• Kontak Kami
  • Redaksi
  • Kirim Artikel
  • Projo Store
  • Donasi
  • Laporkan !
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Istana
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Jurnalis Warga
    • Bergabung Anggota
    • Kirim Laporkan
    • Donasi
    • Berlangganan Informasi
  • Kontak
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
No Result
View All Result
PROJO.or.id
No Result
View All Result

Membaca ‘Hukum Alam’ Politik Bambang Pacul dan Mentalitet Akar Rumput

Tim Redaksi Oleh Tim Redaksi
24 Juni 2026
in Kabar Rakyat
Waktu Baca: 4 menit
A A
0
Membaca ‘Hukum Alam’ Politik Bambang Pacul dan Mentalitet Akar Rumput

DALAM riuh rendah panggung politik nasional yang kerap kali bising oleh caci maki dan miskin substansi, sebuah wejangan lama kembali menemukan relevansinya.

Masih ingatkah kita dengan pernyataan tajam namun filosofis dari politikus senior Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul di podcast Total Politik?

Dengan lugas, ia melempar sebuah dalil yang ia sebut sebagai “ilmu kehidupan”: “Jangan memusuhi orang baik atau orang yang dianggap baik oleh rakyat.”

Peringatan Bambang Pacul ini bukan sekadar pembelaan politik pragmatis, melainkan sebuah pembacaan yang sangat presisi terhadap genetika budaya dan psikologi massa (mentalitet) masyarakat kita.

Di dunia Timur, khususnya Indonesia, politik tidak pernah bekerja di atas ruang hampa yang kering dari emosi. Ada hukum tidak tertulis yang mengatur bahwa ketika Anda menyerang sosok yang sudah terlanjur “dikunci” sebagai orang baik di hati rakyat dengan kata-kata kasar dan serangan personal, Anda tidak sedang meruntuhkan wibawa sosok tersebut—Anda justru sedang meruntuhkan diri Anda sendiri.

@solokini

 

Mentalitet Kolektif: Labirin Psikologis “Orang Baik”

Secara teoretis dan praktis, menyerang figur publik yang dipersepsikan sebagai “orang baik” oleh mayoritas akar rumput—seperti halnya fenomena Jokowi—adalah sebuah blunder strategi yang fatal. Mengapa?

Karena di sinilah mentalitet kolektif masyarakat bekerja secara otomatis melalui hukum aksi-reaksi opini publik.

Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan psikologis yang sangat kuat untuk berpihak pada pihak yang dirugikan atau disakiti (the underdog effect). Ketika kritik berubah wujud menjadi caci maki yang melukai hati—sebagaimana diksi kasar yang kerap dilontarkan oleh para kritikus radikal—publik tidak akan lagi melihat apa isi kritiknya. Perhatian mereka langsung teralihkan oleh “keburukan cara” si pengkritik.

Menyerang “orang baik” dengan cara yang tidak beretika secara instan mengubah dialektika politik menjadi sebuah drama moral. Publik yang semula netral, atau bahkan yang memiliki catatan kritis, perlahan-lahan akan memutar haluan: mereka beralih memberikan simpati dan pembelaan kepada sosok yang diserang, sementara si pengkritik akan dicap sebagai penjahat komunikasi yang frustrasi.

Inilah mengapa benteng pertahanan terbaik seorang pemimpin di Indonesia bukan terletak pada barisan aparat, melainkan pada persepsi kesederhanaan dan kebaikan yang tertanam di benak rakyatnya.

Kritik yang Kehilangan Sisi Kemanusiaan

Sangat disayangkan melihat bagaimana ruang digital kita hari ini kerap diisi oleh generasi muda dan aktivis yang terjebak dalam delusi bahwa makin kasar sebuah kritik, makin berani dan keren mereka terlihat. Padahal, bahasa adalah cermin dari kedewasaan berpikir.

