GARUT, PROJO.or.id – Di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah yang memicu krisis energi di berbagai belahan dunia, Indonesia dinilai menunjukkan ketahanan ekonomi yang sangat solid.
Hingga akhir Maret 2026, kondisi dalam negeri terpantau jauh lebih stabil dibandingkan negara-negara tetangga seperti Filipina yang sudah menetapkan status darurat energi.
Dedi Mulyadi, Ketua Projo Garut sekaligus praktisi di sektor Bahan Bakar Minyak (BBM), memberikan apresiasi terhadap daya tahan nasional, namun tetap memberikan catatan penting bagi masyarakat untuk menjaga kestabilan ini.
Resiliensi Indonesia yang “Luar Biasa”
Dedi Mulyadi menyoroti bagaimana Indonesia mampu bertahan di saat negara lain mulai tumbang akibat kelangkaan energi. Ia membandingkan dengan situasi di Filipina, di mana ribuan pekerja harus berjalan kaki karena lumpuhnya transportasi akibat krisis BBM.
“Luar biasa Indonesia. Di saat negara lain sudah mengalami krisis energi yang hebat, aktivitas kita di tanah air masih berjalan relatif normal. Ini bukti resiliensi ekonomi kita sangat kuat,” ujar Dedi Mulyadi pada Sabtu (28/3/2026).
Serukan Gerakan Nasional Hemat Energi
Meski pasokan aman, Dedi Mulyadi menekankan bahwa masyarakat tidak boleh terlena. Ia mendorong dimulainya gerakan nasional untuk menggunakan energi secara bijak dan bertanggung jawab agar beban subsidi negara tidak membengkak dan distribusi tetap merata.
“Sudah saatnya kita menggalakkan gerakan nasional hemat dan bijak dalam menggunakan energi. Masyarakat perlu memiliki sensitivitas yang sama untuk bersama-sama menggunakan BBM dan LPG secara bijak serta bertanggung jawab,” tambahnya.
Imbauan: Jangan Panic Buying!
Sebagai praktisi yang memahami rantai pasok energi, Dedi Mulyadi memberikan peringatan keras terkait perilaku konsumen. Ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebih yang didasari rasa takut (panic buying).
“Yang paling penting, jangan ada panic buying. Perilaku tersebut justru bisa mengacaukan rantai pasok yang sebenarnya sudah diatur dengan baik oleh pemerintah. Jika kita tenang dan bijak, pasokan akan aman untuk semua,” tegas Dedi Mulyadi.
Strategi Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas
Ketahanan ini tetap ditopang oleh kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM subsidi dan menjaga pertumbuhan ekonomi di angka 5%. Namun, dukungan masyarakat melalui penghematan energi dianggap sebagai kunci keberlanjutan stabilitas tersebut hingga akhir tahun 2026.
Optimisme yang disampaikan Dedi Mulyadi ini diharapkan dapat menenangkan masyarakat, khususnya di wilayah Jawa Barat, sembari membangun kesadaran kolektif dalam menjaga kedaulatan energi nasional.***












