JAKARTA, PROJO.or.id – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang memaksa dunia mengkalkulasi ulang kekuatan militer, pasokan energi, hingga jalur perdagangan global, posisi Indonesia justru semakin mencuri perhatian.
Langkah diplomasi terbaru yang dilakukan oleh Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai sinyal kuat kebangkitan Indonesia sebagai pemain kunci dunia.
Diplomasi Dua Wajah: Moskow dan Washington
Dunia menyaksikan manuver menarik saat Presiden Prabowo Subianto melakukan lawatan ke Rusia. Pada saat yang bersamaan, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin diterima oleh Menhan AS, Pete Hegseth, di Washington.
Dua wajah diplomasi ini berjalan secara simultan, menunjukkan keseimbangan posisi Indonesia di antara kekuatan-kekuatan besar.
Ketua Bidang Pertahanan DPP PROJO, Abi Rekso, memaparkan bahwa membangun posisi “multi-alignment diplomacy” bukanlah perkara mudah, terutama di tengah situasi krisis global yang mencekam.
“Tidak semua Presiden di Asia mampu memainkan multi-alignment diplomacy seperti Presiden Prabowo. Posisi ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki akseptansi yang tinggi di mata pemimpin negara adidaya. Sepatutnya kita bangga dan optimis bahwa itu tanda-tanda Indonesia akan besar,” tegas Abi Rekso dalam keterangannya.
Menjawab Kritik: ASEAN Dinilai Usul Usang
Menanggapi pandangan mantan Menlu Dino Patti Djalal yang mengusulkan agar Presiden Prabowo kembali memperkuat diplomasi dalam lingkup ASEAN, Abi Rekso menilai usulan tersebut sudah tidak relevan dengan zaman.
Menurut Abi, gagasan ASEAN merupakan reaktivasi kawasan Asia Tenggara era Perang Dingin serta manifestasi dari Doktrin Truman dan Marshall Plan di Asia.
Dalam konteks hari ini, ia menilai ASEAN tidak cukup responsif terhadap dinamika global yang ada. Indonesia, menurutnya, harus memposisikan diri lebih luas di kawasan Asia-Pasifik untuk mengantisipasi potensi perang proksi.
Strategi 3M: Misil, Minyak, dan eMas
Lebih lanjut, Abi Rekso membocorkan adanya potensi “kabar baik” bagi masyarakat Indonesia dari hasil diplomasi maraton ini. Hal ini mencakup stabilitas pasokan energi hingga kerja sama pertahanan tingkat tinggi.
Energi: Ada potensi kesepakatan terkait pasokan BBM dan LPG dari Rusia, serta jaminan kelancaran jalur Hormuz melalui komunikasi dengan pihak Kremlin.
Pertahanan: Peningkatan hubungan teknologi pertahanan dengan Amerika Serikat melalui Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Dua jalur diplomasi ini diyakini akan memperkokoh posisi tawar Indonesia di kawasan Asia Pasifik. Dengan nada berseloroh namun serius, Abi menekankan prioritas utama dalam menghadapi situasi global saat ini.
“Ingat ya, dalam situasi seperti ini, 3M adalah prioritas: Misil, Minyak, dan eMas,” pungkas Ketua DPP Projo Bidang Pertahanan tersebut.***









