JAKARTA, PROJO.or.id – Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi menilai generasi muda memiliki energi dan perjalanan politik yang masih panjang untuk membuktikan kapasitas kepemimpinannya. Berbagai tantangan, kritik, hingga pertarungan politik, menurutnya, dapat menjadi proses yang membentuk karakter dan mendewasakan seorang pemimpin.
Pesan tersebut disampaikan Budi Arie dalam podcast Sinkos Indonesia ketika membahas perjalanan politik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, termasuk polemik persyaratan pendidikannya yang sempat bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK).
Budi Arie mengingatkan bahwa generasi muda tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan persoalan yang sedang dihadapi saat ini. Dengan waktu dan kesempatan yang masih panjang, mereka memiliki ruang untuk belajar, memperbaiki diri, serta membuktikan kemampuan melalui proses politik yang dijalani.
“Jangan sekali-sekali lu lawan anak muda. Kita makin menua, dia makin bersinar. Itu kan prinsip kita waktu jadi aktivis 98. Lu lawan kita, enggak mungkin menang lu. Kita waktu 20-an,” ujar Budi Arie.
Ia kemudian mengaitkan pandangan tersebut dengan posisi Gibran yang masih relatif muda dalam perjalanan politik nasional.
“Mas Gibran masih paling belum muda, 40. Energi politiknya, waktu politiknya masih panjang,” kata Budi Arie.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak selalu terbentuk melalui perjalanan yang mudah. Proses yang penuh tantangan justru dapat menjadi ruang untuk menguji keteguhan, kemampuan menghadapi tekanan, dan kematangan dalam mengambil keputusan.
Budi Arie menegaskan bahwa pemimpin perlu ditempa melalui pengalaman, termasuk ketika menghadapi kritik dan pertarungan politik.
Gugatan Pendidikan Gibran di MK dan Polemik yang Mengemuka
Pernyataan Budi Arie disampaikan dalam konteks dinamika politik yang turut dihadapi Gibran, termasuk gugatan mengenai persyaratan pendidikan calon wakil presiden yang diperiksa MK.
Pada 6 Oktober 2026, MK memutus perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 yang diajukan sejumlah pemohon, termasuk mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana. Perkara tersebut mempersoalkan pemenuhan persyaratan pendidikan Gibran ketika mendaftar sebagai calon wakil presiden pada Pemilihan Presiden 2024.
Para pemohon mempersoalkan dokumen pendidikan Gibran yang diperoleh di luar negeri dan meminta MK menilai pemenuhan persyaratan pendidikan minimal SMA atau sederajat dalam pencalonannya.
Dalam putusannya, MK menyatakan permohonan tidak dapat diterima karena para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan perkara tersebut.
Dalam pertimbangannya, MK juga menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma pendidikan luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan minimal SMA atau sederajat.
Meski demikian, putusan tersebut tidak membatalkan atau mendiskualifikasi Gibran dari jabatannya sebagai wakil presiden. MK juga menegaskan bahwa persoalan pemenuhan persyaratan pencalonan presiden dan wakil presiden berkaitan dengan kewenangan lembaga lain sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, putusan mengenai tidak dapat diterimanya permohonan perlu dibedakan dari pertimbangan MK mengenai bukti pendidikan yang dipersoalkan pemohon.
Polemik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan persyaratan pencalonan pejabat publik tidak hanya menjadi perdebatan politik, tetapi juga menyangkut kepastian hukum, dokumen administrasi, dan kewenangan lembaga negara.
Gibran sendiri menyatakan menghormati proses yang berlangsung di MK dan menegaskan akan tetap fokus menjalankan tugas sebagai wakil presiden.
Di tengah dinamika itu, pandangan Budi Arie menempatkan tantangan politik sebagai bagian dari perjalanan seorang pemimpin. Namun, persoalan yang muncul tetap harus dijawab melalui mekanisme hukum dan kelembagaan yang berlaku.
Budi Arie: Pemimpin Harus Ditempa oleh Proses
Dalam podcast Sinkos Indonesia, Budi Arie menekankan bahwa pemimpin tidak cukup hanya memiliki kesempatan atau dukungan politik. Karakter kepemimpinan juga dibentuk melalui pengalaman, terutama ketika seseorang menghadapi situasi yang sulit.
“Semua yang prosesnya keras pasti jadi petarung sejati,” ujar Budi Arie.
Menurutnya, seseorang yang tidak pernah menghadapi tantangan akan kehilangan kesempatan untuk menguji daya tahan dan kemampuannya dalam menghadapi tekanan.
Ia berpandangan bahwa proses yang keras dapat membantu seseorang menjadi lebih matang. Karena itu, perjalanan politik seorang pemimpin sebaiknya tidak dinilai hanya dari keadaan yang terlihat pada satu waktu tertentu.
