JAKARTA. PROJO.or.id – Sekretaris Jenderal Projo, Fredy Alex Damanik, memberikan tanggapan tegas terkait pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang mengklaim sebagai sosok penentu di balik terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden.
Dalam bincang hangat di Podcast Realpolitik Geolive (22/04/2026), Fredy menekankan bahwa dalam sistem demokrasi, rakyatlah pemegang kedaulatan tertinggi, bukan individu tertentu.
“Pernyataan yang menyebutkan bahwa jika bukan karena beliau (JK), Pak Jokowi tidak bisa jadi Presiden, menurut kami terlalu menyederhanakan politik Indonesia. Ini bukan negara kerajaan, ini demokrasi,” ujar Fredy dalam diskusi bertajuk “Sekjen Projo: Termul Sebaiknya Cooling Down”.
Hargai Sejarah, Tapi Rakyat yang Menentukan
Fredy menjelaskan bahwa PROJO tidak pernah menafikan jejak sejarah dan kontribusi tokoh-tokoh bangsa, termasuk Jusuf Kalla, dalam perjalanan karier politik Jokowi. Namun, ia meluruskan bahwa faktor utama kemenangan Jokowi adalah figur pribadinya yang bersih, konsisten, dan sangat dekat dengan rakyat.
Ia mencontohkan bagaimana perolehan suara Jokowi saat di Solo mencapai lebih dari 90%, sebuah modal elektabilitas organik yang kemudian ditangkap oleh para tokoh nasional untuk dibawa ke level DKI Jakarta hingga Nasional.
Fenomena “Termul” dan Arahan dari Solo
Menanggapi istilah “Termul” (Ternak Mulyono) yang sempat memicu tensi dan reaksi di media sosial, Fredy menyebut reaksi para pendukung Jokowi adalah bentuk kecintaan organik.
Ia mengonfirmasi adanya dinamika di mana para pendukung merasa terusik oleh narasi lama yang terus diputar, seperti isu ijazah yang sebenarnya sudah terbantahkan secara hukum dan akademis.
“Termul ini banyak, ada yang berkelompok, ada yang pribadi. Gerakan mereka organik berdasarkan kecintaan. Meski begitu, arahan dari ‘Solo’ (Pak Jokowi) selalu jelas: kita harus dingin, jangan reaktif, dan tidak perlu sedikit-sedikit lapor polisi,” ungkapnya.
Fredy juga mengklarifikasi bahwa adanya laporan hukum terhadap tokoh tertentu bukanlah instruksi dari Jokowi, melainkan inisiatif pribadi atau organisasi lain yang kebetulan memiliki kesamaan visi sebagai pendukung.
Sifat “Tanpa Lawan” Jokowi: Sabar dan Membaca Kehendak Rakyat
Dalam podcast tersebut, Fredy juga memuji karakter kepemimpinan Jokowi yang dianggapnya sebagai “gift” atau anugerah yang jarang dimiliki politisi lain.
-
Membaca Kehendak Rakyat: Kemampuan Jokowi melihat apa yang diinginkan masyarakat bawah.
-
Kesabaran Luar Biasa: Fredy menyebut dalam hal kesabaran, Jokowi “nggak ada lawan”. Meski diserang dengan narasi provokatif, Jokowi tetap merespon dengan gaya rendah hati sebagai “orang kampung.”
-
Visi Masa Depan: Langkah Jokowi mendukung Prabowo-Gibran di 2024 dipandang sebagai kalkulasi matang untuk menghadapi tantangan geopolitik global.
Sikap PROJO ke Depan: Kawal Dua Periode Prabowo-Gibran
Ketika ditanya mengenai arah dukungan PROJO di masa depan, Fredy menegaskan bahwa posisi organisasi masih sangat solid.
“Sampai saat ini, komunikasi kami dengan Pak Jokowi tetap konsisten: Prabowo-Gibran harus dua periode. Harus tuntas. Kami akan konsisten mengawal kepemimpinan ini demi keberlanjutan pembangunan,” pungkas Fredy.
Di akhir diskusi, Sekjen PROJO mengajak seluruh elemen masyarakat dan para pendukung untuk menurunkan tensi politik (cooling down) dan fokus pada hal-hal produktif bagi bangsa ketimbang terjebak dalam konflik narasi yang tidak berujung.***











