SOLO, PROJO.or.id — Beberapa ikat petai mungkin terlihat sederhana. Namun bagi rombongan petani dari Desa Godo, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, petai yang mereka bawa ke Solo, Selasa (29/9/2026) sore, memiliki cerita panjang.
Petai itu dibawa sebagai hasil bumi sekaligus ungkapan terima kasih kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo atas program perhutanan sosial yang mereka rasakan manfaatnya.
Rombongan tersebut dipimpin Kepala Desa Godo, Suwondo. Bersama sejumlah petani perhutanan sosial, mereka datang bersilaturahmi ke kediaman Jokowi di Solo.
Mereka tidak datang dengan tangan kosong.
Beberapa ikat petai hasil bumi dari Pati dibawa sebagai tanda syukur.
“Alhamdulillah kami membawa hasil bumi kami dari program perhutanan sosial. Kami ingin mengucapkan terima kasih dan syukur Alhamdulillah program tersebut dapat berhasil dan membawa kesejahteraan bagi warga kami,” kata Suwondo.
Bagi para petani tersebut, petai bukan sekadar hasil kebun.
Petai menjadi simbol bahwa kebijakan yang pernah dibuat di tingkat pemerintah bisa dirasakan sampai ke tingkat desa.
Dari hutan, menjadi sumber penghidupan
Suwondo mengatakan petai yang dibawa ke Solo merupakan salah satu hasil dari kegiatan petani dalam skema perhutanan sosial.
Tidak hanya petai. Menurut dia, warga juga mengembangkan berbagai komoditas lain, seperti matoa, alpukat, durian, mangga, dan hasil pertanian lainnya.
“Sebetulnya tidak hanya petai yang kami hasilkan. Termasuk matoa, alpukat, durian, mangga dan lain sebagainya,” ujarnya.
Program perhutanan sosial sendiri memberikan akses pengelolaan hutan kepada masyarakat sekitar kawasan hutan dengan tujuan antara lain meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.
Dalam dokumen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, program tersebut disebut sebagai salah satu instrumen pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Hingga akhir 2021, pemerintah mencatat sekitar 4,90 juta hektare area telah dikelola dalam skema perhutanan sosial, melibatkan lebih dari 1 juta kepala keluarga.
Kebijakan tersebut juga tercatat menyentuh masyarakat Pati.
Pada 2019, misalnya, Jokowi pernah menerima perwakilan masyarakat perhutanan sosial, termasuk dari Kabupaten Pati. Salah satu perwakilan dari Pati ketika itu menyampaikan kepada Jokowi bahwa kelompoknya telah memperoleh izin IPHPS pada 2018.
Pada Januari 2023, pemerintah juga menyampaikan hasil penelitian mengenai dampak perhutanan sosial di Pati. Peneliti San Afri Awang menyebut pendapatan petani dalam penelitiannya meningkat rata-rata dari sekitar Rp1 juta menjadi Rp3 juta per bulan setelah memperoleh akses melalui program tersebut.
Dulu merantau, kini bisa bertahan di desa
Bagi Suwondo dan para petani Godo, ukuran keberhasilan program tidak hanya dilihat dari angka luas lahan atau jumlah izin.
Mereka melihatnya dari perubahan kehidupan warga.
Menurut Suwondo, sekitar lima hingga enam tahun lalu banyak warga di desanya memilih pergi merantau karena keterbatasan penghasilan.
Kini, kata dia, sebagian warga bisa memperoleh penghidupan dari pengelolaan lahan dan hasil bumi di sekitar tempat tinggal mereka.
“Yang paling berdampak, lima-enam tahun yang lalu warga kami itu banyak yang perantauan. Sekarang cukup di rumah. Alhamdulillah kesejahteraannya sudah lebih daripada cukup dengan program tersebut,” ujarnya.
Cerita itu pula yang ingin mereka sampaikan kepada Jokowi.
Bukan sekadar membawa petai, tetapi membawa cerita tentang bagaimana hasil kebijakan kehutanan dirasakan oleh masyarakat di tingkat paling bawah.
Lima ikat petai untuk Jokowi
Suwondo mengatakan rombongan sebelumnya membawa sekitar lima ikat petai. Sebagian hasil bumi tersebut kemudian dibagikan kepada warga yang ikut dalam rombongan.
Sebagian lainnya disiapkan untuk diberikan kepada Jokowi.
Bagi petani, pemberian hasil bumi tersebut menjadi bentuk sederhana untuk mengungkapkan rasa terima kasih.
“Ini karena program Pak Jokowi, waktu itu program perhutanan sosial. Alhamdulillah, ini terima kasih kami, tanda syukur kepada beliau bahwa program ini berdampak sekali untuk kesejahteraan masyarakat kami,” kata Suwondo.
Pertemuan itu memperlihatkan sisi lain dari sebuah kebijakan publik.
Di atas kertas, perhutanan sosial berbicara tentang akses kelola hutan, kelembagaan, pemberdayaan, dan kesejahteraan.
Tetapi di Desa Godo, manfaatnya diceritakan melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana: petai yang dipetik dari tanah yang mereka kelola dan dibawa sampai ke rumah Jokowi di Solo.
Hasil bumi itu menjadi pesan dari petani kepada mantan presiden yang dahulu menjalankan kebijakan tersebut:
ketika sebuah kebijakan benar-benar dirasakan manfaatnya, rakyat bisa datang sendiri membawa hasilnya untuk mengucapkan terima kasih.***