Bambang Pacul mengingatkan kita pada kebenaran mendasar dalam tata krama ketimuran: mengkritik adalah hak konstitusional, tetapi merendahkan martabat manusia adalah kebangkrutan moral.

Ketika kritik disampaikan dengan amarah yang meluap-luap dan serangan personal, substansi dari kritik itu sendiri justru kabur dan mati di tengah jalan.

Caci maki bukanlah tanda ketajaman berpikir, melainkan sebuah pengakuan tidak langsung atas ketidakmampuan menyusun argumen yang elegan dan berbasis data.

Berpolitik dengan Kepala Dingin, Bukan Makian

Pesan moral dari “Ilmu Kehidupan” Bambang Pacul ini sejatinya bukanlah sebuah ajakan untuk membungkam nalar kritis atau bersikap permisif terhadap kekurangan pemerintah. Sama sekali bukan. Ini adalah sebuah seruan untuk menaikkan kelas dan kualitas diskursus publik kita.

Jika kita menginginkan demokrasi yang sehat dan melompat maju, maka cara kita bertukar gagasan pun harus bertransformasi menjadi lebih beradab.

Kritik harus tetap tajam, sekaku pisau bedah yang membedah borok kebijakan, namun tetap diletakkan dalam koridor etika yang menghargai kemanusiaan.

Dalam jangka panjang, sejarah selalu mencatat bahwa kekuasaan tidak akan pernah bisa digoyang oleh sekadar seruan kebencian dan makian yang destruktif. Kebencian yang tidak terukur hanya akan menjadi bahan bakar yang membakar diri sang pengkritik itu sendiri dalam kesunyian.

Sebaliknya, argumen yang dirangkai dengan kepala dingin, data yang sahih, dan bahasa yang santun namun menohok, jauh lebih berkuasa untuk mengetuk kesadaran sang penguasa dan memenangkan hati rakyat banyak.

Prinsip ini bergaung selaras dengan ajaran filsuf Tiongkok kuno, Konfusius, yang dalam Analects menekankan konsep Ren (kebajikan) sebagai landasan utama seorang pemimpin.

KabarLainnya

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Konfusius percaya bahwa legitimasi kekuasaan bukan lahir dari kekerasan atau intrik kekuasaan, melainkan dari “Mandat Langit” yang diberikan kepada mereka yang memiliki integritas moral.

Bagi Konfusius, memusuhi orang yang dicintai rakyat sama saja dengan melawan tatanan moral alam semesta, yang pada akhirnya akan membawa keruntuhan bagi si pemegang kuasa itu sendiri.

​Dalam tradisi Barat, pemikiran ini juga sejalan dengan etika Aristoteles dalam Nicomachean Ethics. Aristoteles berargumen bahwa politik sejatinya adalah perpanjangan dari etika, di mana tujuan tertinggi dari negara adalah terciptanya eudaimonia atau kebahagiaan bagi warga negara.

Seorang politisi yang memusuhi figur yang membawa kebaikan bagi masyarakat sesungguhnya telah gagal memahami hakikat politik, karena ia menempatkan ambisi pribadi di atas tujuan kolektif masyarakat yang seharusnya ia layani.

​Dengan demikian, pernyataan Bambang Pacul sejatinya adalah pengingat akan hukum kuno mengenai keseimbangan sosial.

Ketika politisi mengabaikan nilai-nilai kebajikan dan memilih untuk menyerang mereka yang dihormati publik, mereka sebenarnya sedang menggerogoti dasar pijakan mereka sendiri. Politik tidak lagi menjadi panggung pengabdian, melainkan panggung kehancuran, di mana keberisikan caci maki justru menutupi fakta bahwa mereka telah kehilangan kompas moral yang seharusnya membimbing setiap kebijakan.***

Add as Preferred Source
Share12Send
Ikuti WhatsApp Channel PROJO.or.id follow
Kabar Sebelumnya

Dinamika Digital: Publik Berikan Respons Positif Terhadap Rencana “Turun Gunung” Jokowi

Kabar Selanjutnya

Filosofi “Mentalitet Korea” Bambang Pacul: Mengapa Jokowi Adalah Petarung Sejati yang Sulit Ditaklukkan?

