JAKARTA, PROJO.or.id – Pernyataan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PROJO, Budi Arie Setiadi, dalam sebuah video wawancara eksklusif bersama Voice of Indonesia pada Oktober 2025 yang diposting kembali di akun instagram pribadi @budiariesetiadi kini menemukan pembuktian sejarahnya yang paling otentik.
Saat itu, Budi Arie dengan keyakinan penuh menegaskan bahwa Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), akan tetap memiliki pengaruh besar dan posisi strategis dalam dinamika politik nasional, meskipun fajar kekuasaan formalnya telah usai.
Hari ini, ramalan politik tersebut mewujud nyata di lapangan. Relevansi seorang Jokowi terbukti sama sekali tidak pernah luntur. Daya pikat dan kekuatan utama mantan Wali Kota Solo itu terbukti tidak lagi bersandar pada singgasana jabatan struktural, melainkan pada ketulusan ikatan emosional dan kecintaan mendalam yang telah mengakar di hati rakyat.
Magnet di Sumber Solo dan Gaung Silaturahmi Nusantara
Fakta tak terbantahkan itu dapat disaksikan langsung di kediaman pribadi Jokowi di Sumber, Solo. Saban hari, tempat tersebut bertransformasi menjadi titik temu kerinduan. Rakyat dari berbagai penjuru nusantara, bahkan dari luar negeri, tak putus-putusnya datang silih berganti demi bisa bertatap muka, menjabat tangan, dan bersilaturahmi langsung dengan sosok yang mereka cintai.
Tidak hanya itu, getaran pengaruh Jokowi kembali menghentak panggung perbincangan publik saat berembus kabar mengenai niat beliau untuk melakukan silaturahmi keliling Indonesia.
Rencana tersebut langsung memantik diskusi hangat dan menjadi buah bibir di ruang publik—sebuah bukti sahih bahwa ke mana pun angin bergerak, pesona kepemimpinan Jokowi tetap menjadi kompas yang magnetis.
“Pak Jokowi itu di hati rakyat. Pak Jokowi dan rakyat itu seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Selama rakyat masih menjadi bagian dari proses politik kita, Pak Jokowi akan tetap relevan,” kenang Budi Arie, mengulangi penegasan yang kini terbukti kebenarannya.
Menepis Isu Redupnya Pengaruh Jokowi
Melalui catatan tersebut, PROJO sekaligus mematahkan berbagai analisis skeptis dari sejumlah pengamat yang sempat meramal bahwa pengaruh politik Jokowi akan segera meredup pasca-transisi.
Budi Arie menegaskan, realitas di akar rumput menyuarakan hal yang sebaliknya. Jokowi tetap berdiri tegak sebagai figur sentral; suaranya tetap didengar secara takzim, baik sebagai mentor politik yang tepercaya maupun sebagai salah satu penunjuk arah moral bangsa.
“Banyak yang mengatakan Pak Jokowi sudah habis atau pengaruhnya berkurang. Faktanya, beliau tetap dicintai rakyat. Sebagai penasihat politik masih relevan, sebagai moral bangsa juga masih relevan,” tuturnya.
Keberterimaan yang luas ini tidak lepas dari warisan (legacy) kepemimpinan dua periode (2014–2024) yang telah mengubah wajah fisik dan sosial pembangunan Indonesia. Kebijakan yang ditanam sejak periode pertama menembus langsung ke lapisan masyarakat paling bawah.
Melalui akselerasi infrastruktur yang merata, paradigma Indonesia Sentris yang memuliakan wilayah pinggiran dan perbatasan, hingga injeksi ekonomi arus bawah lewat penguatan Dana Desa, Jokowi telah menorehkan tinta emas yang sulit dihapus dari ingatan publik.
“Selama 10 tahun memimpin, Pak Jokowi melakukan banyak terobosan. Infrastruktur dibangun untuk kepentingan masyarakat luas, pembangunan dari pinggiran dijalankan, program dana desa diperkuat, dan masih banyak lagi kebijakan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh rakyat,” urai Budi Arie.
Harmoni Jokowi dan Prabowo: Jangan Ada Adu Domba
Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Informatika era kabinet lalu ini juga menyelipkan pesan persatuan yang sangat tegas. Ia meminta agar semua pihak menyudahi segala bentuk narasi murahan yang mencoba membenturkan atau mengadu domba antara Jokowi dengan Presiden RI saat ini, Prabowo Subianto.
Budi Arie menegaskan bahwa kedua pemimpin besar ini berdiri kokoh di atas fondasi visi yang sama: kejayaan NKRI dan kesejahteraan rakyat.
“Pak Jokowi dan Pak Prabowo memiliki semangat yang sama untuk bangsa dan rakyat. Jangan terus-menerus dikotak-kotakkan. Jangan ada upaya mengadu domba pemimpin-pemimpin bangsa,” tekannya.
Keberlanjutan Menuju Indonesia Maju
Meyikapi riak-riak kritik yang menyoroti kekurangan selama satu dekade pemerintahan lalu, PROJO memandangnya dengan jernih dan berlapang dada. Budi Arie mengakui tidak ada pemerintahan di dunia ini yang sempurna tanpa celah.
Namun, capaian dan kerja keras yang telah dirintis selama sepuluh tahun terakhir adalah angka dan fakta yang valid serta dapat diuji secara objektif.
“Selama 10 tahun ini hasilnya bisa dilihat dan diukur secara konkret. Berapa banyak desa yang berhasil keluar dari status tertinggal, berapa kilometer jalan tol dan jalan produksi yang telah dibangun, serta berbagai indikator pembangunan lainnya. Kalau masih ada kekurangan, itu menjadi tugas keberlanjutan untuk terus bergerak maju,” pungkasnya.
Lihat postingan ini di Instagram
Dalam postingan @budiariesetiadi seorang netizen @nanang_sumartono berkomentar Saya pribadi melihat perjalanan hidup Joko Widodo sebagai salah satu contoh menarik dari sebuah “Diary Manusia”.
Seorang manusia biasa yang lahir, tumbuh, bekerja, menghadapi berbagai tantangan hidup, lalu melalui proses panjang hingga mencapai puncak karier sebagai Presiden Republik Indonesia.
Yang menurut saya paling menarik bukan hanya ketika beliau berada di puncak kekuasaan, tetapi juga ketika masa tugas itu berakhir. Pada akhirnya beliau kembali menjadi manusia biasa, kembali ke rumahnya di Solo, kembali menjalani kehidupan sebagaimana adanya.
Dari perjalanan tersebut, siapa pun bisa belajar dan mengamati bahwa kesuksesan besar tidak selalu lahir dari hal-hal yang luar biasa, tetapi sering kali berasal dari proses panjang, kerja keras, konsistensi, dan kesediaan menjalani setiap tahap kehidupan dengan sabar.
Bagi saya, hanya satu kata yang pantas:
KEREN.
Terlepas dari berbagai pandangan yang mungkin berbeda, perjalanan hidup beliau tetap menjadi inspirasi bahwa manusia biasa pun dapat mencapai hal-hal besar, lalu tetap membumi ketika semuanya telah dilalui.
Menutup pernyataannya, Ketua Umum PROJO ini menegaskan bahwa kunci utama masa depan bangsa ada pada prinsip keberlanjutan. Segala capaian fundamental yang telah diletakkan oleh Jokowi harus terus dikawal, dirawat, dan dilanjutkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto demi membawa Indonesia melompat menjadi negara maju.***












