JAKARTA, PROJO.or.id – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), angkat bicara mengenai riuh di media sosial terkait prosesi pemberian gelar kehormatan adat yang diterimanya saat berkunjung ke Lampung. Ritual adat yang melibatkan prosesi menginjak kerbau tersebut sempat diplintir dan dikait-kaitkan dengan dinamika politik oleh sejumlah pihak.
Menanggapi hal tersebut, Jokowi menegaskan bahwa prosesi tersebut murni merupakan bentuk penghormatan budaya dari masyarakat adat setempat, khususnya dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung. Ia meminta semua pihak untuk berhenti mengaitkan kearifan lokal dengan urusan politik praktis.
”Ya itu kan bentuk penghormatan dari masyarakat adat di Lampung, bentuk penghormatan dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung. Dan saya merasa terhormat diberikan penghargaan,” ujar Jokowi saat dimintai tanggapan oleh awak media.
Belakangan, di media sosial sempat beredar narasi keliru yang menyama-nyamakan simbol kerbau dalam ritual tersebut dengan simbol politik tertentu, seperti kepala banteng. Jokowi dengan tegas menepis anggapan tersebut dan mengingatkan bahwa cara pandang seperti itu sangat tidak relevan.
”Jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering gak sambung. Kita harus terus menghargai adat istiadat, terus menghargai kearifan lokal, terus menghargai kebudayaan kita, karena budaya kita ini sangat beragam sekali,” tegasnya.
@solo.timesPresiden ke-7 Jokowi menjelaskan alasan injak kepala kerbau saat terima gelar adat sebagai Baginda Pemuka Bangsa dari 5 kerajaan di Lampung. #SoloTimes #KotaSolo #jokowi
Sekjen PROJO: Berhenti Mengotori Adat dengan Syahwat Politik
Merespons riuh disinformasi netizen tersebut, Sekretaris Jenderal DPP PROJO, Freddy Alex Damanik, mengecam keras pihak-pihak yang mencoba mempolitisasi ritual adat sakral masyarakat Lampung. Menurutnya, framing negatif yang beredar di media sosial menunjukkan kedangkalan berpikir dalam melihat kekayaan budaya Nusantara.
”Kami sangat menyayangkan adanya upaya penyesatan opini yang mengaitkan ritual adat luhur di Lampung dengan simbol-simbol politik praktis. Apa yang diterima Pak Jokowi adalah murni tanda kehormatan dan kecintaan masyarakat adat Lampung kepada beliau,” ujar Freddy Alex Damanik dalam keterangannya.
Freddy menambahkan bahwa PROJO meminta semua pihak untuk menyudahi polarisasi dan mulai belajar menghormati warisan leluhur bangsa tanpa melulu mengaitkannya dengan urusan pemilu atau persaingan partai.
”Jangan karena syahwat politik, batasan moral dan penghormatan terhadap kearifan lokal jadi hilang. Bangsa ini besar karena budayanya yang beragam, bukan karena hobi memelintir segala sesuatu demi kepentingan politik jangka pendek. PROJO tegak lurus mengawal kepemimpinan dan martabat Pak Jokowi serta kelestarian budaya nusantara,” tegas Sekjen PROJO tersebut.
Makna Filosofis Tradisi Lampung
Prosesi menginjak kerbau atau ritual adat sejenis di Lampung merupakan bagian dari tradisi turun-menurun yang sakral dan memiliki makna filosofis mendalam. Tradisi ini biasanya melambangkan keberanian, kemakmuran, kepemimpinan yang mengakar, serta bentuk penghormatan tertinggi kepada tamu agung yang dianggap berjasa bagi daerah tersebut.
Bagi PROJO, keberagaman adat istiadat seperti yang ada di Lampung adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Media sosial seharusnya digunakan untuk mengedukasi masyarakat tentang indahnya kebudayaan Indonesia, bukan justru menjadi panggung bagi narasi yang memecah belah.***




![[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa](https://projo.or.id/wp-content/uploads/2026/06/WhatsApp-Image-2026-06-24-at-20.27.09-75x75.jpeg)








