JAKARTA, PROJO.or.id – Ada kegelisahan yang tidak selalu bisa disampaikan melalui angka, laporan, atau deretan berita. Terkadang, kesedihan seorang jurnalis justru menjadi cermin bagi kondisi sebuah bangsa.
Itulah yang tergambar ketika jurnalis senior Tutur Media Digital, Gaib Maruto Sigit, tak kuasa menahan tangis saat berbicara mengenai situasi Indonesia belakangan ini di video media sosial @tuturmediadigital
Seharian mengabarkan berbagai peristiwa buruk, mulai dari sederet bencana, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga persoalan penyadapan terhadap kepala negara, membuat Gaib larut dalam keprihatinan.
Tangisnya bukan sekadar ungkapan kelelahan seorang jurnalis. Di balik itu, ada kecemasan tentang masa depan Indonesia dan generasi yang akan mewarisi negeri ini.
Sebagai insan media, Gaib mengaku sedih melihat berbagai persoalan yang terus bermunculan. Ia teringat anak-anak dan generasi penerus yang kelak harus menghadapi konsekuensi dari kondisi bangsa hari ini.
Kesedihan tersebut juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni moralitas dan integritas.
Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya sibuk menghadapi persoalan demi persoalan tanpa membenahi nilai-nilai yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Masa Depan Anak-anak dan Kegelisahan Rakyat
Dalam perbincangan tersebut, persoalan masa depan anak-anak menjadi salah satu hal yang membuat Gaib tertegun.
Ia menggambarkan kegelisahan sederhana yang sebenarnya dirasakan banyak keluarga: apakah generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk hidup layak, memiliki rumah, dan membangun masa depan yang lebih baik?
Gaib menceritakan percakapannya dengan sang anak mengenai harga rumah di kawasan Jati Makmur, Pondok Gede, yang disebut sudah mencapai sekitar Rp2,2 miliar.
Harga tersebut membuatnya merenungkan betapa beratnya perjuangan generasi muda untuk memiliki tempat tinggal, bahkan di kawasan yang berada di luar pusat Jakarta.
Pertanyaan sang anak tentang kemungkinan memiliki rumah sendiri menjadi gambaran kecil dari persoalan besar yang dihadapi masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika politik dan persoalan nasional, kebutuhan dasar rakyat tetap harus menjadi perhatian utama para pemimpin.
Bagi Gaib, masa depan bangsa tidak boleh hanya menjadi bahan perdebatan elite. Ada kehidupan masyarakat yang harus dipikirkan, termasuk anak-anak yang membutuhkan kepastian masa depan.
Saatnya Elite Menyingkirkan Sekat Kekuasaan
Dari kegelisahan tersebut, muncul sebuah harapan agar para pemimpin, tokoh bangsa, dan elite politik bersedia duduk bersama.
Gaib mempertanyakan mengapa para pemimpin bangsa tidak bisa mengesampingkan sementara kepentingan partai maupun perebutan kekuasaan untuk membicarakan persoalan yang lebih besar, yaitu masa depan Indonesia.
Ia berharap para tokoh bangsa dapat berpikir lebih jernih dan membangun komunikasi di tengah berbagai persoalan yang sedang dihadapi negara.
Ajakan tersebut bukan berarti menghapus perbedaan politik. Demokrasi tetap membutuhkan kritik, kontrol, dan perbedaan pandangan. Namun, kepentingan bangsa semestinya menjadi ruang bersama yang tidak dikalahkan oleh pertarungan kepentingan jangka pendek.
Di tengah dunia yang terus berubah, berbagai negara telah mempersiapkan sumber daya manusia, mengirim generasi mudanya belajar ke luar negeri, serta menyusun cetak biru untuk menghadapi tantangan global.
Sementara itu, Indonesia dinilai tidak boleh terus-menerus tersandera oleh persoalan internal yang tidak kunjung selesai.
Integritas Menjadi Pekerjaan Rumah Bangsa
Salah satu pesan paling kuat dari kegelisahan Gaib adalah pentingnya membenahi moralitas dan integritas.
Pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, serta kemajuan teknologi tidak akan cukup apabila tidak disertai karakter kepemimpinan yang jujur dan bertanggung jawab.
Integritas menjadi fondasi penting agar kekuasaan benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan sekadar mempertahankan pengaruh dan kepentingan kelompok.
Di sinilah tanggung jawab para pemimpin diuji. Bukan hanya dalam kemampuan menyelesaikan persoalan yang muncul, tetapi juga dalam keberanian membangun kesepakatan untuk masa depan bangsa.
Indonesia membutuhkan ruang dialog yang sehat, tempat perbedaan dapat dibicarakan tanpa harus berubah menjadi permusuhan.
Harapan di Tengah Kegelapan
Tangis Gaib Maruto Sigit menyisakan satu pertanyaan penting: sampai kapan masyarakat harus menyaksikan berbagai persoalan bangsa tanpa melihat kesungguhan para elite untuk mencari jalan keluar bersama?
Di tengah suasana yang penuh kegelisahan, harapan tetap harus dijaga. Kritik tidak boleh dimaknai sebagai kebencian terhadap negara. Justru kepedulian terhadap Indonesia harus menjadi alasan untuk terus mengingatkan para pemegang kekuasaan.
Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Persatuan berarti memiliki kesediaan untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas perbedaan kepentingan politik.
Indonesia tidak kekurangan tokoh, pemikir, maupun orang-orang yang memiliki gagasan. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling mendengar, memperkuat integritas, dan bekerja bersama.
Masa depan anak-anak Indonesia terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh pertengkaran elite yang tidak berkesudahan.
Mungkin, di tengah berbagai kabar buruk yang setiap hari menghiasi ruang pemberitaan, tangis seorang jurnalis justru menjadi pengingat bahwa masih ada kepedulian terhadap negeri ini.
Dan seperti harapan yang muncul dalam perbincangan tersebut, selalu ada cahaya di tengah kegelapan. Persoalannya, apakah para pemimpin bangsa bersedia berjalan bersama untuk menemukannya?***













