JAKARTA, PROJO.or.id – Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi menegaskan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tidak pernah membicarakan wacana perpanjangan masa jabatan atau tiga periode kepadanya.
Budi Arie mengatakan, dirinya tidak pernah menerima arahan maupun pembicaraan langsung dari Jokowi mengenai keinginan memperpanjang masa jabatan presiden.
“Pak Jokowi enggak pernah ngomong sama saya tiga periode,” kata Budi Arie dalam podcast Henri Satrio Official dan Rujak Politik Official.
Menurut Budi Arie, tidak adanya pembicaraan mengenai tiga periode tersebut justru menjadi salah satu alasan PROJO menggelar Musyawarah Rakyat (Musra) di setiap Provinsi di seluruh Indonesia.
Musra, kata dia, merupakan forum untuk menghimpun aspirasi masyarakat sekaligus mencari figur yang akan melanjutkan kepemimpinan nasional setelah Jokowi menyelesaikan masa jabatannya.
“Musra itu hampir satu tahun, musyawarah rakyat mencari pengganti Pak Jokowi,” ujar Budi Arie.
Ia menjelaskan, PROJO bersama jaringan relawan menggelar Musra dengan mendatangi berbagai daerah di Indonesia. Aspirasi masyarakat kemudian dihimpun untuk mengetahui figur yang mendapatkan dukungan menjelang Pemilu 2024.
Budi Arie mengungkapkan, dari hasil Musra tersebut, Prabowo Subianto berada di posisi pertama, sedangkan Ganjar Pranowo menempati posisi kedua.
“Pak Prabowo nomor satu, kedua Ganjar,” kata Budi Arie.
Menurut Budi Arie, hasil Musra tersebut kemudian menjadi salah satu referensi politik PROJO dalam menentukan arah dukungan menghadapi Pilpres 2024.
Ia juga mengingat momen ketika dirinya bersama sejumlah elemen pendukung mendatangi kediaman Prabowo di Kertanegara, Jakarta, untuk menyampaikan secara langsung hasil aspirasi yang dihimpun melalui Musra.
Budi Arie menilai proses panjang tersebut turut membentuk jaringan politik dan mesin gerakan PROJO di berbagai daerah.
Gerakan tersebut kemudian menjadi modal organisasi ketika memasuki kontestasi Pilpres 2024 dan memberikan dukungan kepada pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
“Jadi kemarin 2024 kemenangan kita, mesinnya sudah lebih siap dari yang lain,” ujar Budi Arie.
Bukan Skenario Tiga Periode
Budi Arie juga membantah anggapan bahwa berbagai pembahasan mengenai skenario politik setelah Jokowi berkaitan dengan keinginan Jokowi untuk menjabat tiga periode.
Menurut dia, pembahasan mengenai berbagai kemungkinan politik merupakan bagian dari diskursus yang berkembang di ruang akademis maupun politik.
Ia menilai penting membedakan antara skenario politik yang dibahas secara akademis dengan keinginan politik seseorang.
Budi Arie menyinggung pernyataan Andi Widjajanto mengenai berbagai skenario politik yang pernah muncul menjelang Pemilu 2024.
Menurutnya, skenario tersebut tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai keinginan politik Jokowi.
“Benar bahwa apa yang disampaikan Andi Wijayanto itu tepat. Itu kan skenario-skenario, tapi bukan keinginan politik,” ujar Budi Arie.
Karena itu, Budi Arie kembali menegaskan bahwa Jokowi tidak pernah memintanya memperjuangkan perpanjangan masa jabatan presiden.
Ia justru menilai perjalanan Musra menunjukkan bahwa PROJO telah mempersiapkan proses pergantian kepemimpinan nasional melalui mekanisme politik dan pemilu.
Dalam konteks tersebut, menurut Budi Arie, hasil Musra yang menempatkan Prabowo di posisi pertama menjadi bagian dari perjalanan politik PROJO menuju Pilpres 2024.
Budi Arie menegaskan bahwa proses tersebut sekaligus menunjukkan bahwa organisasi relawan dapat menghimpun aspirasi masyarakat dan mengubahnya menjadi dukungan politik dalam kontestasi elektoral.
Dengan demikian, menurut Budi Arie, Musra tidak dapat dipandang sebagai forum untuk mempertahankan kekuasaan Jokowi, melainkan sebagai proses mencari figur penerus setelah masa kepemimpinan Jokowi berakhir.***












