SOLO, PROJO.or.id – Babak baru perseteruan panjang mengenai keaslian ijazah Joko Widodo akhirnya menemui titik terang yang menyejukkan. Rismon Sianipar (Risma Hasirwansyah Sianipar), sosok yang sebelumnya menghebohkan publik lewat buku Jokowi White Paper, mendatangi langsung kediaman Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, Rabu (17/6/2026) pagi.
Kehadiran Rismon bukan lagi untuk menggugat, melainkan untuk menyerahkan sebuah karya ilmiah setebal 800 halaman berjudul Otentikasi Ijazah Joko Widodo: Sebuah Kajian Forensik Digital. Langkah ini diakuinya sebagai wujud permohonan maaf terbuka, kerendahan hati, dan pertanggungjawaban moral ilmiah untuk mengoreksi total kekeliruan narasi yang ia bangun di masa lalu.
Pengakuan Terbuka di Solo: “Saya Big Mistake“
Didampingi kuasa hukumnya, Jahmada Girsang, Rismon tiba di depan kediaman Jokowi sekira pukul 09.44 WIB. Menenteng langsung buku barunya yang ber-cover wajah Jokowi, Rismon secara terbuka mengakui kebesaran hati mantan presiden tersebut dan menyatakan bahwa analisisnya terdahulu merupakan kesalahan besar.
“Sebagai rasa berterima kasih saya pada kebesaran hati Pak Jokowi, bahwa saya selama ini big mistake (salah besar). Dan saya memperbaikinya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah,” ujar Rismon jujur di hadapan awak media.
Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil murni demi kebenaran akademik, bukan karena tekanan politik.
“Saya hanya tunduk pada kaidah-kaidah ilmiah. Ini semata-mata adalah karya yang tunduk pada kaidah ilmiah, bukan tunduk pada afiliasi politik, kebencian, ketidaksukaan, kesukaan, dan segala macam,” tegasnya.
@solokini Rismon Sianipar pamer buku karya terbarunya untuk mengkonter buku sebelumnya, Jokowi White Paper. Buku yang berisi tentang keaslian ijazah Jokowi #jokowi #jokowidodo #ijazahjokowi #ijazahasli #rismonsianipar ♬ original sound – SOLOKINI
Membuktikan Keaslian Ijazah dengan Machine Learning
Sebagai seorang akademisi, Rismon menebus kesalahannya melalui metode ilmiah yang ketat. Dalam Bab 10 buku terbarunya, ia membedah keaslian foto ijazah Jokowi menggunakan teknologi pencocokan citra digital berbasis neural networks dan machine learning melalui metode Acface.
Teknologi ini membandingkan akurasi foto Jokowi saat muda dengan foto setelah menjabat sebagai Presiden dalam rentang waktu 30 hingga 40 tahun kemudian. Untuk menjaga objektivitas, Rismon juga menguji metode ini pada foto masa muda dan masa kini dari sejumlah tokoh nasional seperti Prabowo Subianto, SBY, Megawati Soekarnoputri, Luhut Binsar Pandjaitan, hingga Anies Baswedan.
Hasil pengujian ilmiah menunjukkan nilai cosine similarity (tingkat kemiripan citra) berada di angka 35 hingga 60 persen. Secara ilmu forensik digital, angka tersebut sangat realistis bagi perubahan anatomi wajah manusia yang dimakan usia.
“Kecocokannya antara 35 sampai 60 persen. Itu yang paling realistis. Jadi ya kita sudahilah ini, tidak ada lagi penilaian subjektivitas bahwa ‘Oh itu kok berkacamata, itu kok belah tengah segala macam’, itu enggak ilmiah,” urai Rismon mematahkan berbagai teori konspirasi yang sempat beredar di media sosial.
Babak Akhir Hukum: Mengawal Restorative Justice
Aksi rekonsiliasi di Solo ini berjalan beriringan dengan proses hukum yang tengah bergulir di Jakarta. Di tempat terpisah, tim kuasa hukum Rismon menjelaskan bahwa mereka juga tengah memproses penyelesaian perkara berbasis keadilan restoratif (restorative justice) di Mapolda Metro Jaya.
Proses damai tersebut rupanya telah dikawal ketat sejak 12 Maret lalu. Menjelang genap 4 bulan berjalan, tim hukum menyebut bahwa secara legalitas Rismon sebenarnya sudah bisa dinyatakan bebas. Namun, ada beban moral keilmuan (moral responsibility) yang dirasa harus diselesaikan agar tidak menjadi utang sejarah.
Menariknya, dalam pengawalan proses hukum di Jakarta, tampak hadir pula Andi Wasman, tokoh militan Gibran Nusantara. Kehadiran elemen pendukung Gibran Rakabuming Raka ini menjadi sinyal kuat bahwa semangat rekonsiliasi dan kekeluargaan disambut baik oleh lingkaran keluarga Solo.
Warisan Ilmiah untuk Perpustakaan Kampus
Ogah terus-terusan membuat kegaduhan di dunia maya, Rismon memilih menyebarkan kebenaran ilmiah ini ke jalur formal. Buku Otentikasi Ijazah Joko Widodo ini rencananya akan didistribusikan ke perpustakaan universitas di seluruh Indonesia agar menjadi bahan kajian valid bagi mahasiswa Teknik Elektro dan Informatika.
“Ini moral obligation (kewajiban moral) saya. Makanya saya enggak mau terlalu ribut di media sosial, ya sudah kita tempatkan saja ini di perpustakaan supaya dikaji bukan hanya generasi ini, tapi generasi ke depan. Bahwa kita bertanggung jawab untuk itu,” pungkas Rismon menutup keterangannya.***









