JAKARTA, PROJO.or.id – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, gelombang kendaraan mengalir deras meninggalkan wilayah Jabodetabek. Hingga Selasa (17/3) pukul 22.00 WIB, tercatat sekitar 1,1 juta kendaraan telah bergerak keluar ibu kota, menandai lonjakan signifikan dibanding hari-hari sebelumnya.
Data menunjukkan mayoritas pemudik bergerak ke arah timur melalui jalur Trans-Jawa menuju Jawa Tengah (sekitar 47%), disusul ke arah Merak (31%), dan jalur selatan atau Puncak (21%). Jalanan berubah seperti sungai baja yang mengalir tanpa jeda, sementara petugas bekerja keras menjaga arus tetap terkendali.
Lonjakan Tajam dan Rekayasa Lalu Lintas
Peningkatan volume kendaraan membuat rekayasa lalu lintas tak terhindarkan. Skema one-way telah diberlakukan di sejumlah ruas strategis, termasuk dari KM 70 hingga KM 263 Tol Cikampek–Pemalang sejak 17 Maret. Bahkan, skenario one-way nasional dari KM 29 hingga KM 420 mulai disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan lebih besar.
Di Tol Cipali, kepadatan tampak mencolok. Pada Rabu (18/3) pagi, sekitar 47 ribu kendaraan melintas di Gerbang Tol Cikopo dalam rentang pukul 00.00–09.00 WIB, melonjak hampir 97% dibanding hari sebelumnya. Rata-rata arus mencapai 5.300 kendaraan per jam, mendekati ambang padat ekstrem.
Moda Transportasi Umum Ikut Diserbu
Tak hanya jalur darat, moda transportasi umum juga mengalami lonjakan. PT KAI mencatat penjualan tiket mencapai 3,48 juta kursi atau 77,4% dari total kapasitas. Kereta jarak jauh bahkan telah terisi hingga 87,9%, sementara kereta lokal masih relatif longgar di angka 36,9%.
Terminal bus besar seperti Pulo Gebang mulai dipadati ribuan pemudik, sementara maskapai menambah frekuensi penerbangan seiring kebijakan penurunan tarif. Di jalur laut, penyeberangan Merak–Bakauheni dan Gilimanuk mengalami antrean panjang, dengan kapal beroperasi hampir tanpa jeda.
Titik Rawan dan Insiden
Beberapa titik krusial mengalami perlambatan, terutama di Tol Jakarta–Cikampek dan Cipali. Selain itu, kecelakaan di Pantura Brebes pada 17 Maret serta insiden di Tol Tangerang–Merak KM 76 sehari sebelumnya sempat memperlambat arus kendaraan.
Meski demikian, Korlantas Polri menyebut angka fatalitas mudik tahun ini mengalami penurunan signifikan, hingga sekitar 45% dibanding kondisi normal.
Puncak Arus dan Antisipasi
Pemerintah memprediksi puncak arus mudik terjadi pada 18–19 Maret (H-2 hingga H-1). Sementara arus balik diperkirakan memuncak pada 24–29 Maret.
Sejumlah langkah telah disiapkan:
-
Pembukaan posko mudik terpadu
-
Penambahan armada kereta, kapal, dan pesawat
-
Diskon tarif tol dan tiket pesawat
-
Pengetatan pemeriksaan kendaraan (ramp check)
Imbauan untuk Pemudik
Di tengah arus yang kian padat, pemudik diimbau untuk mengatur strategi perjalanan. Berangkat lebih awal bisa menjadi kunci menghindari kepadatan ekstrem. Penggunaan tiket elektronik, kesiapan saldo tol, serta disiplin mengikuti rekayasa lalu lintas menjadi faktor penting.
Pengemudi juga diminta tidak memaksakan diri. Beristirahat di rest area resmi, menjaga kondisi tubuh, dan menghindari berhenti di bahu jalan adalah langkah sederhana yang bisa menyelamatkan perjalanan.
Mudik tahun ini bukan sekadar perjalanan pulang, tetapi juga ujian kesabaran di tengah lautan kendaraan yang terus bergerak. Di balik kemacetan dan antrean panjang, ada satu hal yang tetap sama: kerinduan yang menunggu di kampung halaman.***











