PEKANBARU, PROJO.or.id – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PROJO menegaskan bahwa kedaulatan pangan nasional harus menjadi prioritas strategis pemerintah sebagai tameng menghadapi ketidakpastian krisis energi global.
Hal ini penting untuk menjaga stabilitas ekonomi rakyat, khususnya para petani kecil yang paling rentan terdampak fluktuasi harga energi.
Ketua Bidang Pertanian DPP PROJO, Sonny Silaban, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap struktur biaya produksi pertanian di Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Ketergantungan ini membuat sektor pangan sangat sensitif terhadap gejolak harga energi dunia.
“Kita tidak bisa memungkiri bahwa struktur biaya pertanian kita masih sangat sensitif terhadap harga BBM. Mulai dari traktor di sawah hingga truk distribusi, semuanya butuh energi. Jika energi bergejolak, piring rakyat taruhannya,” tegas Sonny dalam keterangannya, Senin (6/4).
Petani Terjepit
Sonny menyoroti fenomena “penjepitan” yang dialami petani saat ini. Di satu sisi, harga input seperti solar untuk alat mesin pertanian (alsintan) dan pupuk terus merangkak naik karena bahan baku gas yang juga bergantung pada pasar energi global. Di sisi lain, harga jual gabah dituntut tetap terjangkau untuk menjaga daya beli konsumen.
“Petani kita seringkali terjepit. Kondisi ini bisa berimbas pada stabilitas harga pangan di masyarakat jika tidak segera dimitigasi dengan langkah strategis,” tambah pria yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PROJO Riau tersebut.
Solusi Desa Mandiri Energi
Sebagai langkah konkret jangka panjang, DPP PROJO mendorong percepatan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) berbasis pedesaan. Konsep “Desa Mandiri Energi” dinilai mampu memutus ketergantungan sektor pertanian dari energi fosil.
“Kita punya potensi energi luar biasa seperti matahari dan biogas. Jika dimanfaatkan secara optimal di desa-desa sentra pangan, alat pertanian bisa digerakkan dengan energi mandiri. Ini akan memangkas biaya logistik secara signifikan,” jelasnya.
DPP PROJO berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan pemerintah agar tetap berpihak pada keberlangsungan hidup petani kecil.
Dengan sistem logistik yang efisien dan transisi ke energi yang lebih terjangkau, PROJO optimis Indonesia mampu berdiri tegak menghadapi ancaman krisis pangan maupun energi di masa depan.***











