JAKARTA, PROJO.or.id – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, memberikan pandangan strategis mengenai masa depan digital bangsa melalui sebuah tayangan video terbaru di kanal YouTube resminya. Namun, ada pemandangan unik yang memicu kehebohan di kalangan warganet. Sepanjang memaparkan materi berat mengenai Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, Wapres Gibran tampak santai berbicara sambil mengelus-elus seekor kucing.
Sontak, aksi santai ini membuat netizen di kolom komentar sempat “salah fokus” (salfok). Meski banyak yang gemas dengan interaksi tersebut, substansi yang disampaikan orang nomor dua di Indonesia ini memuat pesan yang sangat krusial bagi masa depan generasi muda dan dunia pendidikan tanah air.
AI Adalah Realitas Hari Ini, Bukan Lagi Masa Depan
Dalam video tersebut, Wapres Gibran menegaskan bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat. Jika dulu fokus pembangunan berpusat pada literasi baca-tulis, kini dunia telah berada di puncak transformasi digital, yaitu era AI.
Menurutnya, Indonesia tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton di pinggir lapangan. Seluruh elemen bangsa harus bangkit menjadi pemain dan penguasa teknologi tersebut.
“AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini. Oleh sebab itu, kepada adik-adik pelajar, saya ingin kalian memahami bahwa AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas,” ujar Wapres Gibran.
Beliau mengibaratkan AI sebagai asisten pribadi yang siap membantu pelajar mencari data, belajar bahasa asing, hingga menyederhanakan rumus matematika yang rumit. Dengan kehadiran teknologi open source yang gratis dan bisa diakses siapa saja, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk melompat mengejar ketertinggalan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Pesan Penting untuk Guru, Orang Tua, dan Tantangan Etika
Tak hanya menyasar para pelajar, Wapres Gibran juga memberikan perhatian khusus kepada para pendidik dan orang tua agar tidak gagap menghadapi percepatan teknologi ini:
-
Bagi Para Guru: Menguasai AI akan memberikan “kekuatan super” untuk memangkas beban administratif. Dengan begitu, guru memiliki waktu lebih banyak untuk menyentuh sisi humanis dan pembentukan karakter murid.
-
Bagi Orang Tua: Diperlukan pendampingan aktif agar anak-anak tidak “terbang tinggi” sendirian dengan teknologi, sementara orang tua tertinggal di bawah tanpa tahu apa yang diakses anak.
Wapres juga memberikan catatan tebal mengenai etika dan moralitas. “Teknologi tanpa etika itu berbahaya,” tegasnya. Beliau mengingatkan agar kehebatan AI tidak disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, menipu, atau menjatuhkan orang lain, melainkan harus diarahkan untuk kesejahteraan bersama.
Pemerintah Siapkan Ekosistem
Sebagai langkah nyata, Indonesia dikabarkan telah berhasil menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) untuk AI yang disusun oleh UNESCO. Instrumen ini menjadi alat diagnosis untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI di Indonesia agar tetap berjalan di atas koridor pedoman etika global.
Di akhir video, sembari menuntaskan kebersamaannya dengan sang kucing yang sempat membuat netizen teralihkan, Wapres Gibran menitipkan pesan penutup yang kuat bagi seluruh talenta hebat Indonesia.
“Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat. Selamat belajar, selamat berinovasi,” pungkasnya.***