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Penulis & Editor

KabarTerkait

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan
Kabar Rakyat

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan
Kabar Rakyat

Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan
Kabar Rakyat

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

29 Oktober 2026
Kabar Selanjutnya
Filosofi “Mentalitet Korea” Bambang Pacul: Mengapa Jokowi Adalah Petarung Sejati yang Sulit Ditaklukkan?

Filosofi "Mentalitet Korea" Bambang Pacul: Mengapa Jokowi Adalah Petarung Sejati yang Sulit Ditaklukkan?

[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa

[SIARAN PERS] PROJO Sampaikan Pesan Jokowi terkait Kasus Roy-Tifa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

29 Oktober 2026
Antrean Tamu Mengular di Kediaman Jokowi, Dua Warga Malaysia Terharu Disalami Presiden ke-7 RI

Antrean Tamu Mengular di Kediaman Jokowi, Dua Warga Malaysia Terharu Disalami Presiden ke-7 RI

29 Oktober 2026
Jokowi Tanggapi Wacana Pemakzulan Gibran: Itu Hak Konstitusional DPR

Jokowi Dijadwalkan Hadir di Sidang Roy Suryo, Ajudan: Insyaallah Bapak Pasti Hadir

28 Oktober 2026
Rombongan Mahasiswa dan Dosen Universitas Cenderawasih Sambangi Jokowi di Solo, Lagu Papua Warnai Silaturahmi

Rombongan Mahasiswa dan Dosen Universitas Cenderawasih Sambangi Jokowi di Solo, Lagu Papua Warnai Silaturahmi

28 Oktober 2026

TRENDING

  • Jokowi Tanggapi Wacana Pemakzulan Gibran: Itu Hak Konstitusional DPR

    Jokowi Dijadwalkan Hadir di Sidang Roy Suryo, Ajudan: Insyaallah Bapak Pasti Hadir

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Jokowi Hormati Proses Hukum, Siap Hadir Jika Dipanggil ke Persidangan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Dari Meja Hijau ke Lingkar Politik: Perjalanan Freddy Alex Damanik

    536 shares
    Share 214 Tweet 134
  • Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jokowi Tekankan Evaluasi Berdasarkan Manfaat bagi Masyarakat

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Jokowi Tanggapi Survei Elektabilitas Cawapres: Itu Potret Sesaat, Jangan Buru-buru Menyimpulkan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Antrean Tamu Mengular di Kediaman Jokowi, Dua Warga Malaysia Terharu Disalami Presiden ke-7 RI

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Refleksi Sumpah Pemuda : Kaum Muda di Era Modern

    27 shares
    Share 11 Tweet 7

Menulis, alat perjuangan utama untuk membentuk sejarah. Daftar jadi Jurnalis Warga atau sebagai penulis di PROJO.or.id

daftar

Setia di Garis Rakyat

Projo Network

  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Index
  • Sitemap
  • Redaksi
  • Jurnalis Warga
  • KITA
  • Laporkan !
© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved. WebNesia
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Kabar Nasional
    • Kabar Daerah
    • Kabar Rakyat
  • Opini & Sosok
    • Opini
    • Sosok
  • Galeri
    • Foto
    • Video
  • Siaran Pers
  • Aksi
    • Bergabung Anggota
    • Daftar Penulis
    • Kirim Laporkan
    • Berlangganan Informasi
    • Donasi
  • Tentang Kami
    • Sejarah PROJO
    • Profil PROJO
    • Struktur Organisasi
  • Jurnalis Warga
  • Redaksi
  • Kontak Kami

© 2026 PROJO - Setia di Garis Rakyat - All Right Reserved.