JAKARTA, PROJO.or.id – Dinamika politik yang berkembang pasca-pernyataan salah satu fungsionaris Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, memantik perhatian serius di internal Relawan PROJO. Kendati demikian, PROJO menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga marwah dan kehormatan organisasi sebagai gerakan relawan yang konsisten mengawal cita-cita perjuangan bangsa secara bijak.
Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan media, Bestari Barus melontarkan pandangan yang dinilai menyudutkan dengan mempertanyakan identitas historis PROJO.
“Saya enggak tahu itu Projo, Projo apa ya? … Jadi agak membingungkan lu menanyai saya ini Projo, Projo mana? Yang sudah enggak Pro Jokowi lagi?” ujar Bestari menanggapi rencana agenda silaturahmi nasional yang sempat disampaikan oleh Sekjen PROJO.
Ajakan Refleksi: Kedewasaan Sikap di Tingkat Akar Rumput
Merespons polemik tersebut, Ketua DPD PROJO Lampung, Drs. Andri Budiman, MM, memberikan pandangan yang teduh namun berprinsip teguh. Ia menekankan pentingnya bagi semua elemen politik untuk mengutamakan semangat persatuan bangsa dan menghindari retorika yang dapat memicu keretakan.
Andri tidak menampik bahwa pernyataan sepihak tersebut sempat memicu gelombang kekecewaan di tingkat akar rumput (grassroot). Banyak kader daerah yang merespons keras, bahkan menyarankan agar PROJO tidak perlu terlibat dalam agenda-agenda yang berpotensi mereduksi peran strategis relawan yang telah setia berjuang sejak awal.
“Bagi kami, harga diri organisasi dan kehormatan kader adalah hal yang paling utama. Kami tidak ingin energi perjuangan ini terkuras dalam narasi-narasi yang tidak produktif,” tegas Andri.
Namun, sebagai pemimpin di daerah, Andri bergerak cepat memberikan pemahaman dan meredam tensi di tingkat bawah.
“Kami terus memberikan edukasi dan pemahaman kepada kawan-kawan di tingkat grassroot. Kita harus menunjukkan kedewasaan dalam berorganisasi. Jangan sampai kita terjebak dalam politik adu domba yang justru merugikan agenda besar bangsa,” imbaunya.
Menjaga Keharmonisan yang Telah Terbangun Indah
Lebih lanjut, Andri sangat menyayangkan adanya letupan pernyataan yang dapat mengganggu keharmonisan hubungan baik yang selama ini telah terjalin erat dengan semua elemen pendukung pemerintah, termasuk PSI. Ia mencontohkan bagaimana potret kolaborasi nyata yang solid pernah terjadi di Lampung.
“Kami masih mengingat betul betapa hangatnya kunjungan Ketum PSI di Lampung beberapa waktu lalu, di mana PROJO diajak langsung untuk mendampingi dan membersamai kegiatan beliau. Begitu pula saat kunjungan Wakil Presiden terpilih, Mas Gibran Rakabuming Raka,” kenang Andri.
Menurutnya, realitas di lapangan membuktikan bahwa hubungan antartokoh utama berada dalam kondisi yang sangat sangat baik. “Hubungan Ketum PSI dengan PROJO, hubungan Pak Jokowi dengan PROJO, serta hubungan Mas Wapres Gibran itu sangat harmonis. Kebersamaan dan silaturahmi yang telah terbangun indah ini selayaknya tidak terdistorsi oleh pernyataan oknum yang tidak mewakili semangat persatuan,” sesalnya.
Sikap Strategis dan Kedepankan Komunikasi Profesional
Sebagai bagian dari kedewasaan berpolitik, PROJO mengingatkan semua pihak, termasuk rekan-rekan di PSI, untuk lebih berhati-hati dan bijak dalam menjalin komunikasi publik. PROJO menegaskan bahwa fokus utama organisasi saat ini adalah mengawal keberlanjutan program strategis nasional demi kemajuan Indonesia.
“Kami tidak memiliki niat untuk menyerang pihak manapun. Namun, kami juga meminta dengan hormat agar marwah organisasi kami dihargai. PROJO bukan musuh PSI,” tutur Andri meluruskan.
Ia menambahkan, kolaborasi politik yang sehat di masa depan harus tetap berdiri di atas prinsip saling menghormati dan kesepahaman yang jelas. “Ingat, PROJO harus menuntaskan setiap dinamika ini dengan tegas, cerdas, dan bermartabat. Kami akan terus melakukan konsolidasi internal dari pusat hingga daerah guna memperkuat visi organisasi menuju masa depan. Mumpung waktu masih panjang,” pungkasnya.
Meluruskan Arti ‘PROJO’ sebagai Gerakan Rakyat
Untuk menyegarkan kembali ingatan publik atas sentilan yang beredar, Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi dalam Kongres III PROJO beberapa waktu lalu telah menjabarkan arti filosofis dari nama organisasi. Nama PROJO diambil dari bahasa Sansekerta dan Jawa Kawi yang memiliki arti Negeri dan Rakyat.
Sementara itu, pelafalan “Pro Jokowi” yang melekat selama ini merupakan bentuk simplifikasi publik dan media untuk menggambarkan rekam jejak historis militansi relawan dalam memenangkan serta mengawal penuh pemerintahan Presiden Jokowi.
Hingga hari ini dan ke depan, PROJO menegaskan akan tetap setia berdiri di garis rakyat untuk memperjuangkan kedaulatan negeri. PROJO pun mengajak seluruh komponen bangsa untuk terus mengedepankan semangat silaturahmi demi menjaga kondusivitas politik nasional.***











