SUASANA sore di salah satu kedai kopi di bilangan Jalan Dipati Ukur, Bandung, tak pernah sepi. Di area outdoor, suara tawa dan obrolan mahasiswa dari berbagai kampus di sekitarnya berkelindan dengan deru kendaraan yang sesekali melintas.
Aroma kopi yang kuat menguar, bercampur dengan kehangatan udara Bandung yang mulai mendingin.
Di sudut kedai, di bawah pendar lampu gantung yang estetik, duduk tiga mahasiswa yang tampaknya sedang asyik mendiskusikan sesuatu di sela-sela tumpukan buku dan laptop mereka.
Mereka adalah Maya, satu-satunya wanita di meja itu, serta dua rekannya, Leo dan Aris. Di hadapan mereka, gelas-gelas kopi, baik panas maupun es, bersanding dengan camilan sore.
Leo, yang mengenakan kemeja kotak-kotak, tampak menggeser layar ponselnya. Wajahnya serius, tapi matanya berbinar.
“Gila ya, si Gibran. Bapaknya ‘diserang’ tipis-tipis sama Pak JK, dibilang jadi Presiden karena jasanya, dia malah jawab santai banget,” buka Leo, sambil menunjukkan berita terbaru dari Media.
Maya, yang sedang menyeruput es kopi susunya, sedikit memajukan duduknya untuk melihat layar ponsel Leo.
“Bukannya enggak bela, Yo. Justru itu ‘silat’ politik tingkat tinggi. Kalau dia baper, malah makin panas. Dia sebut JK mentor sama idola itu kan cara paling sopan buat bilang: ‘Iya Kek, makasih ya informasinya’.”
Aris, yang dari tadi diam sambil mencoret-coret bukunya, mengangkat wajah. Dia melihat foto Gibran yang sedang berada di Sorong, Papua, dalam layar ponsel Rian.
“Kalian ingat pembahasan kita soal Stoikisme minggu lalu?” tanya Aris tiba-tiba. Maya dan Leo menoleh serempak.
“Lihat deh,” lanjut Aris sambil menunjuk layar ponsel. “Salah satu prinsip utama Stoik itu adalah Dichotomy of Control. Kita harus bisa membedakan mana yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Gibran enggak bisa mengendalikan mulut Pak JK atau persepsi orang tentang bapaknya. Itu di luar kendalinya.”
Aris mengambil sendok kecil di samping gelas kopinya, lalu menggambar lingkaran imajiner di atas meja yang agak basah oleh embun gelas es.
“Yang bisa dia kendalikan cuma satu: reaksinya sendiri. Kalau dia marah, dia kalah. Tapi dengan memuji Pak JK sebagai ‘idola’, dia menerapkan Amor Fati—mencintai takdir atau situasi apa pun yang datang, lalu mengubahnya jadi sesuatu yang baik. Dia mengubah serangan jadi jembatan rasa hormat.”
Leo manggut-manggut, mulai tertarik. Maya pun tampak serius menyimak penjelasan Aris.
“Oalah, jadi maksudmu si Gibran ini lagi mempraktikkan ‘seni tidak peduli’ tapi dengan cara yang sangat sopan? Dia nggak membiarkan opini orang lain merusak ketenangan batinnya?” tanya Maya.
“Tepat,” jawab Aris. “Dalam Stoik, kehormatan seseorang itu tidak datang dari apa yang dikatakan orang lain tentang kita, tapi dari bagaimana kita menjaga karakter kita sendiri. Gibran tetap tenang, tetap bekerja di Papua, dan tidak terpancing drama. Itu namanya virtue atau kebajikan.”
Maya tersenyum tipis. “Tapi kalau gue jadi anaknya, jujur aja, agak panas telinga. Tapi ya itu, setelah denger penjelasan Aris, gue baru sadar kalau Gibran ini memang gayanya *stoic* banget. Lempeng, nggak mau buang energi buat hal yang nggak bisa dia ubah.”
“Itu poinnya,” tambah Leo. “Di politik, jawaban paling mematikan itu bukan balik nyubit, tapi cium tangan. Dengan bilang ‘beliau teladan kita semua’, Gibran otomatis mengunci perdebatan. JK mau bilang apa lagi kalau sudah dipuji begitu?”
Sore makin larut di Jalan Dipati Ukur. Suara bising kendaraan yang lewat di jalanan sempit itu seolah menjadi latar musik diskusi mereka.
Di meja kecil itu, berita politik yang berat di Jakarta dan Papua sana, mendadak jadi renyah dibahas bersama aroma kopi dan sedikit asupan filsafat kuno.
“Jadi menurut kalian, Pak Jokowi di rumah bakal bilang apa ke Gibran pas baca berita ini?” tanya Leo iseng.
“Palingan sambil minum jamu, beliau cuma bilang: ‘Yo wis, rapopo‘. Itu juga sudah Stoik banget, kan?” jawab Aris yang disambut tawa keduanya.
Mereka pun kembali fokus ke kopi masing-masing, sementara matahari Bandung perlahan tenggelam di balik atap-atap pemukiman padat di Jalan Dipati Ukur.***












