JAKARTA, PROJO.or.id – Sebagai organisasi yang lahir dari rahim perjuangan rakyat, PROJO selalu berdiri bersama kepentingan masyarakat luas. Kita tentu belum lupa dengan peristiwa kelam pada Minggu siang, 4 Agustus 2019 lalu. Wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah mendadak lumpuh total akibat pemadaman listrik massal (blackout).
Bagi rakyat, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan urat nadi ekonomi—mulai dari pedagang kecil, buruh, hingga jutaan pengguna transportasi publik seperti KRL dan MRT yang telantar. Di saat rakyat dirugikan, di situlah ketegasan seorang pemimpin diuji.
Video lama tersebut kembali viral. Peristiwa ini melahirkan salah satu momen paling ikonik yang menunjukkan bagaimana Presiden Joko Widodo waktu itu selalu pasang badan dan menuntut pertanggungjawaban mutlak dari jajaran birokrasi demi rakyatnya.
@andisalfaris95 Saat Di Tahun 2019 #pln #jokowi ♬ suara asli – Andis Alfarisi
Efek Domino yang Melumpuhkan Aktivitas Rakyat
Gangguan bermula pada pukul 11.45 WIB akibat masalah teknis pada Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV Ungaran-Pemalang. Dalam hitungan menit, matinya pasokan daya memicu efek domino yang melumpuhkan Jakarta dan sekitarnya.
Moda transportasi andalan masyarakat urban seperti KRL Commuter Line dan MRT mendadak mogok di tengah perlintasan. Lampu lalu lintas padam, memicu kesemerawutan di jalan-jalan protokol. Di tengah kepanikan itu, rakyat kecil-lah yang paling merasakan dampaknya. Bisnis UMKM terhenti, dan kenyamanan publik terenggut.
Langkah Tegas Jokowi: “Kenapa Tidak Dikalkulasi?”
Sebagai pemimpin yang memegang teguh prinsip kerja nyata, Presiden Jokowi tidak tinggal diam melihat rakyatnya kesusahan. Senin pagi, 5 Agustus 2019, Presiden langsung mendatangi Kantor Pusat PT PLN untuk meminta penjelasan langsung.
Di hadapan para direksi PLN, suasana mendadak tegang. Saat Plt Direktur Utama PLN memberikan penjelasan teknis yang berbelit-belit dan memakan waktu lama, raut wajah Presiden tampak datar tanpa senyum sedikit pun. Beliau menunjukkan kekecewaan mendalam atas ketidaksiapan sistem yang merugikan jutaan warga.
Dengan nada datar namun menghujam, Jokowi melontarkan teguran keras yang membekas hingga hari ini:
”Pertanyaan saya, Bapak, Ibu, semuanya kan orang pintar-pintar, apalagi urusan listrik dan sudah bertahun-tahun. Apakah tidak dihitung, apakah tidak dikalkukasi kalau akan ada kejadian-kejadian sehingga kita tahu sebelumnya. Kok tahu-tahu drop?”
Bagi PROJO, teguran langsung ini adalah bukti nyata dari gaya kepemimpinan Jokowi yang menolak kompromi terhadap kelalaian pelayanan publik. Beliau tidak menginginkan retorika atau alasan-alasan teknis; yang beliau tuntut adalah solusi cepat dan kepastian bahwa hak-hak rakyat terpenuhi.
Pertemuan singkat yang tidak sampai 15 menit itu diakhiri dengan instruksi tegas agar perbaikan segera dilakukan dan kejadian serupa tidak boleh terulang kembali. Presiden kemudian langsung pergi tanpa meladeni sesi wawancara, mempertegas bahwa saat itu adalah waktu untuk bekerja, bukan berwacana.
Evaluasi dan Sinergi ke Depan
Setelah investigasi mendalam oleh Polri, ditemukan bahwa gangguan besar tersebut dipicu oleh faktor alam—adanya pohon yang melebihi batas ketinggian (right of way) di Gunung Pati, Semarang, yang memicu lompatan listrik. Meski dipastikan tidak ada unsur sabotase atau human error yang disengaja, kejadian ini menjadi pelajaran berharga yang sangat mahal.
Ketegasan Presiden Jokowi pada saat blackout 2019 adalah pengingat bagi seluruh instansi negara dan BUMN bahwa pelayanan kepada rakyat adalah hukum tertinggi.
PROJO akan terus mengawal jalannya pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik di Indonesia. Kita tidak boleh terlena. Pengelolaan aset-aset vital negara harus dilakukan dengan kalkulasi yang matang, modern, dan visioner, demi memastikan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke dapat menikmati hasil pembangunan tanpa ada hak yang terabaikan.
Rakyat Menggugat, Pemimpin Menjawab dengan Tindakan Nyata!













