JAKARTA, PROJO.or.id — Suasana hangat menyelimuti Kantor DPP PROJO di Jalan Pancoran Timur Raya, Jakarta, saat jajaran pengurus dan kader dari berbagai daerah berkumpul memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 PROJO, Minggu (23/8/2026).
Gelak tawa, sapaan antarkader, hingga jamuan makanan dan minuman dari produk UMKM Nusantara mewarnai perayaan tersebut. Bagi sebagian kader, HUT PROJO bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat kembali tali persaudaraan dan semangat perjuangan di tengah masyarakat.
Salah satunya Yati Nurhayati, Ketua DPC PROJO Kabupaten Majalengka.
Perempuan asal Desa Talaga Kulon, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, itu datang ke Jakarta bersama jajaran pengurus DPC PROJO Majalengka.
Bagi Yati, perjalanan menuju Kantor DPP PROJO bukan sekadar memenuhi undangan organisasi. Kedatangannya menjadi bagian dari perayaan atas perjalanan panjang, loyalitas, dan persaudaraan yang telah terbangun bersama kader PROJO di berbagai daerah.
“Saya merasa PROJO itu seperti rumah sendiri. Saya nyaman bersama teman-teman di PROJO karena sudah seperti saudara,” ujar Yati.
Dari Talaga, Majalengka, untuk Rakyat
Sebagai ibu dari dua anak, Yati dikenal aktif turun ke masyarakat. Tinggal di kawasan pegunungan Majalengka tidak membuat aktivitasnya bersama organisasi berhenti.
Ia secara rutin menyapa pengurus dan masyarakat di 27 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Majalengka.
Kepeduliannya terhadap masyarakat juga diwujudkan melalui aktivitas sosial. Yati menjadi ibu asuh bagi empat anak yatim piatu.
Baginya, menjadi bagian dari gerakan rakyat tidak cukup hanya melalui aktivitas organisasi. Kepedulian kepada masyarakat harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
Semangat tersebut pula yang menurut Yati membuat PROJO memiliki arti khusus dalam perjalanan hidupnya.
Kekaguman kepada Jokowi
Kecintaan Yati terhadap PROJO tidak dapat dilepaskan dari kekagumannya terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Jauh sebelum Jokowi menjadi Presiden, Yati telah mengikuti kiprahnya sejak masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.
“Saya benar ngefans sama Pak Jokowi, dari awal beliau menjadi Wali Kota Solo,” tutur Yati.
Menurutnya, sosok Jokowi menjadi gambaran bahwa masyarakat biasa dapat memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia.
“Pak Jokowi itu cerminan rakyat kecil yang mampu menjadi pemimpin tertinggi di Indonesia. Jadi saya sangat bangga terhadap Jokowi. Beliau itu sangat dekat dengan rakyat kecil seperti saya,” katanya.
Kekaguman tersebut kemudian berkembang menjadi semangat untuk aktif dalam gerakan PROJO.
Bagi Yati, perjuangan bersama PROJO bukan semata-mata menjalankan tugas organisasi, tetapi juga bagaimana menghadirkan organisasi di tengah masyarakat.
Bangun Struktur hingga Tingkat Desa
Militansi Yati juga mendapat apresiasi dari internal PROJO.
Salah satu Ketua PROJO Jabar, Djoni Suherman, menilai konsistensi Yati dalam membangun organisasi di Majalengka tidak perlu diragukan.
“Militansi Bu Yati tak perlu dipertanyakan. Semuanya lahir dari kecintaannya yang begitu tulus terhadap Pak Jokowi,” kata Djoni.
Di bawah kepemimpinan Yati, struktur DPC PROJO Majalengka terus diperkuat. Konsolidasi dilakukan hingga tingkat kecamatan, ranting di desa, bahkan anak ranting.
Jaringan tersebut menjadi modal penting bagi PROJO Majalengka dalam menjalankan berbagai kegiatan organisasi dan politik.
Salah satu momentum yang disebut menjadi bukti kekuatan konsolidasi tersebut adalah ketika pengurus dan kader Majalengka berangkat ke Jakarta dalam agenda kampanye pemenangan Prabowo-Gibran.
Melalui koordinasi berbasis kekeluargaan dan jaringan akar rumput, lebih dari 60 armada bus membawa ribuan kader dari Majalengka menuju Jakarta.
Bagi Djoni, capaian tersebut menunjukkan kemampuan Yati dan jajaran DPC PROJO Majalengka dalam membangun komunikasi dengan kader di tingkat bawah.
PROJO Harus Tetap Jadi Jembatan Rakyat
Memasuki usia ke-12, Yati berharap PROJO tidak kehilangan jati dirinya sebagai organisasi yang lahir dari rakyat dan bergerak bersama rakyat.
Ia berharap persaudaraan antarkader tetap terjaga meski organisasi terus berkembang dan menghadapi dinamika politik yang semakin kompleks.
“Selamat ulang tahun PROJO yang ke-12. Semoga persaudaraan PROJO terus terjalin erat dan bisa semakin bermanfaat buat rakyat kecil sebagai jembatan mereka,” ujar Yati.
Menurutnya, kader PROJO di daerah memiliki peran penting untuk memastikan suara masyarakat tidak terputus dari pemerintah.
Kader di tingkat bawah, kata dia, harus terus berada di tengah masyarakat sehingga dapat menyampaikan kondisi nyata yang dihadapi warga kepada pemerintah.
“Kader di bawah harus tetap menjadi penyambung kepada pemerintah, agar pemerintah selalu mengetahui kondisi masyarakat yang sebenarnya di lapangan,” tegasnya.
Bagi Yati, usia 12 tahun bukan sekadar angka. Perjalanan PROJO menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi dibangun dari hubungan antarmanusia, kerja-kerja kerakyatan, serta persaudaraan yang melampaui batas wilayah.
Dari Talaga, Majalengka, hingga Jakarta, Yati menjadi salah satu gambaran bagaimana gerakan organisasi di tingkat akar rumput terus dirawat melalui kerja nyata, kedekatan dengan masyarakat, dan semangat persaudaraan.
Di tengah perayaan HUT ke-12 PROJO, harapan itu kembali ditegaskan: PROJO harus tetap menjadi rumah bagi kader dan jembatan bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.***











