abu lagi,” ujar Budi Arie.
Menurutnya, potensi PSI untuk menembus perolehan suara dua digit bukan sekadar angan-angan. Budi Arie menyebut, kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi masih menjadi modal politik yang kuat.
Ia mengakui pengaruh Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden tentu mengalami penurunan dibandingkan ketika masih memimpin pemerintahan. Namun, pengaruh tersebut tidak serta-merta hilang.
“Pengaruh Pak Jokowi lebih menurun dibanding ketika beliau masih menjabat presiden, pasti. Cuma habis enggak. Saya masih yakin strong voter Pak Jokowi masih tinggi. Arus grassroot-nya masih kuat,” katanya.
Budi Arie bahkan menyebut Jokowi sebagai simbol rakyat dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Menurutnya, kekuatan politik Jokowi tidak semata-mata bersumber dari jabatan, melainkan dari kepercayaan masyarakat.
“Pak Jokowi ini rakyat. Saya berkali-kali bilang, kenapa Pak Jokowi susah disingkirkan dari panggung politik Indonesia? Karena simbol rakyat itu ada di Pak Jokowi,” tegasnya.
Target PSI Bisa 15-18 Persen
Budi Arie menilai, membesarkan partai politik membutuhkan strategi dan kerja organisasi yang berbeda dibandingkan memenangkan pemilihan presiden.
Dalam pemilihan legislatif, partai harus memiliki kekuatan organisasi hingga tingkat daerah pemilihan, jaringan, program, serta calon anggota legislatif yang kompetitif.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa potensi dukungan terhadap Jokowi harus dikelola melalui kerja politik yang terukur.
Ketika ditanya mengenai potensi perolehan suara PSI, Budi Arie menyebut angka 15 hingga 18 persen sebagai gambaran potensi yang bisa diperjuangkan.
“Prediksi di sekitar 15 sampai 18 persen. Itu potensi ke arah sana ada. Pekerjaannya memang harus banyak,” ungkapnya.
Ia juga menyatakan bahwa jika Jokowi benar-benar memimpin PSI, dirinya melihat bergabungnya berbagai kelompok relawan ke dalam partai tersebut sebagai konsekuensi politik yang logis.
Budi Arie menegaskan, perjuangan politik para pendukung Jokowi harus tetap sejalan dengan arah perjuangan Jokowi.
Jokowi dan Prabowo Harus Tetap Bersatu
Di tengah spekulasi mengenai kemungkinan Jokowi memimpin PSI dan dinamika politik menuju Pemilu 2029, Budi Arie juga menepis anggapan bahwa langkah tersebut akan menjadi awal pertarungan terbuka antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, Jokowi dan Prabowo justru harus menjaga persatuan karena perpisahan keduanya hanya akan merugikan masing-masing pihak.
“Menurut saya Pak Prabowo dan Pak Jokowi ini harus tetap bersatu karena kalau mereka berpisah dua-duanya rugi,” kata Budi Arie.
Ia bahkan berpandangan bahwa kekuatan politik keduanya akan semakin sulit dikalahkan apabila tetap berada dalam satu barisan.
Budi Arie mengingatkan bahwa kemenangan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 tidak bisa dilepaskan dari dukungan politik Jokowi.
Ia mencontohkan kemenangan Prabowo di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, serta kawasan Indonesia Timur.
Menurutnya, kombinasi kekuatan politik Prabowo dan Jokowi telah terbukti memberikan energi positif dalam kontestasi politik nasional.
Karena itu, ia meminta agar berbagai pihak tidak terus-menerus membangun narasi yang berupaya mempertentangkan kedua tokoh tersebut.
“Ini bukan soal ego. Ini urusannya negara, bangsa, dan rakyat,” ujarnya.
PSI Harus Menjadi Partai Solutif
Lebih jauh, Budi Arie berharap apabila Jokowi menerima tanggung jawab memimpin PSI, partai tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan politik yang memberikan solusi bagi persoalan bangsa.
Ia menekankan bahwa partai politik tidak boleh sekadar menjadi kendaraan untuk mengejar kekuasaan, tetapi harus mampu memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat.
Menurutnya, partai politik memiliki tanggung jawab konstitusional dalam memperkuat demokrasi, melahirkan pemimpin berkualitas, serta memberikan alternatif bagi masyarakat dalam menyalurkan aspirasi politik.
“Kita berharap partai yang dipimpin Pak Jokowi adalah partai solutif. Partai yang memberikan solusi bagi berbagai macam problematika kebangsaan, kenegaraan, dan kerakyatan kita,” tegasnya.
Budi Arie juga mengingatkan bahwa kepercayaan rakyat menjadi modal utama bagi partai politik. Karena itu, setiap program dan kebijakan harus benar-benar memberikan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.
Baginya, ukuran keberhasilan perjuangan politik bukan sekadar klaim bahwa kebijakan dibuat untuk rakyat, melainkan sejauh mana rakyat benar-benar merasakan manfaatnya.
“Kalau untuk rakyat, variabel utama menilainya adalah manfaat yang dirasakan oleh rakyat,” pungkasnya.***








![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-120x86.jpeg)


![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-350x250.jpeg)