TANGERANG SELATAN, PROJO.or.id – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PROJO Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyoroti tajam krisis pengelolaan sampah yang kian mengkhawatirkan di wilayah kota satelit penyangga Ibu Kota tersebut. Dengan volume timbulan sampah yang kini menembus angka 1.200 ton per hari, PROJO mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel untuk segera mengambil langkah terobosan dan mempercepat sinergi dengan Program Strategis Nasional (PSN) yang telah disiapkan Pemerintah Pusat.
Ketua DPC PROJO Kota Tangerang Selatan, Musrifah, S.E., menyatakan bahwa persoalan sampah di Tangsel bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan isu strategis kerakyatan yang berdampak langsung pada kualitas hidup, kesehatan, dan keselamatan jutaan warga.
“Sebagai organisasi relawan yang lahir dari semangat mendukung pembangunan nasional berlandaskan nilai-nilai kerakyatan, PROJO Tangsel memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata melihat TPA Cipeucang yang overkapasitas dan menjadi bom waktu ekologis bagi masyarakat sekitar,” ujar Musrifah dalam keterangannya di Tangerang Selatan, Juni 2026.
Urgensi Mengurai Benang Kusut Struktural
Menurut Musrifah, akar masalah persampahan di Tangsel terletak pada kompleksitas struktural dari hulu ke hilir. Di hulu, kultur pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih sangat minim. Sementara di hilir, infrastruktur wilayah seperti Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) 3R baru beroperasi di beberapa titik terbatas, ditambah mandeknya adopsi teknologi modern ramah lingkungan.
PROJO Tangsel menilai Pemerintah Pusat sebenarnya telah memberikan karpet merah melalui berbagai regulasi strategis. Di antaranya Perpres Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan (Waste-to-Energy), serta Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Pengelolaan Sampah (Perpres Nomor 97 Tahun 2017).
“Pemerintah Pusat sudah menyiapkan instrumennya. Sekarang bolanya ada di Pemkot Tangsel. Daerah jangan hanya menjadi objek kebijakan yang pasif, tetapi harus proaktif menjemput bola, memanfaatkan skema pembiayaan seperti Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), Dana Alokasi Khusus (DAK), hingga hibah internasional yang difasilitasi pusat,” tegasnya.
Lima Langkah Taktis Menuju Tangsel Bersih 2030
Untuk mengurai benang kusut tersebut, DPC PROJO Tangsel menyodorkan lima rekomendasi taktis yang harus segera diwujudkan oleh jajaran Pemkot Tangsel:
-
Akselerasi TPST 3R di Tiap Kecamatan: Membangun fasilitas pengolahan sampah organik dan anorganik berbasis wilayah di 7 kecamatan se-Tangsel dengan melibatkan jaringan domestik (PKK dan Karang Taruna).
-
Eksekusi Teknologi Waste-to-Energy (WtE): Memanfaatkan potensi ekonomi 1.200 ton sampah harian menjadi pasokan energi listrik fasilitas publik melalui kemitraan dengan investor dan PLN.
-
Digitalisasi Sistem Pengelolaan: Mengadopsi aplikasi pelaporan, penjemputan sampah terjadwal, dan bank sampah digital guna menyasar masyarakat urban Tangsel yang berliterasi digital tinggi.
-
Penegakan Regulasi yang Tegas (Carrot & Stick): Pemberian insentif bagi lingkungan yang konsisten memilah, serta sanksi hukum berat bagi pengembang perumahan atau industri yang membuang limbah sembarangan.
-
Pemberdayaan Ekonomi Sirkular: Menjadikan pengelolaan sampah sebagai stimulus ekonomi kerakyatan dengan melibatkan UMKM dan komunitas lokal dalam industri daur ulang.
PROJO Bergerak di Dua Jalur: Kebijakan dan Akar Rumput
Lebih lanjut, Musrifah menegaskan bahwa PROJO Tangsel enggan sekadar menjadi komentator dari menara gading. Saat ini, organisasi berlambang pohon beringin dan wajah Jokowi ini terus bergerak di dua lini sekaligus.
Di tingkat kebijakan, PROJO aktif mengawal agar isu lingkungan mendapat porsi anggaran yang proporsional dalam APBD Kota Tangsel serta menginisiasi dialog multipihak bersama akademisi dan praktisi. Sedangkan di akar rumput, kader-kader PROJO Tangsel konsisten turun ke kelurahan-kelurahan untuk mengedukasi ibu-ibu PKK dan para pemuda mengenai pentingnya pemilahan sampah dari rumah.
“Visi Tangsel Bersih 2030 bukan angan-angan kosong. Surabaya dan Banyuwangi bisa bertransformasi karena adanya political will yang kuat dari kepala daerahnya. PROJO Tangsel siap menjadi mitra terdepan sekaligus pengawal kebijakan untuk memastikan sinergi pusat-daerah ini berjalan nyata demi masa depan generasi hari ini dan esok,” pungkas Musrifah.***













