JAKARTA, PROJO.or.id — Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi menilai Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) merupakan dua pemimpin yang sama-sama mengedepankan kepentingan negara dan rakyat.
Hal itu disampaikan Budi Arie saat menjadi narasumber dalam Podcast Hendri Satrio Official. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Budi Arie diminta menanggapi narasi mengenai hubungan Prabowo dan Jokowi, termasuk isu bahwa kedua tokoh tersebut dapat berpisah secara politik.
Budi Arie mengatakan hubungan kedua tokoh tersebut tidak tepat jika selalu dibaca sebagai hubungan yang didasarkan pada kepentingan politik pribadi.
“Ini adalah pemimpin-pemimpin yang mengedepankan kepentingan negara dan rakyat,” ujar Budi Arie.
Budi Arie mengaku memiliki pengalaman berada di pemerintahan Presiden Prabowo, sehingga dapat melihat secara langsung bagaimana Prabowo menjalankan tugasnya sebagai kepala pemerintahan.
“Saya sempat jadi pembantunya Pak Prabowo. Saya lihat beliau ini orang yang sangat konsen,” katanya.
Menurut Budi Arie, baik Prabowo maupun Jokowi memiliki perhatian terhadap kepentingan bangsa dan negara.
“Kalau dihitam itu dadanya merah putih. Begitu juga Pak Jokowi. Enggak ada kepentingan lain,” ujar Budi Arie.
Jangan Adu Domba Pemimpin Bangsa
Budi Arie juga mengingatkan agar para pemimpin bangsa tidak dipertentangkan satu sama lain hanya karena memiliki perbedaan pandangan politik.
Ia mengatakan setiap pemimpin memiliki tugas dan waktunya masing-masing dalam perjalanan bangsa.
“Makanya saya juga kadang-kadang sedih kalau pemimpin-pemimpin bangsa kita ini diadu domba,” tuturnya.
Menurut Budi Arie, perbedaan pandangan politik merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Ia sendiri mengaku tetap menghormati sejumlah tokoh bangsa yang memiliki latar belakang dan pilihan politik berbeda.
“Setiap pemimpin perlu itu ada tugasnya, ada waktunya. Jadi kita hormatilah,” katanya.
Budi Arie juga menyatakan tetap menghormati Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
“Saya tetap hormat sama Pak SBY dan Bu Mega. Apalagi saya dulu pernah jadi pejuang ’98,” ujar Budi Arie.
Beda Politik Bukan Alasan Bermusuhan
Budi Arie menilai perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat antarpemimpin maupun antarelemen bangsa.
Menurut dia, dalam kehidupan politik terdapat perbedaan yang bersifat biasa atau kontradiksi minor. Namun, persoalan yang lebih penting adalah menjaga prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan berdemokrasi.
“Kalau soal politik ya sudahlah, beda-beda pendapat kan biasa,” katanya.
Ia menegaskan prinsip tersebut juga menjadi salah satu alasan dirinya menyuarakan pentingnya menjaga demokrasi ketika memberikan pandangan mengenai dinamika politik nasional.
“Prinsip dan pernyataan saya itu prinsip. Saya mau jaga demokrasinya,” ujar Budi Arie.
Soal Isu Prabowo Diatur Jokowi
Dalam podcast tersebut, Budi Arie juga menanggapi isu yang menyebut Presiden Prabowo berada di bawah pengaruh atau kendali Jokowi.
Ia menyebut narasi tersebut sebagai bagian dari spekulasi yang berpotensi mempertentangkan kedua tokoh.
“Itu gosip-gosip aja, mengadu domba Pak Jokowi sama Pak Prabowo,” katanya.
Menurut Budi Arie, Jokowi tidak akan memaksakan pandangannya kepada Presiden Prabowo.
“Pak Jokowi kalau enggak dimintain pendapat juga enggak mengaruh pendapat,” ujarnya.
Budi Arie mengatakan hubungan antarpemimpin seharusnya dilihat secara utuh dan tidak hanya berdasarkan asumsi atau potongan informasi.
“Orang aja bayang-bayang. Ada bayang-bayang dibilang bayang-bayang. Enggak lihat gambar utuh,” kata Budi Arie.
Ia pun mengajak masyarakat untuk melihat dinamika politik secara lebih proporsional serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang mempertentangkan para pemimpin bangsa.
Bagi Budi Arie, perbedaan pilihan dan pandangan politik merupakan bagian dari demokrasi. Namun, kepentingan negara dan rakyat tetap harus menjadi orientasi utama dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.***












