JAKARTA, PROJO.or.id – Peneliti Senior HAVARA Institute, Debar Barnadi, mengungkapkan hasil analisis Social Listening dan Open Source Intelligence (OSINT) yang menunjukkan bahwa percakapan publik mengenai Safari Jokowi Keliling Indonesia masih didominasi sentimen positif.
Berdasarkan pemantauan selama Juni hingga 3 Agustus 2026, estimasi sentimen nasional mencapai 52 persen positif, 29 persen netral, dan 19 persen negatif.
Menurut Debar, mayoritas masyarakat memandang rangkaian safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai bentuk kedekatan dengan rakyat. Sementara itu, narasi negatif lebih banyak berkembang di ruang diskusi politik dan berasal dari kelompok yang membingkai safari tersebut sebagai bagian dari dinamika politik nasional menjelang 2029.
Rangkaian Safari Jokowi yang menjadi objek analisis diawali dengan kunjungan ke Lampung pada 26–28 Juni 2026, kemudian berlanjut ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli hingga awal Agustus 2026. Kedua kunjungan tersebut menjadi momentum yang memicu lonjakan percakapan di media sosial.
“Berdasarkan hasil pemantauan kami, percakapan publik secara umum masih berada pada spektrum positif hingga netral. Antusiasme masyarakat di berbagai daerah menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat persepsi tersebut,” ujar Debar Barnadi.
Laporan HAVARA Institute yang disusun melalui pemantauan platform X (Twitter), TikTok, Instagram, Facebook, Threads, YouTube, serta media online menunjukkan bahwa konten visual mengenai interaksi Jokowi dengan masyarakat, tokoh adat, petani, pelaku UMKM, dan relawan memperoleh tingkat keterlibatan (engagement) yang tinggi, terutama di TikTok, Instagram, dan YouTube.
Sebaliknya, percakapan di X dan Threads lebih didominasi diskursus politik. Di kedua platform tersebut berkembang berbagai pembahasan mengenai makna safari Jokowi, arah politik menuju 2029, hingga hubungan Jokowi dengan sejumlah kekuatan politik.
Debar menjelaskan, dinamika percakapan publik menunjukkan bahwa safari Jokowi telah berkembang dari agenda silaturahmi menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai konstelasi politik nasional. Meski demikian, persepsi positif masyarakat masih lebih dominan dibandingkan narasi yang bersifat kritis.

Analisis HAVARA Institute juga memetakan karakter percakapan di setiap platform media sosial. Instagram dan TikTok menjadi platform dengan tingkat sentimen positif tertinggi karena didominasi dokumentasi kegiatan lapangan dan interaksi langsung Jokowi dengan masyarakat. Sementara X dan Threads memiliki intensitas perdebatan politik yang lebih tinggi sehingga porsi sentimen negatif relatif lebih besar.
Laporan tersebut mengidentifikasi sejumlah narasi positif yang paling banyak muncul, antara lain kedekatan Jokowi dengan masyarakat, tingginya antusiasme warga di berbagai daerah, besarnya pengaruh Jokowi di ruang publik, serta soliditas relawan.
Di sisi lain, narasi negatif didominasi oleh pembingkaian Safari Jokowi sebagai “safari politik”, pembahasan mengenai hubungan Jokowi dengan PSI, dinamika dengan PDIP, hingga isu dinasti politik. Menurut Debar, narasi-narasi tersebut terutama berkembang melalui akun politik, influencer, dan ruang diskusi media sosial.
Melalui pendekatan OSINT, HAVARA Institute memetakan bahwa narasi positif banyak diperkuat oleh relawan PROJO, komunitas pendukung Jokowi, influencer pro-pemerintah, akun-akun daerah, serta tokoh masyarakat lokal.
Adapun narasi kritis lebih banyak disebarkan oleh akun partisan, aktivis politik oposisi, sejumlah pengamat politik, dan influencer yang memiliki orientasi politik berbeda.
Debar juga mencatat bahwa lonjakan percakapan biasanya terjadi ketika beredar video penyambutan masyarakat di lokasi kunjungan, pemberitaan media mengenai agenda Safari Jokowi, maupun pernyataan elite politik yang merespons kegiatan tersebut.
Meski demikian, HAVARA Institute menyimpulkan bahwa hingga awal Agustus 2026 belum terdapat satu narasi negatif yang benar-benar mendominasi ruang publik lintas platform. Percakapan dinilai masih terfragmentasi dan cenderung mengikuti perkembangan agenda kunjungan Jokowi di berbagai daerah.***