Pandangan tersebut relevan dalam pembicaraan mengenai regenerasi politik dan posisi generasi muda di panggung nasional. Pemimpin muda memiliki kesempatan untuk terus bertumbuh, tetapi juga dituntut menunjukkan kapasitas melalui tindakan dan tanggung jawab nyata.
Dalam konteks Gibran, tantangan itu tidak berhenti pada kemampuan menghadapi kritik. Keterbukaan dalam menjelaskan persoalan, penghormatan terhadap proses hukum, serta pelaksanaan tugas sebagai wakil presiden juga menjadi bagian penting dari penilaian publik terhadap kepemimpinannya.
Dengan demikian, proses pendewasaan seorang pemimpin bukan semata-mata tentang kemampuan bertahan dari tekanan, melainkan juga tentang kesediaan menjawab persoalan dan mempertanggungjawabkan keputusan maupun pelaksanaan tugasnya.
Bagi Budi Arie, waktu akan memperlihatkan bagaimana seseorang menjalani dan merespons berbagai ujian tersebut.
Lihat postingan ini di Instagram
Belajar dari Perjalanan Politik Prabowo
Budi Arie juga menyinggung perjalanan politik Presiden Prabowo Subianto sebagai contoh tokoh yang tidak mudah menyerah meskipun berulang kali menghadapi kekalahan dalam kontestasi politik.
Ia mengaku mengagumi kegigihan Prabowo yang terus melanjutkan perjuangan hingga akhirnya terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.
“Kenapa saya kagum sama Pak Prabowo? Berapa kali dia maju? Empat lima kali. Dan dia enggak mau nyerah,” ujar Budi Arie.
Budi Arie kemudian mengenang dukungannya kepada Prabowo pada Pilpres 2024. Menurutnya, salah satu hal yang membuatnya memberikan dukungan adalah daya juang Prabowo yang tetap bertahan meskipun pernah mengalami kekalahan dalam pemilihan sebelumnya.
“Saya pada waktu 2024 saya berkata, ‘Saya mendukung Bapak, Pak. Bapak ini petarung.’ Lu bayangin kalah bertanding, kalah, maju terus,” tuturnya.
Bagi Budi Arie, pengalaman Prabowo menunjukkan bahwa perjalanan menuju kepemimpinan tidak selalu berlangsung dalam satu kali kesempatan. Kekalahan dan tantangan dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan langkah berikutnya.
Hal yang menentukan, menurut pandangan tersebut, adalah kemampuan seseorang untuk mempertahankan komitmen, belajar dari pengalaman, dan tetap berjuang menghadapi kesempatan berikutnya.
Pesan itu juga dapat menjadi refleksi bagi generasi muda yang tengah membangun perjalanan politiknya. Perjuangan tidak hanya diukur dari hasil sesaat, tetapi juga dari konsistensi, ketahanan, dan kemampuan menghadapi berbagai ujian.
Waktu Akan Menguji Kualitas Kepemimpinan
Budi Arie menegaskan bahwa daya juang dan daya tahan seseorang perlu diuji oleh waktu. Karakter seorang pemimpin, menurutnya, tidak dapat dinilai hanya berdasarkan situasi yang sedang dihadapi.
“Jadi jangan dilihat hari ini apa, yang penting daya juang, daya tahan. Dan itu harus kita uji oleh waktu. Diuji oleh waktu dan saya yakin kok, biar aja semua, kan waktu mendewasakan kita,” kata Budi Arie.
Pernyataan tersebut menegaskan pandangannya bahwa kepemimpinan merupakan proses panjang yang membutuhkan ketahanan, kemauan untuk terus belajar, dan kemampuan menghadapi perubahan.
Dalam konteks Gibran, perjalanan politik yang masih panjang memberikan ruang untuk membuktikan kapasitas kepemimpinannya. Cara ia merespons kritik, menindaklanjuti persoalan yang muncul, dan menjalankan tugas sebagai wakil presiden akan ikut membentuk rekam jejaknya di mata masyarakat.
Pada saat yang sama, berbagai persoalan yang menjadi perhatian publik tetap perlu dijawab berdasarkan fakta, dokumen, dan mekanisme hukum yang berlaku. Daya juang tidak menghilangkan kewajiban seorang pejabat publik untuk bersikap terbuka dan bertanggung jawab.
Bagi PROJO, pembicaraan mengenai generasi muda juga berkaitan dengan keberlanjutan regenerasi politik nasional. Generasi muda membutuhkan ruang untuk bertumbuh dan membuktikan kemampuan, sementara kepercayaan masyarakat harus dijaga melalui kinerja serta pertanggungjawaban yang nyata.
Pesan Budi Arie menempatkan waktu sebagai bagian penting dalam proses pendewasaan seorang pemimpin. Namun, dalam kepemimpinan publik, kematangan tidak hanya terlihat dari kemampuan melewati berbagai ujian, melainkan juga dari kesanggupan menjalankan amanah, menghormati hukum, dan menjawab harapan masyarakat.***













