JAKARTA, PROJO.or.id — Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi mengungkapkan harapannya agar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dapat melanjutkan kepemimpinan untuk periode kedua pada 2029.
Hal itu disampaikan Budi Arie saat menjadi narasumber dalam Podcast Hendri Satrio Official. Dalam perbincangan tersebut, Budi Arie awalnya menjelaskan bahwa konfigurasi politik menuju Pemilu 2029 masih sangat dinamis.
Menurut Budi Arie, kemungkinan Prabowo dan Gibran kembali berpasangan pada Pilpres 2029 masih terbuka.
“Politik itu kan art of possibility, seni kemungkinan,” ujar Budi Arie.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan Prabowo-Gibran melanjutkan pemerintahan untuk periode kedua, Budi Arie menyampaikan harapannya secara terbuka.
“Kita mengharapkan dua periode Pak Prabowo-Gibran,” kata Budi Arie.
Meski demikian, Budi Arie menegaskan bahwa keputusan mengenai konfigurasi politik 2029 masih sangat terbuka. Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan analogi permainan kartu yang belum dibagikan.
“Kalau saya bilang, kartunya masih dikocok, belum dibagi. Waktunya belum. Semua kemungkinan masih bisa,” ujarnya.
Pemerintahan Harus Berhasil
Budi Arie mengatakan harapan terhadap keberlanjutan Prabowo-Gibran tidak bisa dilepaskan dari kinerja pemerintahan selama periode pertama.
Menurut dia, pemerintah harus mampu menunjukkan keberhasilan dan menghadirkan kepuasan bagi masyarakat.
“Kalau mau dua periode, pemerintah harus berhasil. Pemerintahan berhasil apa? Memuaskan rakyat,” katanya.
Karena itu, Budi Arie menilai sisa waktu pemerintahan Prabowo-Gibran harus dimanfaatkan untuk memperbaiki kinerja dan memastikan berbagai program pemerintah memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
“Itu yang harus diperjuangkan di sisa waktunya,” ujarnya.
Budi Arie menambahkan, keberhasilan pemerintahan juga akan berpengaruh terhadap partai-partai politik yang menjadi bagian dari pendukung pemerintah.
“Ini bukan soal presiden saja. Semua pemerintah akan berdampak terhadap elektoral partai-partai pendukung,” kata Budi Arie.
2029 Berbeda dengan 2024
Dalam kesempatan yang sama, Budi Arie menjelaskan bahwa dinamika Pilpres 2029 memiliki karakter berbeda dibandingkan Pilpres 2024.
Ia menyebut Pilpres 2024 sebagai arena yang relatif terbuka karena tidak terdapat pasangan presiden dan wakil presiden petahana yang mencalonkan diri kembali.
“2024 lapangan baru semua. Artinya tidak ada incumbent yang mencalonkan, baik presiden maupun wapres,” tuturnya.
Sementara pada 2029, Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran masih memiliki hak konstitusional untuk kembali mencalonkan diri.
“2029 kan ada presiden, ada wapres yang masih memiliki hak konstitusi untuk maju,” ujar Budi Arie.
Budi Arie juga mencermati sejarah Pilpres langsung sejak 2004. Menurutnya, belum ada pasangan presiden dan wakil presiden yang kembali maju bersama setelah menyelesaikan periode pertama.
Namun, ia menekankan bahwa sejarah tersebut tidak otomatis menentukan masa depan.
“Sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak bisa terjadi. Segala sesuatu ada yang pertamanya,” kata Budi Arie.
Utamakan Kepentingan Rakyat
Budi Arie mengingatkan bahwa pembahasan mengenai Pilpres 2029 sebaiknya tetap ditempatkan dalam kerangka kompetisi demokratis.
“Siapa pun nanti di 2029, anggap saja ini semua kompetisi anak bangsa. Menang kalah biasa,” ujarnya.
Menurut dia, perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Yang harus menjadi perhatian adalah prinsip berbangsa dan bernegara serta kepentingan masyarakat.
“Yang penting prinsip berbangsa, bernegara dan kepentingan rakyat ini yang harus kita utamakan,” kata Budi Arie.
Dengan demikian, harapan terhadap keberlanjutan Prabowo-Gibran yang disampaikan Budi Arie berjalan beriringan dengan penekanannya bahwa konfigurasi politik 2029 masih dinamis dan keberhasilan pemerintahan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah politik ke depan.***












