PAGI ITU Bu Siti di Pasar Beringharjo lagi-lagi menarik napas panjang. Harga telur naik lagi. Anaknya minta dibekalin telur ceplok, tapi dompet bicara lain.
Di waktu yang sama, 50 km dari pasar, Pak Karto di Klaten baru panen telur ayamnya 10 peti. Tapi mukanya nggak sumringah. “Lha mau gimana Mbak, kalau nggak dijual ke pengepul, busuk di kandang,” katanya pelan.
Dua cerita ini terjadi setiap hari. Di hulu, petani panennya banyak. Di hilir, ibu-ibu di pasar geleng kepala lihat harga. Di tengahnya, ada jarak yang panjang. Jarak itulah yang bikin pangan jadi mahal.
Lama-lama saya mikir: kuncinya bukan cuma tanam lebih banyak. Tapi siapa yang “nahan” hasil panen itu, sebelum sampai ke meja kita?
Jawabannya sederhana, tapi sering kita lupa sebuah nama: Koperasi.
Koperasi Itu Rumahnya Petani
Coba bayangin Koperasi kayak rumah besar di desa. Di situ petani kumpul. Ada gudangnya buat nyimpen gabah, ada kulkasnya buat nyimpen cabai biar nggak layu, ada mesin gilingnya biar nggak nunggu tengkulak. Ada cold storage untuk nyimpen produk agrikultur mangga, ikan, dll
Kalau panen raya tiba, petani tidak terburu-buru menjjual murah. Masukkan aja ke “rumah” Koperasi. Tunggu 2 minggu, harga normal, baru jual. Untungnya balik ke anggota.
Kalau pakan ayam mahal karena impor, Koperasi bikin unit kecil-kecilan buat olah limbah pasar jadi maggot. Proteinnya sama, harganya separuh. Anak ayam kenyang, telur tetap Rp25 ribu.
Sederhana ya? Tapi justru yang sederhana ini yang bikin rantai pangan jadi pendek. Dari sawah, ke Koperasi, langsung ke warung. Nggak mampir 5-6 tangan.
Bukan Soal Nostalgia, Tapi Soal Perut
Saya tahu, kalau dengar kata “Koperasi”, yang kebayang kadang rapat, SHU dibagi setahun sekali, berkasnya tebal. Kesannya jadul.
Padahal Koperasi hari ini beda. Ada Koperasi yang pakai aplikasi HP buat catat stok. Ada Koperasi yang jualannya online, kirim beras ke kota pakai kurir. Ada Koperasi anak muda yang bikin brand “Beras Koperasi Desa X” dan laku keras.
Data dari Kementerian Koperasi bilang, Koperasi yang aktif kelola pangan itu 40% lebih tahan saat harga komoditas global goyang. Karena mereka nggak kerja sendirian. Mereka kerja bareng.
Yang Kita Butuh Cuma 3 Hal
Biar Koperasi beneran jadi “dapur” ketahanan pangan kita, sebenarnya nggak muluk-muluk:
Pertama, kasih Koperasi tempat. Gudang kosong, tanah nganggur milik negara kalau bisa dipakai Koperasi buat simpen hasil panen. Biar petani nggak panik saat panen.
Kedua, kasih Koperasi alat. Mesin giling padi, cold storage kecil, mesin pengering. Modalnya nggak besar. Tapi dampaknya: petani nggak rugi saat panen melimpah.
Ketiga, kasih Koperasi pasar. Dapur Makan Bergizi Gratis, rumah sakit, sekolah… kalau 30% belanjanya dari Koperasi lokal, itu udah cukup bikin Koperasi hidup dan petani tenang.
Mulai dari Kita yang Beli
Ketahanan pangan itu bukan cuma tugas pemerintah. Tugas kita juga.
Mulai minggu depan, coba deh mampir ke Koperasi atau “Toko Tani” di desa/kota kita. Beli sekilo beras, sebutir telur. Tanya, “Ini dari petani mana, Bu?”
Percaya deh, rasanya beda. Karena tiap kita beli di Koperasi, artinya kita bilang ke petani: “Pak, Bu, kerja kerasnya dihargai. Nggak usah buru-buru jual murah.”
Mungkin perubahan besar nggak datang besok. Tapi kalau 10 juta keluarga Indonesia mulai “pulang” belanja ke Koperasi, harga pangan akan lebih tenang. Petani lebih sejahtera. Dan anak-anak kita tetap bisa sarapan telur ceplok tanpa bikin Bu Siti menarik napas panjang.
Koperasi mungkin bukan kata yang keren. Tapi buat urusan perut, Koperasi itu penting banget.
Yuk, kita kuatin bareng-bareng. Karena pangan yang kuat, mulainya dari Koperasi yang kuat. Dan Koperasi yang kuat, mulainya dari kita yang mau dukung.
Itulah yang sedang dibuat tulisan besar oleh pak Prabowo tentang Koperasi Desa Merah Putih, yang orang-orang Baru tersadar Kopdes Merah Putih Sudah Berdiri Operasional 1061 buah, menuju 30.000 buah di Agustus 2026. Bangun Dari Mimpi, yuk kita dukung****
Jarot Trisunuwarso, Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PROJO.













