DUNIA sedang tidak baik-baik saja. Di layar kaca dan lini masa, kita menyaksikan bara peperangan yang pecah di belahan bumi lain.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sekadar deretan teks berita internasional.
Namun, bagi dapur rumah tangga dan tangki kendaraan kita, itu adalah ancaman nyata yang sangat personal.
Perang ini di luar kendali kita, namun dampaknya—meroketnya harga minyak mentah dunia—telah mengetuk pintu rumah kita tanpa permisi.
Indonesia kini berada di persimpangan jalan yang terjal. Kita sedang menghadapi ujian untuk sekadar bertahan (survive).
Namun, di tengah awan mendung ekonomi global, ada secercah cahaya yang seringkali luput dari pandangan mata yang sudah terlanjur tertutup kebencian.
Modalitas yang Tak Dimiliki Negara Lain
Sejujurnya, Indonesia jauh lebih beruntung dibanding banyak negara lain. Saat beban subsidi BBM membengkak, kita memiliki “pelampung” berupa kenaikan pendapatan negara dari ekspor sawit dan batubara sebagai kompensasi.
Secara geopolitik, posisi non-blok kita adalah kartu as; Indonesia bebas bernegosiasi dan membeli energi dari belahan dunia mana pun tanpa terbelenggu sekat aliansi atau embargo sepihak.
Pemerintah pun tidak sedang berpangku tangan. Lobi-lobi minyak mentah dilakukan tanpa henti. Kebijakan pahit namun logis mulai diambil demi menjaga napas fiskal: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disesuaikan menjadi 5 hari untuk menghemat Rp40 Triliun, wacana pemotongan gaji pejabat hingga anggota DPR mengemuka, hingga pertimbangan kebijakan WFH untuk menekan konsumsi energi nasional.
Ini adalah upaya diplomasi dan efisiensi “di belakang layar” yang barangkali tak semuanya bisa dipublikasikan demi stabilitas nasional.
Menjaga Optimisme di Tengah Dinamika Global
Senada dengan upaya pemerintah, Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, dalam sebuah kesempatan baru-baru ini mengingatkan pentingnya kejujuran dalam melihat realitas namun tetap memegang teguh optimisme.
“Kita harus jujur pada realitas bahwa situasinya memang tidak mudah, ini bukan hanya di Indonesia. Banyak negara menghadapi situasi yang sama bahkan lebih parah akibat ketegangan global,” ujar Budi Arie.
Ia menekankan bahwa dukungan terhadap program pemerintah—terutama program prioritas Presiden Prabowo—bukan sekadar urusan politik, melainkan tanggung jawab moril untuk memastikan bangsa ini tidak goyah.
Menjaga optimisme adalah langkah awal agar seluruh elemen masyarakat mau turun tangan membantu dengan segala keterbatasan yang ada.
Perbandingan Harga BBM di Asia Tenggara (Rata-rata Maret 2026):
Berdasarkan data Global Petrol Prices, berikut estimasi harga rata-rata bensin di beberapa negara tetangga:
- Singapura Termahal: Singapura menempati posisi puncak dengan harga bensin yang sangat tinggi, mencapai Rp43.627 per liter, hampir empat kali lipat dari harga bensin di Indonesia.
- Kelompok Harga Rp20 Ribu – Rp30 Ribu: Mayoritas negara tetangga berada di rentang harga ini, dengan urutan dari yang tertinggi:
- Laos: Rp29.879
- Kamboja: Rp28.036
- Filipina: Rp24.316
- Thailand: Rp23.369
- Vietnam: Rp22.990 (RON 95)
- Indonesia Paling Kompetitif: Indonesia memiliki harga bensin terendah dalam daftar ini, terutama untuk jenis Pertalite (Rp10.000) yang terpaut jauh dari rata-rata regional.
- Selisih Signifikan: Bahkan untuk jenis nonsubsidi seperti Pertamax (Rp12.300), harga di Indonesia masih hampir separuh dari harga bensin di Thailand atau Filipina.
Ego di Atas Penderitaan Bangsa
Namun, ada fenomena unik sekaligus menyedihkan yang muncul di permukaan.
Di tengah upaya keras negara untuk tetap tegak, muncul segelintir kelompok yang seolah-olah “mengharap” kegagalan negaranya sendiri. Mereka sibuk memproduksi narasi pesimisme, membumbui informasi palsu, dan menyebarkan ketakutan hanya demi memuaskan ego pribadi.
Motivasi mereka bukan demi perbaikan, melainkan agar kelak bisa berteriak dengan jumawa: “Tuh kan gagal, apa saya bilang pemerintah tidak becus!”
Bagi mereka, validasi atas kebencian lebih penting daripada nasib jutaan rakyat yang akan menderita jika pertahanan energi kita jebol.
Mereka adalah para “pengkhianat” harapan yang rela melihat kapal besar bernama Indonesia karam, asalkan mereka bisa mengejek sang nakhoda.
Memilih Menjadi “Waras”
Sebagai masyarakat yang masih berpikir jernih, harapan kita seharusnya hanya satu: Negara ini berhasil melewati badai.
Kita ingin ketersediaan energi tetap terjaga dan penyesuaian harga tidak mencekik rakyat kecil. Itu adalah niat yang lurus, akal yang waras.
Pemerintah memang belum tentu 100% berhasil karena tantangan global ini luar biasa berat.
Namun, pesimisme dan doa buruk tidak akan pernah menjadi solusi. Indonesia memiliki kelebihan, keunikan, dan peluang besar untuk selamat jika kita bergerak satu arah.
Mari berhenti menjadi penonton yang bersorak saat negara sendiri tergelincir.
Mari dukung dengan optimisme, kawal dengan kritik yang membangun, dan doakan agar maslahat bagi seluruh masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Sebab pada akhirnya, jika negara ini gagal, tidak ada pemenang di antara kita. Kita semua berada di sekoci yang sama. Masihkah Anda mencintai negeri ini?. Mari bangun Optimisme!***












